Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

NU di Persimpangan Algoritma

  NU di Persimpangan Algoritma Oleh: Suriadi Kita sering membicarakan kecerdasan buatan (AI) sebagai sesuatu yang “datang dari luar", teknologi yang seolah berdiri netral, dan steril dari kepentingan. Padahal, AI pada dasarnya hanyalah mesin yang bekerja dari apa yang kita berikan kepadanya, baik data, maupun pola pikir manusia yang terarsip dalam sistem algoritmiknya. AI tidak berpikir, ia mengolah. AI tidak mencipta nilai, tapi mereproduksi apa yang paling dominan tersedia. Maka persoalannya menjadi jelas, siapa yang menguasai data, dialah yang membentuk arah pengetahuan yang akan direkomendasikan AI. Dalam konteks itu, Nahdlatul Ulama (NU) sebetulnya tidak lagi diperhadapkan pada siap atau tidaknya menghadapi AI. Akan tetapi, NU diperhadapkan pada sesuatu yang lebih menukik, adalah sejauh mana NU telah hadir dan berkelindan di dalamnya. Apakah fakultas keilmuan ala NU, yang terdiri dari khazanah kitab kuning, pemikiran para muassis, dan mata rantai sanad keilmuan yang...

Demokrasi, Demokratisasi, dan Kebisingan

  Demokrasi, Demokratisasi, dan Kebisingan Sebagai anak bangsa, kita impikan negeri ini diasuh oleh sesuatu yang ideal untuk memapah kelangsungan hidupnya. Dan b agi Indonesia, sesuatu itu adalah demokrasi: sistem politik yang tertulis dalam konstitusi. Lebih luhur lagi, demokrasi adalah cita-cita yang sejak awal oleh pendiri republik dipancang sebagai fondasi hidup bernegara. Kini, it u juga cita-cita kita semua, itu pula suatu sistem yang dewasa ini diamini dapat membobot kedewasaan bangsa kita. Berkenaan dengan hal itu, selanjutnya demokrasi dan turunannya sepatutnya menjadi salah satu unsur dorongan batin yang kini hidup setelahnya. Dorongan yang dulu dan sekarang nafasnya masih sama, ialah bagaimana kita berlaku demokratis di negeri ini. O rientasinya untuk berjuang merebut, mempertahankan dan kemudian mengisi kemerdekaan. Saking pentingnya, kita dituntut bisa membedakan antara demokrasi prosedur dan demokrasi substansi. Secara prosedural, demokrasi dapat ditandai oleh pemilu...

Rumah Tua itu adalah Demokrasi

Rumah Tua itu adalah Demokrasi Sudah lebih dari setengah abad merdeka, tapi bicara mengenai demokrasi di negeri ini kadang menghadirkan kesan seperti memasuki rumah tua yang antik. Rumah itu tampak kokoh. Pilar-pilarnya berdiri. Pintu dan jendelanya masih terpasang. Di ruang tamunya, perabot tersusun rapi. Setiap bendanya memiliki sejarah dan kehormatannya masing-masing. Kita dengannya (baca: demokrasi) ada rasa akrab. Kita tahu mana ruang dewan, mana ruang rakyat, mana kamar musyawarah, mana meja mufakat dan seterusnya. Kita mengenali nama-nama yang menghuninya: perwakilan, majelis, hukum, hak mayoritas, perlindungan minoritas. Bahkan, kita fasih mengutip pinjaman yang terdengar modern dan berwibawa: rule of law , delegation of authority , decision by representation . Dan entah apa lagi, masih banyak istilah lainnya. Di kawasan ini kita merasa kenal semuanya. Tapi rasanya, tidak mungkin kita berani mengakui telah benar-benar mengerti maksudnya. Apalagi menggambarkan dengan tepat, baga...