Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang
Oleh: Suriadi
Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya.
Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia.
Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan.
Arman berupaya bernegosiasi dengan keterangan sang khatib tadi. Sungguh, setiap kali kata syukur meluncur dari atas mimbar, yang muncul adalah wajah ibunya di kampung. Ia teringat percakapan beberapa malam sebelumnya.
"Jangan pikirkan kami di sini, Nak."
Siapa saja anak dari keluarga sederhana pasti akrab dengan kalimat ini. Kalimat yang menyimpan pesan; "keadaan sedang sulit". Tapi begitulah, harga diri masih terlalu besar untuk mengakuinya, meskipun dihadapannya terbentang laut kepasrahan.
Khutbah terus berjalan. Dunia digambarkan sebagai sesuatu yang harus dijaga jaraknya, sebagai tempat singgah yang tidak layak dicintai berlebihan.
Kita paham maksudnya. Akan tetapi, dunia yang dibicarakan dari atas mimbar dan dunia yang kita jumpai setiap harinya kadang kala sangat kontras, selalu tampak seperti dua tempat yang berbeda.
Dari atas mimbar, dunia mungkin ditafsiri sebagai kemewahan yang membuat manusia lupa diri. Sementara dari saf belakang, dunia menjelma impitan ekonomi, serta bayang-bayang tentang nasib esok hari. Tentang uang kontrakan, harga beras, biaya kuliah adik, uang makan, uang kiriman, uang susu, belanja dapur, dan seterusnya. Yang menjadi sarapan harian umat.
Sebab itu, ada saat ketika seseorang sebetulnya tidak lagi membutuhkan nasihat mengenai bahaya mencintai dunia, karena ia sebenarnya lebih butuh bagaimana cara bertahan hidup di dalamnya.
Khatib kemudian mengutip kisah orang-orang saleh yang hidup sederhana, yang menerima segala ujian dengan lapang dada.
Sementara di saf belakang, beberapa pasang mata termasuk Arman, sedang membayangkan hal yang lebih sederhana daripada parodi surga yang dicitrakan sang khatib. Mereka memimpikan pekerjaan tetap dan dapur yang setia mengepul.
Khatib itu memang benar. Dunia memang tidak layak dicintai berlebihan. Tapi Arman, ia belum sampai pada tahap mencintai dunia. Ia masih berada pada tahap mencarinya. Masih berada di persimpangan, berupaya membuang gundah yang menggelayut di pundaknya.
Pikiran itu datang begitu saja, menetap di kepalanya sepanjang khutbah berlangsung. Arman tidak marah dan tidak tersinggung. Hanya saja, ada semacam keganjilan yang sulit dijelaskan. Kenapa kemiskinan terdengar sangat sederhana ketika diceritakan oleh orang yang tidak sedang mengalaminya?.
Orang-orang yang kenyang mudah saja membicarakan bahaya kerakusan. Tapi bagi orang-orang yang lapar, mereka sedang memikirkan makan. Orang kenyang, bisa nyenyak tidur malam. Tapi sebagian orang dipaksa begadang, karena miskin adalah keadaan yang diam-diam mencuri malam.
Ketika salat selesai dan jamaah mulai meninggalkan masjid, Arman berdiri pelan. Ia menyampirkan kembali tasnya ke bahu lalu berjalan menuju halaman. Di sana, ia melihat sang khatib berbincang dengan beberapa pengurus masjid. Seseorang menyerahkan amplop. Yang lain membuka pintu mobil. Semua berlangsung biasa saja. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang pantas dipermasalahkan.
Menyaksikannya, Arman berujar untuk kedua kalinya, apakah aku kurang bersyukur?. Bolehkah aku meminjam hidup sang khatib sebentar saja? Bukan mobil dan amplopnya, hanya hidupnya.
Aku ingin menukar nasib sebentar saja dengannya. Cukup sejak lahir sampai siang ini. Barangkali setelah menjalaninya, aku akan memahami syukur dengan cara yang sama dengannya. Pun sebaliknya.
Arman tersenyum kecil pada pikirannya sendiri. Lalu segera merasa bersalah. Tetapi pertanyaan itu terlanjur hidup dan berjalan bersamanya hingga keluar gerbang masjid.
Dalam lubuk hatinya, ia tidak membenci nasihat tentang syukur dan sabar. Yang mengganggunya ialah kemungkinan bahwa sebagian nasihat lahir dari jarak yang terlalu jauh antara mereka yang sedang menjelaskan luka dan mereka yang sedang menahannya. Terdapat ketimpangan yang mengangga antara si pemberi nasihat dan yang dinasihati.
Ketimpangan ini jarang disadari. Bahwa ada nasihat yang terdengar seperti embun bagi orang yang berteduh. Namun sekilas menjadi garam ketika jatuh di atas luka.
Di depan gerbang, Arman berhenti sejenak. Matahari masih tinggi. Jalanan masih ramai. Besok ia akan kembali membawa surat-surat lamaran itu ke tempat lain.
Mungkin besok yang ia temui adalah penolakan lagi, mungkin juga diabaikan. Dan kemungkinan terburuknya kembali pulang tanpa kabar. Tetapi begitulah hidup, ia rupanya memang berjalan dengan cara seperti itu, manusia musti berharap meski alasan bertahan semakin menipis.
Arman menepuk tasnya perlahan. Di dalam sana, surat-surat lamaran itu masih ada. Tidak bertambah. Tidak juga berkurang.
Kita bayangkan, andai saja kertas-kertas itu ikut mendengarkan khutbah sang khatib tadi. Barangkali yang paling zuhud di masjid bukanlah Arman, melainkan surat-surat lamaran itu. Sudah berbulan-bulan mengejar dunia, tetapi dunia belum juga meliriknya.
Entah, apakah itu karena menyusutnya empati, karena iman bermasalah, sistem negara tidak jitu, ataukah ada yang keliru dari cara manusia membaca agamanya.
"Dunia iman terkadang memang lucu. Jika tokoh agama perlu uang, mereka minta umat bersedekah. Tapi jika umat perlu uang, mereka diminta berdoa pada Tuhannya". Gumam Arman, sembari menengadah.

Komentar
Posting Komentar