Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Mungkinkah Iman Tertinggal di Altar Sembah

Mungkinkah Iman Tertinggal di Altar Sembah Oleh: Suriadi Ada ungkapan yang sering disandarkan pada sosok Hubert Reeves (1932-2023). Seorang astrofisikawan dan penulis. Juga pemopuler sains terkemuka asal Kanada-Prancis. Begini bunyi ungkapan itu: "Manusia adalah spesies paling gila. Mereka menyembah Tuhan yang tidak terlihat dan menghancurkan alam yang terlihat, tanpa menyadari bahwa alam yang mereka hancurkan adalah ciptaan Tuhan yang mereka sembah" Hemat saya, ungkapan di atas sangat "masuk". Kalimat yang bagi saya mampu mengoreksi bilik iman manusia. Bahwa terdapat sesuatu yang janggal dalam cara manusia menjalani imannya, saat ini. Sehingga, dalam beberapa kesempatan pidato. Kerap juga saya sampaikan kalimat yang kurang lebih nafasnya sama: "betapa disaat berbuat kebaikan kita yakin Tuhan melihat kita, tapi kenapa sewaktu berbuat keburukan kita seolah yakin pula bahwa Tuhan itu maha buta". Bangganya kita menyebut diri ini beriman. Bahkan pada tahap ter...

Menulis dan Kedalaman Pesan

Menulis dan Kedalaman Pesan Oleh: Suriadi Meminjam kalimat sahabat jauh, Albert Camus, “tidak memberi tahu adalah tindakan yang tidak bermoral.” Kalimat yang terasa sederhana, nyaris seperti nasihat biasa. Tapi kalau diperhadapkan pada pengalaman menulis, sejurus ia berubah. Menjelma semacam beban etik: bahwa apa yang kita tahu, rasakan, dan dipahami, punya tanggung jawab untuk disampaikan. Dengan begitu, bagi saya menulis adalah cara menunaikan kewajiban, disamping ia adalah aktivitas kreatif. Saya mengingat satu fase yang jauh, tertanam begitu dalam dan tidak benar-benar hilang. Semester dua, tahun 2016, di STAI Al-Gazali Bulukumba. Di sanalah saya mulai serius menulis. Tidak ada yang istimewa dari awalnya. Hanya dorongan kecil dari dalam. Memahami sendiri: adalah dunia ini terlalu ramai untuk dibiarkan lewat begitu saja. Entah terlalu naif atau tidak. Tapi waktu itu hampir semua hal terasa layak ditulis. Percakapan ringan, potongan cerita teman, atau bahkan suasana siang yang biasa....

Masjid Syekh Yusuf Gowa, Idul Fitri dan Tabiat sampah

  Masjid Syekh Yusuf Gowa, Idul Fitri dan Tabiat sampah Oleh: Suriadi Pagi ini, saya melihat video di platform informasi KabarMakassar. Di pelataran Masjid Syekh Yusuf, selepas shalat Idul Fitri 1447 H/2026 M. Seolah tidak ada yang tersisa dari bekas sujud dalam diri manusia Islam di sana, selain hanya koran bekas yang menumpuk, tisu dan botol plastik yang berserakan. Bukan sedikit, banyak menggunung. Tabiat itu, membuang dan membiarkan sampah, layak disebut keterlaluan. Bayangkan, semakin ke sini, tingkah itu makin berani, masjid juga telah ia sampah, bahkan itu terjadi di hari di mana seharusnya mereka merayakan kesucian dirinya. Saya menaruh curiga, boleh jadi, nanti, manusia pun akan disampahinya tanpa pikir. Kita terbiasa memaknai Idul Fitri sebagai “kembali suci”. Namun mungkinkah, karena terbiasanya itulah hingga semuanya kian dianggap biasa. Lalu, sebetulnya, ke sucian macam apa yang kita maksud. Benarkah kita paham kesucian yang sedang kita cari itu seperti apa bentuk...

Pelbagai Kisah Menjadi Rakyat

  Rakyat. Siapapun yang serius mendalami perannya sebagai rakyat, pasti paham betul, gusi telah kering berjuang hidup di negara ini.  Mengawali tulisan ini, saya pinjamkan pikiran Cak Nun, "rakyat sanggup hidup tanpa penguasa, tetapi tak sebiji penguasa pun yang pernah sanggup hidup tanpa rakyat". Kalimat ini, barangkali sedang berupaya mengubah asumsi yang telah menggurita, anggapan negara adalah pusat, dan rakyat berada di pinggirannya.  Mirip yang belakangan menjadi perbincangan, kekuasaan terlihat seperti sesuatu yang kokoh, hampir otonom, seolah ia punya daya hidupnya sendiri. Padahal, jamak kita baca di buku perjuangan bangsa: tidak ada kekuasaan tanpa rakyat yang, sadar atau tidak, memberinya ruang untuk berdiri. Selain itu, pernyataan Cak Nun ini, membuka ruang dialog: kalau betul rakyat bisa bertahan tanpa kehadiran negara yang efektif, untuk apa sebenarnya kekuasaan itu dipertahankan? Dalam kenyataan sehari-hari, rakyat memang sudah lama berlatih hidup dalam ket...

Rakyat, miskin, dituduh pula

Rakyat, miskin, dituduh pula Belakangan ini, kita musti merasa ganjil saat mendengar pejabat atau pengamat bicara soal "kualitas SDM Indonesia yang rendah". Bukan apanya, yang mengherankan adalah, hal itu biasanya diijadikan alasan kenapa kita tidak maju-maju.  Semacam mantra sakti. Narasi itu diputar berulang kali. Menghipnotis kita untuk memaklumi segala ketertinggalan bangsa ini, adalah akibat kita yang bodoh.  Kalau ekonomi mandek atau birokrasi berantakan, dianggaplah itu murni dosa rakyat yang kurang pintar. Kurang kompeten atau tidak siap pakai. Meskipun, saya masih ada kesyukuran, karena rakyat belum dianggap impoten oleh mereka. Oleh karena itu, narasi menyangsikan harus dibekal. Motif curiga musti kita dahulukan. Apa mungkin, label "SDM rendah" ini sebenarnya merupakan tabir asap yang didesain sedemikian rapinya untuk menyembunyikan rakusnya pengelolaan ruang publik oleh segelintir elit.  Meminjam pikiran Pierre Bourdieu. Boleh jadi, hal itu adalah kekeras...