NU
di Persimpangan Algoritma
Oleh: Suriadi
Kita sering
membicarakan kecerdasan buatan (AI) sebagai sesuatu yang “datang dari
luar", teknologi yang seolah berdiri netral, dan steril dari kepentingan.
Padahal, AI pada dasarnya hanyalah mesin yang bekerja dari apa yang kita
berikan kepadanya, baik data, maupun pola pikir manusia yang terarsip dalam
sistem algoritmiknya.
AI tidak
berpikir, ia mengolah. AI tidak mencipta nilai, tapi mereproduksi apa yang
paling dominan tersedia. Maka persoalannya menjadi jelas, siapa yang menguasai
data, dialah yang membentuk arah pengetahuan yang akan direkomendasikan AI.
Dalam konteks
itu, Nahdlatul Ulama (NU) sebetulnya tidak lagi diperhadapkan pada siap atau
tidaknya menghadapi AI. Akan tetapi, NU diperhadapkan pada sesuatu yang lebih
menukik, adalah sejauh mana NU telah hadir dan berkelindan di dalamnya.
Apakah fakultas
keilmuan ala NU, yang terdiri dari khazanah kitab kuning, pemikiran para
muassis, dan mata rantai sanad keilmuan yang menjadi kekuatan utama tradisi
pesantren itu, telah benar-benar terdigitalisasi dan terbaca oleh algoritma?
Ataukah semua
itu masih tersimpan rapi di rak-rak perpustakaan, hanya berkelindan dalam
majelis, lalu kian absen dalam ruang data global, yang kini menjadi rujukan
utama generasi baru?
Enggan atau
tidaknya, yang pasti kita perlu jujur melihat bahwa hasil-hasil bahtsul masail,
yang selama ini menjadi salah satu instrumen ijtihad kolektif khas NU belum
sepenuhnya “parkir” dalam ekosistem digital yang terbuka dan terindeks dengan
baik. Ada banyak keputusan penting, pandangan fikih kontekstual, hingga respons
NU terhadap isu-isu kontemporer justru tercecer, tidak terkurasi, dan sulit
diakses oleh mesin pencari, apalagi oleh sistem AI yang mekanistik, yang
bekerja berdasarkan ketersediaan dan keterhubungan data.
Akibatnya, boleh
jadi ketika seseorang bertanya kepada AI tentang suatu persoalan keislaman,
sangat mungkin yang muncul justru perspektif yang lebih siap secara digital,
bukan yang lebih kaya secara tradisi. Pengetahuan ala NU semacam tersimpang
dari arena digital, kini.
Meresponnya,
kita perlu bersegera mengubah cara pandang. AI bukan ancaman, juga bukan lawan.
AI laiknya gelanggang baru yang harus dimasuki. Perkembangan AI sebuah
keniscayaan. Sepanjang peradaban manusia bertumbuh, AI akan ikut menubuh.
Sebab itu, ia
bukan musuh epistemologis bagi NU. AI lebih kepada ruang kontestasi pengetahuan
yang baru. Sehingga, jika NU absen di dalamnya, itu bukan karena AI yang menyingkirkan
NU, melainkan karena NU sendiri belum cukup mampu menghadirkan dirinya dalam
bahasa yang dipahami oleh algoritma.
Memenangkan
algoritma, dalam pengertian ini, bukan
berarti tunduk pada logika teknologi secara membabi buta. Justru, ini
adalah upaya strategis untuk memastikan bahwa nilai-nilai keislaman ala
Ahlussunnah wal Jamaah, yang moderat, berakar pada tradisi, sekaligus adaptif
terhadap konteks, ikut membentuk lanskap pengetahuan digital.
Mau diakui
ataupun tidak, digitalisasi kini menjadi salah satu sumber pengetahuan
kekinian. Jika sumber itu tidak di isi oleh pengetahuan ala NU, barang pasti
wahana keilmuan kita akan terpinggirkan dari modernisasi teknologi. Impactnya,
jamaah AI tidak akan akrab, dan mengenal kekhasan NU.
