Tuhan Tidak Gila Sembah
Oleh: Suriadi
Aroma minyak wangi malaikat subuh, yang murah dan menyengat masih tertinggal di sajadah lusuh itu. Leman, lelaki paruh baya yang rambutnya mulai diserang uban, melipat kain sarungnya dengan gerakan yang sangat pelan. Di dahinya, ada lingkaran hitam yang tampak jelas, stempel fisik dari ribuan sujud yang diulanginya tanpa absen selama puluhan tahun.
Boleh dikata, Leman adalah definisi manusia saleh dalam kamus orang sekampung. Hidupnya habis di dalam surau. Dari menyapu lantai dan mengisi bak wudu, hingga tetap gagah mengumandangkan azan meski suaranya kadangkala serak dihantam batuk kering.
Pagi itu, Leman melangkah ke jendela surau. Di luar, pemandangan kontras tersaji tanpa malu-malu. Gang sempit di depan surau becek oleh air selokan yang mampet. Anak-anak kecil dengan baju kumal berlarian berebut air bersih dari tangki keliling yang nominalnya kian mencekik. Tanah di kampung ini gersang, sekering dompet para penghuninya yang sebagian besar bekerja sebagai buruh serabutan dan penarik becak yang kian tergilas zaman.
Namun, tepat di seberang jalan yang berdebu itu, tersaji baliho besar nan gagah berdiri. Memampang rencana pembangunan menara surau baru setinggi tiga puluh meter, lengkap dengan kubah berbahan kuningan yang diimpor dari luar daerah. Harganya? Ratusan juta rupiah, dihimpun dari sisa-sisa uang belanja warga yang sebenarnya lebih butuh makan ketimbang kemegahan visual.
Leman menatap tasbih kayu di genggamannya. Tetiba, butiran-butiran bulat itu terasa memberat, seolah menjelma rantai, mengunci akal sehatnya dalam kepasrahan yang ganjil. Di sela-sela gemercik air wudu yang menetes lambat, Leman tepental ke dalam banjir dialog imajiner di kepalanya. Sebuah percakapan lancang yang boleh jadi diharamkan oleh para penceramah mimbar. Meskipun bagi sebagian kita, nanti percakapan itu akan terasa sangat jujur bagi batin siapa saja yang mulai lelah. Leman membayangkan dirinya mati esok pagi. Ruh-nya pergi, lalu berdiri di hadapan pengadilan langit yang agung.
Leman mengantongi percaya diri yang meluap, maka tanpa mendedah lagi, ia segera menyodorkan buku catatan amalnya yang tebal dengan yang hati yang tak disabar-sabarkan.
“Tuhan,” ucap Leman dalam lamunannya, “aku telah menghabiskan seluruh usiaku di rumah-Mu. Aku memuji-Mu sampai tenggorokanku kering, aku bersujud sampai lututku linu. Aku menjaga surau-Mu dari debu dunia.”
Lalu, di saat sepi begitu menekan hingga yang ia dengar hanya denyut jantungnya sendiri, sebuah jawaban dingin sekaligus bertenaga menghantam dadanya.
“Apakah kau mengira Aku kekurangan malaikat untuk melantunkan pujian, Leman? Aku tidak gila sembah. Aku memberimu bumi yang luas dan akal yang tajam, tetapi kau memilih meringkuk di sudut surau yang sempit. Kau sibuk menghitung pahala pribadimu, sementara di luar dinding surau, tanah, air, dan nasib anak-cucumu dikuasai oleh orang-orang rakus yang kau sebut tak beriman. Aku memberimu negeri yang makmur, tetapi kau membiarkannya dijarah dan dikendalikan oleh musuh-musuhmu karena kau terlalu sibuk memejamkan mata dalam doa-doa yang egois.”
Leman tersentak. Angin pagi yang masuk lewat celah ventilasi surau mengamuk pikirannya.
Leman menyadari suatu hal. Kiwari, keberagamaan di desanya seperti terjebak pada apa yang disebut sosiologi agama sebagai kesalehan ritualistik yang soliter. Dan mungkin juga, tidak hanya di desa Leman, tetapi juga di desa kita, kota kita sendiri. Yang alih-alih agama menjadi bahan bakar gerakan moral yang meruntuhkan ketidakadilan, malah agama disekitar kita diadopsi cenderung sebagai pelarian dari ketidakberdayaan terhadap soal dunia. Yang selanjutnya, perkara inilah yang menciptakan sekat yang keliru, di mana dunia ditafsiri sebagai wilayah "kotor" yang harus ditinggalkan, lalu menganggap tempat ibadah sebagai satu-satunya wilayah suci yang steril dari dosa.
