“KIAI KAMPUNG: DEMONSTRAN MENULIS, NEGARA MENGHAPUS” "Tetap satu barisan, satu kata: lawan!" Teriak jenderal lapangan. Jamaah aksi yang akbar itu serentak menjawab: "Lawan, lawan, lawan!". Di kerumuman, terlihat juga muka unyil memerah, terpapar matahari, diperparah oleh gas air mata. Unyil, gembul dan umar; mereka berada di garis tengah di antara para pengunjuk rasa. Mereka bertiga jadi bagian besar - membesarkan gelaran demo awal September ini. Lebih besar dari 98 ?. Mungkin iya. Tragedi kali ini dapat dikatakan lebih besar dari 98, ia tidak terpusat di jantung Jakarta. Melainkan di saraf kaki-kaki wilayah yang bisa melumpuhkan tubuh satu negara. Semua bermula dari kemarahan yang seakan menemukan tubuhnya. Kemarahan yang muncul akibat dari pembiaran: di mana penderitaan sebenarnya bisa diatasi namun sengaja dibiarkan. "Mundur.... lari.... ", teriak barisan depan. Ribuan wajah-wajah muda berlarian. Pandangan gelap, nafas putus-putus, mulut...
Being human is given, but keeping our humanity is a choice https://gudanglentera.blogspot.com/