Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2026

Hukum

Hukum Oleh: Suriadi HUKUM paling purba adalah hukum alam, begitulah yang dibilang kaum Stoa, yang memandang susunan moral dan rasional alam semesta, sifatnya abadi, universal dan mendahului hukum manusia. Berbeda dengan gerutu Thomas Aquinas, filsuf yang memuncak di akhir abad pertengahan itu. Dikatakannya, tidak!. Bukan hukum alam yang paling purba, tetapi adalah hukum abadi ( Lex Aeterna ), rasio Tuhan yang mensujudkan alam semesta; hukum paling tinggi dan paling mula. Dari sana lah alam berhukum, lalu manusia pun ikut berhukum. Hingga konon, dunia binatang pun rupa-rupanya punya hukumnya sendiri. Singa membunuh kalau lapar saja, serigala patuh pada hierarki kawanan, dan semut tak pula merampas jatah semut lain demi menumpuk harta di lubang pribadi. Betapa mulianya hukum. Makhluk di atas perut alam ini, hidup tertata oleh hukum. Cukuplah yang di atas perut alam, karena yang tinggal dalam perut bumi, makhluk apa gerangan minim informasi, terkecuali makhluk silau seperti emas, tembaga...

Tuhan Tidak Gila Sembah

  Tuhan Tidak Gila Sembah Oleh: Suriadi Aroma minyak wangi malaikat subuh, yang murah dan menyengat masih tertinggal di sajadah lusuh itu. Leman, lelaki paruh baya yang rambutnya mulai diserang uban, melipat kain sarungnya dengan gerakan yang sangat pelan. Di dahinya, ada lingkaran hitam yang tampak jelas, stempel fisik dari ribuan sujud yang diulanginya tanpa absen selama puluhan tahun. Boleh dikata, Leman adalah definisi manusia saleh dalam kamus orang sekampung. Hidupnya habis di dalam surau. Dari menyapu lantai dan mengisi bak wudu, hingga tetap gagah mengumandangkan azan meski suaranya kadangkala serak dihantam batuk kering. Pagi itu, Leman melangkah ke jendela surau. Di luar, pemandangan kontras tersaji tanpa malu-malu. Gang sempit di depan surau becek oleh air selokan yang mampet. Anak-anak kecil dengan baju kumal berlarian berebut air bersih dari tangki keliling yang nominalnya kian mencekik. Tanah di kampung ini gersang, sekering dompet para penghuninya yang sebagian besar...

Siapa yang Berhak Menentukan Arti Sebuah Kata?

Siapa yang Berhak Menentukan Arti Sebuah Kata? Oleh: Suriadi Barangkali tidak ada yang menyangka, satu kata akan mengalahkan isi sebuah pidato. Dalam peringatan Hari Koperasi Nasional kemarin, 12 Juli 2026. Presiden Prabowo Subianto melontarkan kata "bajingan". Terlepas apakah itu cuma kelakarnya saja, yang pasti, menurutnya kata itu bukanlah kata kasar. Dan seperti biasa pula, meresponnya, netizen geger dalam hitungan menit. Media sosial disesaki potongan video, mencipta arena perdebatan baru. Dan publik, alih-alih fokus pada ide besar tentang koperasi, perhatian mereka justru terpancang pada satu kata yang berlangsung seperkian detik itu, "bajingan". Dan dari situ pula kita bisa mengambil titik tolak dalam melihat kegagalan publik membobot sesuatu yang lebih penting daripada sekadar terbuai oleh parodi yang mempertontonkan kontroversi pilihan diksi. Tidak sampai di situ saja, ini juga menunjukkan bahwa dalam masyarakat digital, satu kata dapat dipotong dari kontek...