Langsung ke konten utama

Postingan

Hukum

Hukum Oleh: Suriadi HUKUM paling purba adalah hukum alam, begitulah yang dibilang kaum Stoa, yang memandang susunan moral dan rasional alam semesta, sifatnya abadi, universal dan mendahului hukum manusia. Berbeda dengan gerutu Thomas Aquinas, filsuf yang memuncak di akhir abad pertengahan itu. Dikatakannya, tidak!. Bukan hukum alam yang paling purba, tetapi adalah hukum abadi ( Lex Aeterna ), rasio Tuhan yang mensujudkan alam semesta; hukum paling tinggi dan paling mula. Dari sana lah alam berhukum, lalu manusia pun ikut berhukum. Hingga konon, dunia binatang pun rupa-rupanya punya hukumnya sendiri. Singa membunuh kalau lapar saja, serigala patuh pada hierarki kawanan, dan semut tak pula merampas jatah semut lain demi menumpuk harta di lubang pribadi. Betapa mulianya hukum. Makhluk di atas perut alam ini, hidup tertata oleh hukum. Cukuplah yang di atas perut alam, karena yang tinggal dalam perut bumi, makhluk apa gerangan minim informasi, terkecuali makhluk silau seperti emas, tembaga...
Postingan terbaru

Tuhan Tidak Gila Sembah

  Tuhan Tidak Gila Sembah Oleh: Suriadi Aroma minyak wangi malaikat subuh, yang murah dan menyengat masih tertinggal di sajadah lusuh itu. Leman, lelaki paruh baya yang rambutnya mulai diserang uban, melipat kain sarungnya dengan gerakan yang sangat pelan. Di dahinya, ada lingkaran hitam yang tampak jelas, stempel fisik dari ribuan sujud yang diulanginya tanpa absen selama puluhan tahun. Boleh dikata, Leman adalah definisi manusia saleh dalam kamus orang sekampung. Hidupnya habis di dalam surau. Dari menyapu lantai dan mengisi bak wudu, hingga tetap gagah mengumandangkan azan meski suaranya kadangkala serak dihantam batuk kering. Pagi itu, Leman melangkah ke jendela surau. Di luar, pemandangan kontras tersaji tanpa malu-malu. Gang sempit di depan surau becek oleh air selokan yang mampet. Anak-anak kecil dengan baju kumal berlarian berebut air bersih dari tangki keliling yang nominalnya kian mencekik. Tanah di kampung ini gersang, sekering dompet para penghuninya yang sebagian besar...

Siapa yang Berhak Menentukan Arti Sebuah Kata?

Siapa yang Berhak Menentukan Arti Sebuah Kata? Oleh: Suriadi Barangkali tidak ada yang menyangka, satu kata akan mengalahkan isi sebuah pidato. Dalam peringatan Hari Koperasi Nasional kemarin, 12 Juli 2026. Presiden Prabowo Subianto melontarkan kata "bajingan". Terlepas apakah itu cuma kelakarnya saja, yang pasti, menurutnya kata itu bukanlah kata kasar. Dan seperti biasa pula, meresponnya, netizen geger dalam hitungan menit. Media sosial disesaki potongan video, mencipta arena perdebatan baru. Dan publik, alih-alih fokus pada ide besar tentang koperasi, perhatian mereka justru terpancang pada satu kata yang berlangsung seperkian detik itu, "bajingan". Dan dari situ pula kita bisa mengambil titik tolak dalam melihat kegagalan publik membobot sesuatu yang lebih penting daripada sekadar terbuai oleh parodi yang mempertontonkan kontroversi pilihan diksi. Tidak sampai di situ saja, ini juga menunjukkan bahwa dalam masyarakat digital, satu kata dapat dipotong dari kontek...

Muhammad dan Cita-Cita Masyarakat Tanpa Kelas

Muhammad dan Cita-Cita Masyarakat Tanpa Kelas Oleh: Suriadi Saat mendengar istilah masyarakat tanpa kelas, sebagian dari kita mungkin langsung teringat pada sosiolog klasik, Karl Marx dan tema sosialisme. Padahal, jika ditelisik ke belakang, akan kita temukan bahwa jauh sebelum teori-teori itu lahir, ternyata Islam melalui Muhammad telah membawa gagasan yang lebih kurangnya bernafas sama, egalitarianisme. Yang dengannya pula Muhammad mampu mengguncang fondasi masyarakat Arab pada masanya. Kala itu, Muhammad membawa risalah kesetaraan di mana manusia tidak boleh dinilai berdasarkan keturunan, suku, warna kulit, atau kekayaannya. Yang pada gilirannya, ajaran ini mengawali babak baru masyarakat Arab. Gagasan ini lahir dalam situasi sosial yang bertensi tinggi. Mekkah abad ketujuh diisi masyarakat dengan mekanisme hierarki yang ketat. Bangsawan Quraisy menduduki puncak, menguasai politik dan perdagangan, serta simbol-simbol kehormatan. Di lapisan terbawah ada budak, orang miskin, pendatang...

Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang

  Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang Oleh: Suriadi Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya. Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia. Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan. ...

Politik Meme

Politik Meme Oleh: Suriadi Hari-hari ini terpotret percakapan politik yang semakin ramai. Di media sosial berkelindan komentar, satire, meme, video pendek, dan berbagai bentuk ekspresi politik lainnya. Isu publik menyebar dalam hitungan detik. Pernyataan pejabat dipantau banyak mata, disimak banyak telinga, apa yang diucap pada pagi hari dapat berubah menjadi bahan olok-olok nasional sebelum malam tiba. Ia nya pun akhirnya mematahkan anggapan bahwa generasi kekinian apatis terhadap politik. Dikuatkan oleh rilis survei Litbang Kompas (2021-2024) yang memaparkan data melek politik generasi Z dan Y berada diangka 56%. Dan pelbagai keriuhan itulah suaranya, yang menandakan mereka sebetulnya tidak meninggalkan politik, mereka hanya bergeser ke ruang politik yang berbeda. Terma paling dekat untuk menjelaskannya lebih lanjut, barangkali adalah politik berpindah ke layar. Dan di sana lah juga kritik publik mengalami pergeseran. Dalam arti, minat publik cenderung meninggalkan kritik dalam bentu...

Negeri Para Penafsir Takdir

Negeri Para Penafsir Takdir Oleh: Suriadi Konon, di sebuah negeri yang penduduknya sangat religius, ada satu kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Mereka gemar menjelaskan hampir semua hal dengan takdir. Jika hujan tak kunjung turun, itu takdir. Jika hujan turun terlalu lama, itu juga takdir. Jika panen gagal, takdir sedang bekerja. Jika panen berhasil, takdir sedang tersenyum. Pendek kata, takdir menjadi pegawai paling sibuk di negeri itu. Sementara manusia tampak cukup santai. Suatu hari mata uang negeri itu jatuh. Meskipun tidak sampai menimbulkan bunyi keras, namun cukup membuat para pedagang mengubah harga, para ibu meninjau ulang daftar belanja, dan para bapak menimbang jumlah gula dalam kopinya. Penuntut ilmu yang digawangi para pemuda dari negeri itupun terdampak lakunya. Di kampung seberang, mereka mulai menghitung ulang belanja bulanan. Situasi yang menyebalkan, dan o rang-orang membicarakannya di mana-mana. Dan yang menyita perhatian dari percakapan mereka, ialah bagaima...