Langsung ke konten utama

Negeri Para Penafsir Takdir




Negeri Para Penafsir Takdir

Oleh: Suriadi

Konon, di sebuah negeri yang penduduknya sangat religius, ada satu kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Mereka gemar menjelaskan hampir semua hal dengan takdir.

Jika hujan tak kunjung turun, itu takdir. Jika hujan turun terlalu lama, itu juga takdir. Jika panen gagal, takdir sedang bekerja. Jika panen berhasil, takdir sedang tersenyum. Pendek kata, takdir menjadi pegawai paling sibuk di negeri itu. Sementara manusia tampak cukup santai.

Suatu hari mata uang negeri itu jatuh. Meskipun tidak sampai menimbulkan bunyi keras, namun cukup membuat para pedagang mengubah harga, para ibu meninjau ulang daftar belanja, dan para bapak menimbang jumlah gula dalam kopinya. Penuntut ilmu yang digawangi para pemuda dari negeri itupun terdampak lakunya. Di kampung seberang, mereka mulai menghitung ulang belanja bulanan.

Situasi yang menyebalkan, dan orang-orang membicarakannya di mana-mana. Dan yang menyita perhatian dari percakapan mereka, ialah bagaimana cara orang-orang di negeri itu menjelaskan kejatuhannya.

Sebagian mencoba mencari sebab. Mereka menaruh curiga pada perdagangan, utang, investasi, situasi geopolitik, dan berbagai istilah yang terdengar rumit dan mengundang migran.

Sebagian yang lain memilih jalan yang lebih pendek. "Itu ujian." Kalimat yang sangat sederhana, hingga dapat dipakai untuk menjelaskan pelbagai urusan di negeri itu. Harga naik? Ujian. Lapangan kerja sulit? Ujian. Hidup terasa berat? Ujian. Dan seterusnya. Pokoknya, apapun situasinya, semua dijawab dengan ujian.

Mula-mula kalimat itu terdengar menenangkan. Lama kelamaan, tiba gilirannya, ada seorang pemuda yang mulai merasa jomplang dengan pola ini. Ia memperhatikan, setiap kali seseorang bertanya mengapa keadaan memburuk, jawaban yang muncul selalu sama. Ujian.

Pun setiap kali seseorang mempertanyakan keputusan para penguasa, jawabannya juga sama. Ujian. Bahkan yang menurutnya aneh, ketika seseorang mengeluhkan kemelut hidupnya, orang-orang malah sibuk menjelaskan hikmah sebelum menjelaskan sebabnya.

Karena penasaran, dan tak kunjung puas oleh pikirannya sendiri, pemuda itu menemui seorang tetua yang dihormati di kampungnya.

"Wahai Tetua," katanya,
"apakah semua hal memang cukup dijelaskan dengan takdir?"

Tetua itu tersenyum.
"Bukankah semuanya memang terjadi atas kehendak Tuhan?"

Pemuda itu mengangguk. Lalu ia bertanya lagi.
"Kalau begitu, mengapa ketika kambing seseorang hilang, ia tetap mencari pencurinya?"

Tetua itu terdiam.

Pemuda melanjutkan.
"Mengapa ketika atap rumah bocor, orang tetap memanggil tukang?"

Tetua masih diam.

"Mengapa ketika sawah diserang hama, petani tetap berusaha menyelamatkan tanamannya?"

Tetua menatap jauh ke arah perbukitan.

Pemuda itu akhirnya memahami sesuatu. Akar persoalannya bukan pada keyakinan atas Tuhan dan takdir. Orang-orang di negerinya tetap percaya kepada takdir sewaktu mencari kambing yang hilang. Tetap percaya kepada Tuhan ketika memperbaiki atap yang bocor. Tetap berdoa ketika bekerja. Tetap bersyukur ketika berusaha.

Yang berbeda adalah ketika pembicaraan menyentuh urusan bersama. Sewaktu kesejahteraan menurun, harga-harga naik, hidup semakin berat, sulit tak kenal musim, semua pertanyaan mengenainya dianggap mengganggu secara tiba-tiba. Kesabaran dipompa menjadi jawabannya, lalu takdir dipanggil untuk menjelaskan apa yang sebenarnya lahir dari keputusan manusia.

Sejak saat itu, pemuda tersebut mulai percaya ada perbedaan besar antara menerima kenyataan dan menyerah kepada kenyataan.

Menerima kenyataan adalah melihat dunia apa adanya. Sedangkan menyerah kepada kenyataan adalah berhenti berusaha mengubahnya. Yang pertama melahirkan ketabahan. Yang kedua melahirkan kepasrahan.

Pemuda itu percaya, negerinya tidak akan pernah berubah oleh kepasrahan. Sebaliknya, negerinya akan berubah jika orang-orang yang berdoa itu, tidak lupa untuk berhenti bertanya.

