Menulis dan Kedalaman Pesan
Oleh: Suriadi
Meminjam kalimat sahabat jauh, Albert Camus, “tidak memberi tahu adalah tindakan yang tidak bermoral.”
Kalimat yang terasa sederhana, nyaris seperti nasihat biasa. Tapi kalau diperhadapkan pada pengalaman menulis, sejurus ia berubah. Menjelma semacam beban etik: bahwa apa yang kita tahu, rasakan, dan dipahami, punya tanggung jawab untuk disampaikan.
Dengan begitu, bagi saya menulis adalah cara menunaikan kewajiban, disamping ia adalah aktivitas kreatif.
Saya mengingat satu fase yang jauh, tertanam begitu dalam dan tidak benar-benar hilang. Semester dua, tahun 2016, di STAI Al-Gazali Bulukumba. Di sanalah saya mulai serius menulis. Tidak ada yang istimewa dari awalnya. Hanya dorongan kecil dari dalam. Memahami sendiri: adalah dunia ini terlalu ramai untuk dibiarkan lewat begitu saja.
Entah terlalu naif atau tidak. Tapi waktu itu hampir semua hal terasa layak ditulis. Percakapan ringan, potongan cerita teman, atau bahkan suasana siang yang biasa. Saya pernah mendengar curhatan, lalu entah bagaimana, ia berubah menjadi satu kalimat: “ahh sudahlah, nanti akan ku baca lagi lekuk alis di antara desir daun kelapa siang itu.”
Kalimat itu mungkin tidak penting bagi siapa-siapa. Tapi bagi saya, ia adalah bukti bahwa pengalaman—betapapun sederhana—punya kemungkinan untuk hidup lebih lama lewat tulisan.
Dari sanalah saya ingin bercerita lebih serius. Menulis di masa itu tidak semudah hari ini. Dulu saya merasakan betul bagaimana dituntut untuk tenggelam. Buku-buku harus dibaca, bukan hanya dibuka. Pikiran harus diajak berdebat, bukan cuman diisi. Diskusi menjadi ruang untuk menguji apa yang kita yakini, sebelum akhirnya dituangkan ke dalam tulisan. Dan tahu tidak, proses itu tidak gampang.
Satu tulisan bisa memakan waktu seminggu, kadang lebih. Bukan karena tidak ada ide, tapi karena ide tidak langsung menemukan wujud idealnya. Ia lebih dulu perlu dipaksa, ditahan, diuji, kadang juga diragukan. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada tombol yang bisa ditekan untuk mempercepat proses. Satu-satunya yang bisa diperintah hanyalah diri sendiri. Agar diri bersedia duduk lebih lama, berpikir lebih dalam, dan bertahan lebih sabar.
Dalam proses yang sedemikian rumit itu. Di situ juga saya mulai memahami bahwa menulis adalah proses membentuk kedalaman.
Kita tidak perlu terburu-buru melahirkan teks, sebab bernyawanya suatu teks, dapat dilihat dari kedalaman pikiran. Pun rasa.
Selain itu anda perlu siap menzakatkan waktu. Bukan untuk durasinya, namun ada proses untuk membangun ruang di mana gagasan akan mengalami pengendapan. Semakin lama ia tinggal, semakin matang ia keluar. Herbal terbaik, melewati tahap fermentasi. Bumbu terbaik pun demikian. Minuman anggur terlezat juga sama.
Hari ini, situasinya berubah drastis. Menulis tidak lagi identik dengan proses panjang. Kecepatan menjadi nilai baru. Dalam hitungan detik, sebuah ide bisa langsung menjadi paragraf yang rapi. Struktur tersedia. Bahasa bisa diatur. Bahkan kedalaman pun bisa “ditiru” secara meyakinkan.
Di satu sisi, ini membuka kemungkinan. Banyak orang yang sebelumnya tidak punya akses atau keberanian untuk menulis, kini bisa mulai. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang perlahan menghilang, yaitu jarak antara pikiran dan tulisan.
Dulu, jarak itu panjang. Di dalamnya ada pergulatan, keraguan, bahkan kebuntuan. Sekarang, jarak itu nyaris lenyap. Apa yang terlintas bisa langsung menjadi teks.
Masalahnya, tidak semua yang cepat itu benar-benar matang. Tidak semua yang rapi itu lahir dari pemahaman. Maka nanti, akan kita temukan, penulis yang tidak bisa menjelaskan isi tulisnya. Atau bahkan lebih parah, tidak memahami isi tulisannya sendiri.
Di kawasan itu, sebetulnya yang kita butuhkan adalah "kedalaman pesan”. Karena itulah nyawa tulisan.
Pendapat ini, kita boleh berbeda. Pembaca boleh tidak sepakat. Dan sebelum kita ke sana (ketidaksepakatan), saya lontarkan pertanyaan. Kalau bukan "kedalaman pesan". Lalu apa yang membuat sebuah tulisan terasa dalam? Apakah panjangnya? Referensinya? Atau kerumitan bahasanya?
Barangkali bukan itu semua.
Kedalaman hanya mungkin lahir dari sesuatu yang tidak terlihat di permukaan. Saya menyebutnya proses yang jujur. Ketika penulis benar-benar bergulat dengan apa yang ia tulis, maka pembaca bisa merasakannya, meskipun tidak tahu prosesnya. Di wilayah itu, ada semacam jejak yang tertinggal dalam kalimat, yaitu pengalaman berpikir si penulis.
Bagi saya, itulah yang membuat tulisan memiliki “harga”. Bukan dalam arti ekonomi. Tapi nilai yang melekat pada prosesnya. Ada waktu yang dikorbankan. Ada energi yang dihabiskan. Dan di bagian akhir, ada separuh dari diri yang ikut tertuang di dalamnya.
Ketika tulisan itu selesai, lalu dibaca orang lain, ditanggapi, atau dikritik, di fase itulah muncul rasa yang sulit dijelaskan. Bukan bangga. Tapi kepuasan yang datang dari kesadaran bahwa sesuatu yang kita olah dengan serius akhirnya sampai ke orang lain.
Dan mungkin, di situlah makna kalimat Camus. Menulis tidak serendah paham kita, hanya soal menyampaikan. Menulis itu tinggi, ia tentang bagaimana kita sampai pada apa yang kita sampaikan. Jika prosesnya dangkal, pesan yang lahir pun mudah menguap. Jika prosesnya dalam, bahkan kalimat sederhana bisa bertahan lama.
Kini, di tengah segala kemudahan hari ini, bagi saya menulis tetap menyisakan pilihan: apakah kita hanya ingin cepat, atau benar-benar sampai. Karena diakhir nanti, percayalah, bukan saja banyaknya tulisan yang menentukan, melainkan seberapa jauh sebuah tulisan mampu membawa pembacanya. Dan itu hanya mungkin, jika penulisnya sendiri pernah berjalan cukup jauh di dalam pikirannya.

Komentar
Posting Komentar