Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2024

DIALOG ORANG KAMPUNG : UNYIL DAN GEMBUL

  DIALOG ORANG KAMPUNG : UNYIL DAN GEMBUL Mendadak gerimis yang kecil-kecil itu berubah menjadi hujan yang amat derasnya. “Lihat itu!” Unyil membentak Gembul. “Apa matamu sudah buta? Apa hatimu telah jadi kerikil bengkak? Sejak fajar tadi, alam berbicara amat jelas. Langit yang mendung kini menangis keras. Angin yang sejak tadi menahan perasaannya akan segera berteriak lalu mengamuk. Tanah kita akan tercacah-cacah dan seluruh penduduk akan ditimpa kerundungan; kemurungan hati yang tidak bisa mereka terjemahkan”. “Gembul menyela, nanti saja mengeluh, aku juga sedang pusing”. Unyil badannya memang kecil tapi suaranya lantang. Mirip si miskin yang selalu teriak keadilan. Suaranya besar, tapi tak terdengar. Karena pendengar, cenderung melihat siapa yang berteriak, bukan apa yang diteriakkan. Teriakan itu layaknya dagang, menguntungkan apa tidak, sesuai kepentingan apa tidak. Kalau datangnya dari orang yang dapat memberikan keuntungan yah didengar. Jika tidak, yah pura-pura tu...