Kiai
Kampung: Unyil Bicara, Negara Tutup Telinga
Sebenarnya, hari-hari akan jadi kemalasan bagi yang mempunyai alasan. Sebaliknya, hari-hari akan jadi novelty (kebaruan) bagi yang mempunyai alasan untuk menemukan.
Malam itu, Rabu 20 Agustus 2025, kita juga memiliki waktu luang sepenuhnya, yang bisa saja digunakan untuk menatap lama telfon genggam: melihat foto dan video shorts. Kita dapat pula berjalan-jalan untuk sekadar menangkap suara sandal dan sepatu di alun-alun Nunukan. Dapat pula kita gunakan waktu malam itu untuk berkeliling dengan mobil dan motor yang kita punya - memotret sekeliling - sesekali memperhatikan bagaimana orang di sekitar kita menarik napasnya. Kita juga bisa menjadi sebagian perempuan - cantik - yang siap dicumbu sementara yang lain tenggelam dalam pekerjaan dapur. Lalu kita boleh menjadi lelaki-lelaki muda: menikmati perjalanan demi perjalanan dan kemudian ditukar dengan istirahat yang sejuk setiap malamnya.
Atau kita memilih menjadi sebahagian lagi, berkumpul – sibuk. Alasannya selalu: mengenal negerinya ialah mengenal pengetahuan atau sebaliknya. Mereka adalah kelompok yang sering memberikan komentar tentang mesin-mesin pasar, ideologi, strategi, analisis, ekonomi, sosial – politik, Agama dan Kiri, termasuk mengomentari “makhluk dungu yang membosankan”. Mereka dewasa ini, dianggap kelompok asing. Kelompok kecil di Nunukan yang setia pada nalar intelektual. Meskipun tidak semua dari mereka fasih dan memiliki fungsi sosial sebagai intelektual dalam masyarakat – mungkin belum saat ini – tapi seiring pendewasaan pengetahuan, mereka akan bermuara ke arah sana.
Namun, di tengah situasi kekinian: gaul adalah baju bermerk, keren adalah sepatu branded, ganteng adalah baju dan celana - tergantung tinggi harganya. Digempur budaya apatis, manusia berevolusi dari homo sapiens menjadi homo digitalis, pun digempur oleh iman dalam agama yang hanya peduli hubungan trasenden antara hamba dan Tuhannya. Maka memilih jalan intelektual bukan saja membuat kita semakin kesepian - sejenis perasaan tak terjelaskan - semacam kehilangan atau kita seolah sedang menempuh perjalanan jauh yang tak akan sampai.
Berjalan disituasi kota seperti itu kadang-kadang oleh kita terasa sedang menuruti apa yang diinginkan orang lain, bukan kita. Seperti kita sedang hidup dalam nilai orang-orang, bukan nilai kita.
Seperti matahari yang mengucapkan selamat sore, ia memberikan senja – janji keindahan bagi mereka: cahaya kuning, jingga nan indah. Padahal ia tak bisa dimiliki, hanya beberapa jam saja untuk dinikmati. Meski begitu tetap saja ia dicari. Mungkin begitulah nikmatnya – jalan sunyi – yang dimaksud, sehingga tetap saja mereka memilih jalan tersebut.
***
Alun-Alun Nunukan malam itu terbelah dua. Di tengah: para lelaki muda dan perempuan muda berkumpul, bercerita, bertukar uang dengan segelas kopi dan camilan. Di pojokan, sedikit gelap, berkumpul juga para lelaki dan perempuan muda – tidak seramai di tengah, dan memang begitulah jalan sunyi yang dimaksud. Mereka terlihat sibuk, menyusun kursi dan meja, menyiapkan konsumsi juga. Sebagian lagi menjadi teknisi suara dan layar, dan sebagian lagi menjadi ahli komunikasi menyambut peserta dan pembicara.
Malam itu, mereka memilih dilahirkan kembali. Di sini: Perpustakaan Daerah Nunukan. Mereka menyambut kelahiran dengan merapatkan gandengan. Beberapa di antara mereka bertanya tentang perasaan masing-masing.
“Bagaimana perasaanmu?”
“Persis seperti engkau, aku merasa seperti dilahirkan kembali” jawab teman lainnya.
Mengapa mereka merasa begitu?