Kadang kita telah
merasa puas karena digitalisasi kitab. Sementara persoalan AI, tidak
sesederhana bicara konversi kitab fisik menjadi digital. Di wilayah itu, kita
juga bicara soal kurasi, strukturisasi, dan penyajian ulang pengetahuan agar
dapat dibaca oleh mesin tanpa kehilangan ruhnya.
Tantangannya
tidak kecil. Tradisi pesantren selama ini tumbuh dalam kultur lisan dan tatap
muka, dengan sanad sebagai penjamin otoritas. Sementara AI bekerja dalam logika
dokumentasi, keterindeksan, dan konektivitas data.
Fakta ini mustinya
membangunkan NU, untuk berupaya mencetak generasi baru, dan menambah gerakan
keilmuan di wilayah digital. Sosok kiai dan santri yang alim dalam kitab tidak
dikesampingkan. Hanya saja, NU perlu dibobot untuk sesegera mungkin membentuk
kader yang ahli sebagai arsitek pengetahuan digital, yang mampu menerjemahkan
kekayaan tradisi ke dalam format yang kompatibel dengan ekosistem teknologi.
Lebih lanjut, di
sisi lain, sudah ada berapa banyak pemain NU yang benar-benar masuk ke arena
ini? Berapa banyak platform, basis data, atau repositori digital yang secara
serius mengarsipkan pemikiran NU dengan standar yang bisa diakses dan dipahami
oleh AI?
Dan lebih jauh
lagi, apakah produksi pengetahuan ala pesantren sudah mulai diarahkan tidak
hanya untuk konsumsi internal, tetapi juga untuk berkompetisi dalam ruang
global yang kini dimediasi oleh algoritma?
Jika kader NU
masih gagap, atau sangat kurang memproduski pengetahuan di ruang digital.
Dimungkinkan, ketersimpangan pengetahuan NU semakin terang posisinya.
Sehingga, kalau
lah jawabannya masih terbatas, itu alarm untuk segera berbenah. Sebab dalam
sejarahnya, NU tidak pernah alergi terhadap perubahan. Dari tradisi kitab
kuning hingga penggunaan media cetak, dari forum bahtsul masail hingga dakwah
di ruang publik modern, NU selalu menemukan cara untuk tetap konteks tanpa
kehilangan jati diri.
Hari ini, jati
diri itu di uji lagi. Betulkah ia telah hadir dalam ekosistem AI ?, sebuah
gelanggang pengetahuan, yang terus menubuh pada peradaban manusia.
Menghadirkan NU di
ruang ini, bukan untuk menjadikannya seragam dengan yang lain, bukan pula untuk
menghilangkan sakralitas pengetahuannya. Semua ini tidak lebih hanya untuk
memastikan, bahwa ketika dunia bertanya, jawaban yang muncul tidak saja cepat
dan populer, tetapi juga bijak, berakar, dan berimbang. Bukankah itu jenis
pengetahuan yang selama ini kita rawat dan kita elukan sebagai pengetahuan yang
otoritatif.
AI laiknya
cermin besar. Tugasnya memantulkan apa yang paling banyak kita isi di dalamnya.
Kalau kita ingin wajah Islam yang tampil di dalamnya adalah wajah yang ramah,
bertradisi, dan penuh hikmah sebagaimana yang diajarkan di pesantren, maka
kerja kita jelas, musti memperbanyak, dan menstrukturkan pengetahuan itu di
ruang digital.
Karena di era
ini, mempertahankan tradisi tidak lagi cukup dengan menjaga sanad, tetapi juga
dengan memastikan sanad itu terbaca oleh algoritma. Muktamar NU mendatang, di
pojokan arenanya, kiranya ini boleh dibincang agak serius, agar pengetahuan NU
tidak tumbang, dikalahkan tsunami konten.

Komentar
Posting Komentar