Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Muhammad dan Cita-Cita Masyarakat Tanpa Kelas

Muhammad dan Cita-Cita Masyarakat Tanpa Kelas Oleh: Suriadi Saat mendengar istilah masyarakat tanpa kelas, sebagian dari kita mungkin langsung teringat pada sosiolog klasik, Karl Marx dan tema sosialisme. Padahal, jika ditelisik ke belakang, akan kita temukan bahwa jauh sebelum teori-teori itu lahir, ternyata Islam melalui Muhammad telah membawa gagasan yang lebih kurangnya bernafas sama, egalitarianisme. Yang dengannya pula Muhammad mampu mengguncang fondasi masyarakat Arab pada masanya. Kala itu, Muhammad membawa risalah kesetaraan di mana manusia tidak boleh dinilai berdasarkan keturunan, suku, warna kulit, atau kekayaannya. Yang pada gilirannya, ajaran ini mengawali babak baru masyarakat Arab. Gagasan ini lahir dalam situasi sosial yang bertensi tinggi. Mekkah abad ketujuh diisi masyarakat dengan mekanisme hierarki yang ketat. Bangsawan Quraisy menduduki puncak, menguasai politik dan perdagangan, serta simbol-simbol kehormatan. Di lapisan terbawah ada budak, orang miskin, pendatang...

Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang

  Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang Oleh: Suriadi Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya. Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia. Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan. ...

Politik Meme

Politik Meme Oleh: Suriadi Hari-hari ini terpotret percakapan politik yang semakin ramai. Di media sosial berkelindan komentar, satire, meme, video pendek, dan berbagai bentuk ekspresi politik lainnya. Isu publik menyebar dalam hitungan detik. Pernyataan pejabat dipantau banyak mata, disimak banyak telinga, apa yang diucap pada pagi hari dapat berubah menjadi bahan olok-olok nasional sebelum malam tiba. Ia nya pun akhirnya mematahkan anggapan bahwa generasi kekinian apatis terhadap politik. Dikuatkan oleh rilis survei Litbang Kompas (2021-2024) yang memaparkan data melek politik generasi Z dan Y berada diangka 56%. Dan pelbagai keriuhan itulah suaranya, yang menandakan mereka sebetulnya tidak meninggalkan politik, mereka hanya bergeser ke ruang politik yang berbeda. Terma paling dekat untuk menjelaskannya lebih lanjut, barangkali adalah politik berpindah ke layar. Dan di sana lah juga kritik publik mengalami pergeseran. Dalam arti, minat publik cenderung meninggalkan kritik dalam bentu...

Negeri Para Penafsir Takdir

Negeri Para Penafsir Takdir Oleh: Suriadi Konon, di sebuah negeri yang penduduknya sangat religius, ada satu kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Mereka gemar menjelaskan hampir semua hal dengan takdir. Jika hujan tak kunjung turun, itu takdir. Jika hujan turun terlalu lama, itu juga takdir. Jika panen gagal, takdir sedang bekerja. Jika panen berhasil, takdir sedang tersenyum. Pendek kata, takdir menjadi pegawai paling sibuk di negeri itu. Sementara manusia tampak cukup santai. Suatu hari mata uang negeri itu jatuh. Meskipun tidak sampai menimbulkan bunyi keras, namun cukup membuat para pedagang mengubah harga, para ibu meninjau ulang daftar belanja, dan para bapak menimbang jumlah gula dalam kopinya. Penuntut ilmu yang digawangi para pemuda dari negeri itupun terdampak lakunya. Di kampung seberang, mereka mulai menghitung ulang belanja bulanan. Situasi yang menyebalkan, dan o rang-orang membicarakannya di mana-mana. Dan yang menyita perhatian dari percakapan mereka, ialah bagaima...

Dari Profesor ke Proyek Triliunan

Dari Profesor ke Proyek Triliunan Oleh: Suriadi Mari menepi sejenak, melihat perjalanan Prof. Dadan Hindayana. Sebelum dikenal publik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Prof. Dadan adalah seorang akademisi dan pakar entomologi dari Institut Pertanian Bogor, yang membangun reputasinya melalui riset di laboratorium, dan publikasi ilmiah.  Kariernya tumbuh dalam tradisi akademik yang menjunjung data, metode, dan argumentasi ilmiah. Namun, sekilas semua itu berubah, saat negara memanggilnya menahkodai Badan Gizi Nasional (BGN), lembaga yang mengelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG), program sosial terbesar dengan nilai anggaran yang mencapai ratusan triliun rupiah. Pekan ini, perjalanan itu memasuki babak yang mengejutkan. Hanya dalam kurun waktu 32 jam, nasib Dadan Hindayana terjungkir. Selasa 2 Juni 2026 sekitar pukul 09:30 pagi, ia masih menyambut Presiden di SPPG Palmerah, Jakarta. Menjelang siang, Dadan kembali mendampingi Prabowo meninjau pelaksanaan Program MBG di Seko...

Ke mana Moncong Pesawat, Ke sana Arah Pendidikan

Ke mana Moncong Pesawat, ke sana Arah Pendidikan Oleh: Suriadi Ingatkah dulu, sewaktu kita kecil, kita punya kebiasaan unik. Setiap kali melihat orang baru yang menurut kita keren, kita langsung meniru semuanya. Kalau yang datang pemain bola, mendadak ingin jadi striker. Kalau yang datang tentara, esoknya berjalan tegap sembari membawa kayu seperti senapan. Kalau yang datang penyanyi, tetiba menyisir rambut dan merasa diri artis. Dan biasanya, kebiasaan begini tak pernah bertahan lama. Karena yang ditiru bukan tujuan hidup orang-orang itu. Tak lebih hanya penampilannya, dan atribut lain yang menempel pada mereka. Entah mengapa, saya ingat kelakuan itu. Dan belakangan, menemukan kebiasaan serupa dalam kehidupan berbangsa. Publik baru saja mendengar pentingnya pengajaran bahasa Portugis setelah Presiden berkunjung ke Brasil. Tak lama kemudian, muncul lagi gagasan perlunya memperluas pembelajaran bahasa Prancis setelah kunjungan ke Prancis. Menanggapinya, respon publik terpecah, separuh m...