Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering
Oleh: Suriadi
Negeri ini ribut lagi. Jagat media sosial hampir mencapai titik paling didih membahas lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat. Seorang peserta dianggap salah karena artikulasinya dinilai tidak jelas. Sementara, menurut banyak orang yang menonton videonya berulang-ulang sambil memakai headset volume penuh, jawaban itu sebenarnya benar. Akhirnya, publik mengamuk. MPR minta maaf. Juri dan MC dinonaktifkan. Video dipotong, disebar, diulang, dijadikan meme, dijadikan bahan roasting nasional. Tabiat yang sudah lumrah ala netizen kita.
Dan seperti biasa, internet Indonesia selalu bekerja sangat total ketika menemukan satu orang yang bisa dijadikan tersangka sosial.
Ada yang menguliti ekspresi wajah jurinya lalu membedah intonasinya. Ada juga yang mendadak jadi pakar fonetik nasional hanya karena pernah ikut lomba pidato 17-an waktu SD. Timeline penuh dengan orang-orang yang tampaknya sangat bahagia menemukan manusia lain untuk dihakimi bersama-sama.
Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah kelakuan kita mirip, atau bahkan sering sama dengan si juri. Berapa kali kita berada di posisi salah, lalu bukannya mengaku, malah sibuk menyusun pembelaan? Kadang logikanya bahkan jungkir balik. Yang penting harga diri selamat dulu. Yang penting muka jangan jatuh. Kalau perlu, orang lain yang dikambinghitamkan.
Ada masa, ketika bos marah karena kerjaan berantakan, kita bilang instruksinya kurang jelas. Ketahuan telat, kita salahkan macet. Ketahuan tidak paham, kita bilang pertanyaannya membingungkan. Ketahuan belum mengerjakan tugas kuliah, kita cipta alasan demi alasan. Intinya sederhana, manusia itu makhluk yang sangat kreatif kalau urusannya menyelamatkan gengsi.
Maka ketika melihat juri itu bersikukuh pada keputusannya, sebenarnya kita sedang melihat sifat yang sangat manusiawi. Salah? Bisa jadi. Tapi asing? Sama sekali tidak.
Ada sisi yang agak mengkhawatirkan dari kasus ini, adalah betapa mudahnya kita berubah jadi massa penonton gladiator. Semacam ada kenikmatan kolektif ketika melihat seseorang dipermalukan ramai-ramai. Media sosial membuat banyak orang merasa dirinya suci hanya karena sedang tidak viral.
Hari ini kita sedang menertawakan jurinya. Besok, mungkin tiba giliran kita yang dipotong videonya 30 detik, lalu diadili se-Indonesia tanpa konteks. Sebab, internet itu suka keramaian. Dan keramaian selalu membutuhkan tumbal.
Manusia, siapa pun dia, bisa menjadi makhluk yang paling tidak bisa jujur ketika berada di posisi terpojok. Kita semua pernah menjadi pembela paling gigih bagi kesalahan sendiri. Tak terhitung telah berapa kali kita memelintir logika hanya demi menyelamatkan gengsi.
Bedanya, sebagian kesalahan direkam kamera. Sebagian lagi aman tersimpan di kepala kita sendiri.
Maka mungkin, sebelum ramai-ramai melempar batu ke juri artikulasi itu, ada baiknya kita bercermin sebentar. Siapa tahu yang kita tertawakan sebenarnya bukan dia seorang, melainkan tabiat kita sendiri yang sedang tampil di layar orang lain.
Lagipula, kalau kejujuran benar-benar ditegakkan di negeri ini, mungkin bukan cuma juri lomba yang harus berdiri dan berkata, “iya, saya salah.”
Mungkin kita juga. Sedikit. Lalu pejabat juga,
ustadz juga, pengusaha juga, siapa lagi, silahkan diteruskan sendiri .......

Komentar
Posting Komentar