Narasi ini sepadan, dan merupakan replika modern dari apa yang ditulis A.A. Navis dalam mahakaryanya, Robohnya Surau Kami. Tokoh Kakek Garin berakhir tragis setelah disadarkan bahwa ibadahnya di bumi hanyalah keegoisan tingkat tinggi. Ia masuk neraka akibat terlalu sibuk menyembah Tuhan sampai lupa bahwa ia punya tanggung jawab sosial atas kemaslahatan hidup di sekitarnya. Novel yang memang memompa perdebatan, namun diakui pula mengandung nilai yang hari ini banyak diresahkan.
Fenomena ini juga berkelindan erat dengan pemikiran teolog perempuan asal German Dorothee Sölle mengenai konsepsi dosa struktural. Yang bagi Sölle, dosa adalah selain soal pelanggaran moral personal individual, ada juga wujud lainnya, yakni bentuk pembiaran dan bungkamnya orang-orang beragama di hadapan sistem sosial yang opresif dan timpang. Sehingga ruang ibadah acapkali menjadi tempat persembunyian yang nyaman dari carut-marut ketidakadilan di luar dindingnya, dan di situ pula kesalehan berulang kali mengesahkan kelalaian itu sendiri.
Secara antropologis, ketika suatu masyarakat menyerahkan seluruh ruang strategis—ekonomi, kebijakan publik, hingga pendidikan—kepada pihak lain dengan dalih "dunia ini sementara", maka secara otomatis ruang hidup mereka akan diatur oleh nilai-nilai yang tidak memihak mereka. Membiarkan ketidakadilan merajalela seraya bergumam "ini sudah takdir" bukanlah bentuk kepasrahan yang mulia. Bisa saja itu adalah kemalasan intelektual yang dibungkus dengan bahasa teologis. Maka coba dedah ulang, telah berapa kali kita membiarkan noda sosial menumpuk di depan mata, sembari sibuk mencuci tangan di kolam wudu?.
Leman meletakkan tasbihnya di atas meja kayu yang mulai lapuk. Di luar, langit mulai terang, dan sayup-sayup suara bising kendaraan mulai merayap masuk ke dalam ruangan. Leman menginsafi satu hal, ia sadar bahwa menerima kenyataan bukan berarti menyerah pada keadaan. Menjadi saleh tidak boleh membuat seseorang menjadi tumpul. Jika kita selalu mengutuk ketamakan duniawi dan memuja-muja kesunyian menara doa, mengapa saat kelaparan atau ketidakadilan melanda, kita justru mengetuk pintu lembaga-lembaga sekuler milik mereka yang menguasai dunia? Mengapa kita tidak meruntuhkan dinding egoisme surau kita sendiri untuk membangun keadilan yang nyata di luar sana?
Leman kembali melangkah ke depan surau. Kali ini, ia tidak langsung mengambil sapu untuk membersihkan lantai yang sebenarnya sudah bersih. Ia menatap ke arah jalanan, ke arah anak-anak yang masih mengantre air bersih. Di dalam hatinya, sebuah kesadaran baru mulai tumbuh—tanpa perlu terburu-buru, namun bergerak pasti. Sujud harus tetap tegak, tetapi tangan harus mulai bekerja merebut kembali ruang hidup yang telah lama dilepaskan. Sebab Tuhan, tampaknya, lebih menghargai hamba-Nya yang tangannya kotor karena menegakkan keadilan, ketimbang mereka yang dahinya hitam namun membiarkan dunia di sekitarnya runtuh dalam diam.
Leman lalu keluar dari surau, ia busungkan dadanya, lalu ia humbalangkan ulang dekrit imannya. “Benar, iman itu bergerak”. Dan jika nanti aku ditanya, “Kenapa engkau bisa enak salat sementara dunia dan seisinya yang Ku amanahi ,engkau biarkan dijarah musuh-musuhmu? aku akan punya jawabannya tegas Leman. Akhirnya, tersisalah kita, apa jawabmu kira-kira, apa jawabku, dan apa jawab kita, jika dihadapkan pertanyaan yang sama?.

Komentar
Posting Komentar