Itu dikarenakan hubungan mereka dengan masa lalu terputus. Malam itu mereka sama-sama memprogram ulang - manusia baru - yang tak mereka kenali sebelumnya. Dan bukan hanya persoalan perasaan. Tetapi pikiran dan perbuatan sungguh-sungguh baru. Dan itu adalah diri mereka sendiri.
30 menit lamanya unyil menyaksikan
itu semua, sembari mencatat apa yang ia lihat.
Unyil di sapa panitia: “tidak ada yang ditunggu lagi bang, mari kegiatan akan dimulai”.
Unyil bangkit, menyambar buku dan pulpen. Dua benda itu seperti topi dan tongkat bagi unyil: memperlihatkan bahwa ia serius. Topi menjaga kewarasan kepalanya dan tongkat menjadi peyanggah ketegasan bicaranya.
Tanpa ragu-ragu: orang baik ialah yang tahu berterima kasih dan memang setiap orang layak mendapatkan terima kasih.
“Terima
kasih de” ucap unyil sedikit gagap. Sembari maju ke depan, dimana kursi dan
meja pembicara telah disiapkan.
***
“Unyil pak, Unyil pak”. Ucap unyil ketika menyalami dua pembicara
yang lain.
Pembicara dengan pengalaman mentereng dihadirkan. Kepala Bappeda
dan Litbang Nunukan dan Bung Saddam Husain DPRD Nunukan dengan latar belakang
aktivis Senior – kota dan desa. Lalu unyil sendiri pembicara terakhir, anak
kampung yang punya cita-cita besar, meski anak kampung ia selalu percaya langit
kita tidak sama mendung.
Setelah menyimak penyampaian dua narasumber, tibalah giliran
unyil.
“Apa lagi yang kupikirkan?”
”Tidak ada lagi!”
“Lupakanlah, kecuali bahwa kita hidup – untuk diri sendiri dan
orang lain”.
Malam itu unyil telah mantap membicarakan sesuatu yang beresiko,
seperti membuka pakaian lalu menahan dingin dalam telanjang.
Uyil memulai pembahasan dengan mengajak hadirin menatap Nunukan
dalam dua wajah: utopia atau distopia. Sebuah pilihan imajiner, namun menyimpan
kenyataan yang kerap kita rasakan sehari-hari. “Alam yang maha pemurah
sebenarnya memberikan makan untuk warganya, namun manusia yang kuasa justru
sebaliknya: meminta makan melalui warganya”.
Mari kita rujuk tema diskusi malam hari ini: Diskusi Kemerdekaan –
Tema: Peran Pemuda Dalam Pembangunan Daerah. Dilaksanakan oleh KNPI Nunukan.
Unyil mulai dengan kemerdekaan. Menurutnya, kemerdekaan membawa
janji akbar. “Telah sampailah kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia
yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Inilah janji akbar
tersebut. Maka sepanjang wujud itu belum kita temui dan rasakan, kemerdekaan
masih jauh secara subtansi.
Unyil mengingat kejadian dua hari lalu: Kurang merdeka apa seorang
pemuda di ujung empang sungai mentri. Ia sedang berjuang mendirikan dengan
tegak sebatang bambu yang di ujungnya terikat bendera merah putih?. Setiap 17
Agustus, hal seperti itu telah terdrive di kepalanya - menjadi kebiasaan tanpa
diperintah negara sekalipun. Nampaknya ia menjadi seperti ideologi: diam-diam,
hidup senyap, dalam praktik sehari-hari. Kejadian semacam ini bukti luhur ia
menghormati pejuang masa lalu. Dan perlu dipertanyakan secara serius kapan
pejuang masa kini dihormati demikian?
Disaat penguasa begitu rajin menuding warga negara sedang
mengalami krisis nasionalisme, justru anak muda itu mempertontonkan praktik
kemerdekaan yang paling jujur nan luhur.
Penguasa selalu menuding: “Anak muda kehilangan jiwa kemerdekaan,
nasionalisme warga mulai terkikis”. Kalimat yang direpetisi berkali-kali sampai
kita bosan dan muak mendengarnya. Sementara dari ruang-ruang elit kekuasaan,
kita justru membaca berita – secara bergiliran – korupsi bergantian: dari menteri,
petinggi BUMN hingga elit-elit partai negara ini.