Manusia diberi akal agar dapat membedakan mana yang memang takdir dan mana yang sebenarnya merupakan akibat dari keputusan sesama manusia. Sabar tidak boleh, dan dijadikan alasan untuk menutupi kemungkinan di mana akal mampu menembus lapisan persoalan dengan panah pertanyaan.

Karena itulah, jika semua persoalan terus-menerus dikirim ke langit, boleh jadi, lama-kelamaan bumi akan menjadi tempat yang sangat nyaman bagi mereka yang ingin menghindari tanggung jawab.

Pemuda itu pulang, meninggalkan tetua terhormat yang ada di kampungnya itu. 

Ia pulang dengan sesuatu yang baru, membawa tafsir iman yang berbeda dari sebelumnya, jauh lebih segar. 

Pemuda itu sangat iman bahwa Tuhan memang mengajarkan kesabaran. Dan ia juga iman, bahwa Tuhan tidak pernah mengajarkan ketidakadilan untuk diterima tanpa pertanyaan.

***

Sesaat sebelum tiba di rumahnya, ia melihat seorang tua bertubuh pendek dan agak gempal, jenggotnya tebal, warnanya sama putih dengan rambutnya. Ia duduk di pinggir sungai, di temani oleh seseorang yang perawakannya bersih, berkumis tanpa janggot, rambutnya tersisir rapi.

"Miskin bukan takdir, tapi akibat dari kebijakan yang tak berpihak pada rakyat kecil". Kata orang tua gempal itu.

Disambut oleh temannya :

"Benar, agamaku dulu adalah lentera. Kini dijadikan tirai. Dulu menerangi persoalan, kini menutupinya.

Para nabiku dulu, dalam cerita-cerita keagamaan bukan ahli penerimaan. Mereka adalah ahli kegelisahan. Gelisah melihat penindasan dan ketidakadilan. Mereka gelisah melihat kekuasaan yang berjalan tanpa koreksi.

Nabiku, Muhammad, tidak aku kenal karena kemampuannya menerima keadaan. Ia ku kenang karena keberaniannya mengubah keadaan".

***

Kek, "Siapa kedua orang itu?" tanya pemuda kepada kakeknya yang sedang duduk di atas dipan.

Kakeknya menjawab, si gempal itu Marx dari negeri Jerman, si alim itu Iqbal dari Pakistan. Keduanya beda zaman, beda wilayah, dan aku juga heran kenapa mereka ada di negeri kita, sekarang. ()

Bersambung... 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan.

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan   Pagi Minggu, 14 Desember 2025. Tepat pukul 07 pagi. Aku bersama rombongan teman asrama bertolak ke Pasar Keramat, Pacet, Mojokerto. Pasar yang sejak awal sering disebut-sebut namanya oleh teman sekamar. Pikirku, ini kesempatan untuk menyaksikan langsung, memverifikasi kebenaran cerita tentangnya. Apa benar, pasar yang terletak di lereng Pacet, Mojokerto itu, semenarik yang diceritakan. Dan, boom. Padat. Pengunjungnya dari luar pacet. Surabaya, Gresik, Malang, Tuban, sebut saja se-Jawa Timur. Hal itu tidaklah melebih-lebihkan. Karena terlihat mobil berderet panjang dengan plat berbeda-beda dan motor parkir rapi sampai ke halaman rumah-rumah warga. Kenapa bisa seramai ini pikirku ? Ada apa di dalam sana ? Ternyata, pasar keramat. Keramat bukan karena nama. Namun, keramat karena ia adalah mesin masa. Mesin waktu yang menawarkan kepulangan kita.  Sejak awal, ia berbeda dengan mall yang terletak di jantung ...

Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang

  Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang Oleh: Suriadi Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya. Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia. Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan. ...

Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering

  Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering   Oleh: Suriadi   Negeri ini ribut lagi. Jagat media sosial hampir mencapai titik paling didih membahas lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat. Seorang peserta dianggap salah karena artikulasinya dinilai tidak jelas. Sementara, menurut banyak orang yang menonton videonya berulang-ulang sambil memakai headset volume penuh, jawaban itu sebenarnya benar. Akhirnya, publik mengamuk. MPR minta maaf. Juri dan MC dinonaktifkan. Video dipotong, disebar, diulang, dijadikan meme, dijadikan bahan roasting nasional. Tabiat yang sudah lumrah ala netizen kita. Dan seperti biasa, internet Indonesia selalu bekerja sangat total ketika menemukan satu orang yang bisa dijadikan tersangka sosial. Ada yang menguliti ekspresi wajah jurinya lalu membedah intonasinya. Ada juga yang mendadak jadi pakar fonetik nasional hanya karena pernah ikut lomba pidato 17-an waktu SD. Timeline penuh dengan orang-orang yang tampaknya ...