Unyil menyapa peserta diskusi:
“Tak pernah jelas nasionalisme macam apa yang dianggap hilang dari
kita?”
“Atau nasionalisme macam apa yang harus kita miliki menurut versi
penguasa?”
Sementara, perhatikan. Kita perlu jujur pula, dari gerbong (baca:
penguasa) yang paling nyaring teriak merdeka justru tak menampakkan sedikitpun
bentuk kongkret dari nasionalisme dan kemerdekaan kecuali memperlihatkan
perilaku korup yang melumpuhkan sendi-sendi nasionalisme.
“Teman-teman sekalian”. Ucap unyil lirih. Namun nanar matanya
penuh tatap benci.
“Mungkin saja para penguasa melihat nasionalisme dalam bentuknya
yang paling klise: cinta dan loyal tanpa batas pada tanah air. Hal itu tidak
salah. Hanya saja, mereka perlu diingatkan juga, bahwa kita harus membedakan
dengan jelas antara loyal pada bangsa dan loyal pada pemerintah; antara
mencintai kekuasaan atau mencintai tanah air. Dua hal ini sangat jauh berbeda.
Paradigma yang kemudian mengatur cara kita bersikap. Cinta kekuasaan: Korupsi.
Cinta Tanah Air : berpihak pada rakyat.
Melayangkan kritik di bulan kemerdekaan, sama saja. Respon
pemerintah agak lain – memilih jalan lain: membenturkan ekspresi itu dengan
nasionalisme.
Unyil berharap kita kemudian tidak dangkal memahami nasionalisme,
hanya sebatas siapa yang setia dan tidak setia pada negara ini. Tidak memahami
dengan dangkal bahwa mengkritik pemerintah disamakan dengan tidak mencintai
tanah air, yang kebetulan gelombang protes membuncah di bulan kemerdekaan.
Kalaupun rakyat sering diragukan kemerdekaannya. Ketahuilah,
rakyat tetap bangga dan setia hidup di tanah air ini dan telah puluhan tahun
lamanya. Mereka beranak pinak, bercucu-cicit meski diapit kepedihan hidup
sehari-hari: pajak, kebutuhan sandang, pangan dan papan yang sulit, kebingungan
mencari pekerjaan dan bagaimana mengubah nasib yang suram ini. Lalu mari kita
bertanya; “dengan hidup yang serba sulit dan menyedihkan itu, pantaskah lagi
rakyat dituding oleh penguasa bahwa mereka tidak nasionalis?”
Unyil melanjutkan, ia mengutip Anderson.
“Anderson pernah menegaskan, rakyat adalah inti bangsa, sedangkan
pemerintah hanyalah representasinya. Secara konseptual, keduanya setara dalam
imajinasi kebangsaan. Namun dalam kenyataan, kesetaraan itu mudah terdistorsi.
Ketimpangan sering lahir, dan di situlah persoalan bermula. Dari titik itulah
kita perlu menimbang, bagaimana membangun counter hegemony—sebuah kesadaran
tanding—agar kita tidak terlena dalam buaian kuasa yang hegemonik. Sebab, kata
Gramsci, hegemoni itu meninabobokkan. Ia seperti mabuk: membuat langkah gamang,
tubuh terhuyung, jiwa rapuh—tetapi anehnya kita menikmatinya seolah bukan
masalah.
Berangkat dari mengungkap konteks, unyil lanjut menjelaskan teks –
mengutip tokoh pemikir dunia. Ini bukti, unyil serius menggeluti diskusi malam
ini. Baginya, cerita demi cerita bukan main-main. Kita diciptkan dengan mulut
sehingga tidak perlu lagi diajari cerita, namun kita juga diberikan akal untuk
tahu apa yang perlu dicerita dan tidak.
Lebih jauh unyil menekankan pula: rakyat dan pemerintah tidaklah
otomatis setara. Rakyat selalu berada di posisi paling luhur, sedangkan
pemerintah hanya bagian dari relasi kuasa yang saling berkait. Jika pemerintah
tampil hegemonik, maka rakyat sesunggunya punya hak—bahkan kewajiban—untuk
melawan dengan hegemoni balik.
Unyil membayangkan bahwa rakyat dan pemerintah menyepakati istilah
“kontrak sosial”. Bahwa segala bentuk kebijakan, regulasi dan undang-undang
bukan sekadar teks kering; ia sakral karena menentukan nasib rakyat. Dari
kebijakanlah hak bisa diterabas, privasi dipublikasikan, batas dilanggar dan
rakyat disengsarakan. Namun dari hal itu pula bunga bisa dimekarkan,
kebahagiaan dibagi rata, keadilan diberikan tanpa kelas, serta hal baik lainnya
diberikan. Maka, setiap kebijakan harus lahir dari kesadaran kolektif, dari
potensi, perasaan, hingga pertimbangan yang hidup dalam masyarakat. Kebijakan
semestinya menjadi jalan bagi kebahagiaan, kesejahteraan, dan keamanan
rakyat—bukan sekadar gimmick yang meninabobokan, tegas unyil.
“Teman-teman sekalian”
Izinkan saya mengajukan pertanyaan sederhana: dari semua hal yang
telah kita bicarakan, sejauh mana kesadaran kita sudah terbangun? Dari skala
satu sampai sepuluh, kita ada di angka berapa? Dua? Jika demikian, apakah
rendahnya kesadaran ini semata karena pendidikan kita rendah?. Saya kira tidak.
Sebab ada banyak orang berpendidikan rendah namun memiliki kesadaran tinggi;
sebaliknya, banyak pula orang berpendidikan tinggi namun miskin kesadaran.
Kesadaran sejatinya bukan soal ijazah, melainkan soal keberanian
berpikir. Tanpa kesadaran, kita bisa terjebak menjadi Homo Sacer: warga negara
yang kehilangan hak-haknya. Dalam perspektif sosiologi, kita akan jatuh menjadi
kaum subaltern, yaitu mereka yang terpinggirkan. Maka pertanyaan selanjutnya
mesti kita renungkan: apakah kita sedang dipinggirkan secara kultural,
personal, atau struktural?
Kesadaran semacam ini, jika dirawat, akan tumbuh menjadi kesadaran
kolektif. Kesadaran yang menyatukan meski kita tak saling mengenal. Dari sana
lahirlah narasi bersama: apakah kita ingin menjadi bangsa bahagia, atau bangsa
yang sengsara. Yang terpenting, narasi kolektif itu ada, hidup, dan tumbuh di
tengah-tengah kita.
Mendekati dua jam berbicara, unyil sadar ia mendekati akhir
diskusi, maka unyil sampaikan:
“Teman-teman sekalian, pendekatan dialogis seperti ini harus
dirawat. Hasilnya memang tidak instan—mungkin baru terasa 20 atau 30 tahun
lagi. Tetapi mari kita belajar dari Revolusi Prancis: ia bermula bukan dari
senjata, melainkan dari cerita-cerita dan percakapan panjang lalu kemudian
lahir gerakan. Seperti kata Emha Ainun Nadjib dalam Arus Bawah: “percayalah,
dari diskusi akan lahir pikiran dan gerakan revolusi.”
Maka pesan saya kepada para pemuda dan teman-teman sekalian: mari
kita mulai kerja-kerja advokasi. Ada yang turun ke jalan, ada yang melobi, ada
yang menyiapkan amunisi dan gagasan, ada yang meneliti, ada yang menggelar
diskusi. Semua jalan itu penting untuk kita asuh. Dari kerja-kerja itulah lahir
kesadaran, lalu kemampuan, kemudian gerakan, dan akhirnya perubahan.
Sebagai penutup, unyil mengkutip kisah dalam roman De Drie
Musketiers karya Alexandre Dumas, yang mengisahkan feodalisme Prancis pada masa
Raja Louis XIV. Dari sana unyil belajar bahwa para bangsawan sejati adalah
mereka yang berpegang pada adagium kuno: noblesse oblige—“seorang bangsawan
sejati memiliki tanggung jawab luhur, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada
sesama manusia.”
Sebuah pengingat bagi kita, bahwa keluhuran bukanlah soal darah
dan gelar, melainkan soal keberanian memikul tanggung jawab kemanusiaan.
Unyil menutup dengan salam, menyapa peserta dan moderator. Dan
bersiap mencatat pertanyaan dari peserta diskusi

Komentar
Posting Komentar