Muhammad dan Cita-Cita Masyarakat Tanpa Kelas
Oleh: Suriadi
Saat mendengar istilah masyarakat tanpa kelas, sebagian dari kita mungkin langsung teringat pada sosiolog klasik, Karl Marx dan tema sosialisme. Padahal, jika ditelisik ke belakang, akan kita temukan bahwa jauh sebelum teori-teori itu lahir, ternyata Islam melalui Muhammad telah membawa gagasan yang lebih kurangnya bernafas sama, egalitarianisme. Yang dengannya pula Muhammad mampu mengguncang fondasi masyarakat Arab pada masanya.
Kala itu, Muhammad membawa risalah kesetaraan di mana manusia tidak boleh dinilai berdasarkan keturunan, suku, warna kulit, atau kekayaannya. Yang pada gilirannya, ajaran ini mengawali babak baru masyarakat Arab.
Gagasan ini lahir dalam situasi sosial yang bertensi tinggi. Mekkah abad ketujuh diisi masyarakat dengan mekanisme hierarki yang ketat. Bangsawan Quraisy menduduki puncak, menguasai politik dan perdagangan, serta simbol-simbol kehormatan. Di lapisan terbawah ada budak, orang miskin, pendatang, dan mereka yang tanpa perlindungan suku. Dalam masyarakat demikian, kehormatan menjadi barang mahal yang diwariskan.
Di tengah tatanan sosial semacam itulah, Muhammad merehabilitasi situasi melalui pesan yang sesungguhnya amat revolusioner dan konteks, sehingga bangsawan Quraisy pun terperangah saat mendengarnya.
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini kalau kita dudukkan dalam konteks zamannya, maka ia merupakan kritik yang tajam terhadap setting sosial masyarakat Arab saat itu. Al-Qur'an sedang mencabut hak istimewa yang selama berabad-abad dinikmati kelompok elite Arab. Inilah titik berangkat yang penting untuk memahami cara Muhammad memandang masyarakat yang fondasinya adalah tauhid.
Tauhid ala Muhammad, selain mengamini Tuhan itu Esa, ia ditafsiri juga sebagai sesuatu yang memiliki konsekuensi sosial yang sangat besar sehingga mampu merancang-ulang bangunan masyarakat Arab yang jomplang kala itu.
Sederhananya, jika hanya Tuhan yang Maha Tinggi, maka tidak ada alasan manusia menempatkan dirinya lebih tinggi di atas manusia lain. Dan kalau semua manusia sama-sama makhluk Tuhan, maka tidak ada alasan juga untuk membangun tembok-tembok sosial yang memisahkan satu kelompok dari kelompok lainnya.
Contoh rillnya, ada Bilal bin Rabah mantan budak berkulit hitam yang memperoleh kedudukan terhormat di tengah komunitas Muslim. Ada juga Salman al-Farisi dari Persia yang diterima sebagai bagian dari keluarga besar umat Islam.
Maka, dalam komunitas yang dibangun Nabi, bisa kita lihat bahwa tauhid tidak sebatas menjadi apa yang diyakini. Nabi memperlihatkan bagaimana tauhid memiliki dampak untuk menyapu kelas sosial yang telah menggurita dan menjadi sumber diskriminasi. Hal inilah yang membuat elite Arab berang. Yang kalau dalam bahasa berbeda, bisa dipahami bahwa sebagian besar masyarakat Arab tidaklah menolak Tuhan Muhammad. Mereka hanya tidak bersedia menerima implikasi sosialnya.
Puncak dari gagasan ini bisa kita temui dalam Khutbah Wada', khutbah perpisahan Nabi menjelang wafatnya. Di hadapan ribuan sahabat, Nabi menegaskan:
"Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, dan tidak ada kelebihan non-Arab atas orang Arab. Tidak ada kelebihan orang berkulit putih atas orang berkulit hitam, dan tidak ada kelebihan orang berkulit hitam atas orang berkulit putih kecuali karena takwa." (Musnad Ahmad, No. 23489).
Kalimat Nabi itu mungkin terdengar biasa hari ini. Namun pada abad ketujuh, ia merupakan pernyataan yang sangat radikal dan menyebalkan bagi elit Arab. Saat sebagian besar masyarakat dunia masih mengukur manusia berdasarkan darah, ras, dan status sosial, Muhammad malah mengajarkan semua manusia berdiri pada derajat kemanusiaan yang sama.
Karena itu, menarik membaca pandangan Ali Shariati, intelektual Muslim asal Iran yang banyak berbicara tentang dimensi sosial Islam. Dalam bukunya On the Sociology of Islam, Shariati menjelaskan, tauhid adalah konsep teologi di satu sisi, juga sebagai pandangan hidup yang membebaskan manusia dari segala bentuk dominasi di sisi lain.
Baginya, pengakuan terhadap Tuhan Yang Esa sekaligus merupakan penolakan terhadap aristokrasi, feodalisme, dan segala sistem yang memungkinkan sebagian manusia merasa lebih mulia daripada yang lain.
Dari kerangka ini, bisa kita temui letak perbedaan mendasar antara gagasan masyarakat tanpa kelas ala Muhammad dan konsep masyarakat tanpa kelas dalam tradisi marxisme. Jika Marx memulai analisisnya dari konflik ekonomi, Muhammad memulainya dari kesadaran spiritual. Jika Marx berbicara tentang pertentangan kelas, Muhammad berbicara tentang persaudaraan manusia.
Dan kalau keduanya kita negosiasikan, mereka bertemu pada satu kesimpulan, yaitu penolakan terhadap ketidakadilan yang lahir dari struktur sosial yang menempatkan sebagian manusia di atas manusia lainnya. Sayangnya, pesan inilah yang nampaknya mulai kabur, dan tidak menubuh pada zaman kekinian.
Lantaran sekarang kita tidak lagi hidup dalam sistem kasta seperti masyarakat Arab kuno, bukan berarti kita tidak menciptakan kelas-kelas baru. Saat ini, masih ada kelas ekonomi, kelas politik, kelas pendidikan, bahkan kelas keagamaan. Kita boleh-boleh saja mengaku percaya pada kesetaraan. Tapi sayangnya, diseberang sana, kita diam-diam masih mengukur manusia dari gelar, jabatan, dan kekayaannya. Bahkan klimaksnya, manusia oleh sebagian manusia telah dijadikan komoditi dalam sistem kapital.
Artinya, dunia memang boleh berubah. Tapi niscaya, masyarakat akan selalu menghadapi persoalan yang sama, yakni apakah kemanusiaan dihargai ataupun tidak. Doktrin ini, sesederhana apapun ia, akan sangat menentukan setting sosial sebuah masyarakat, tentang bagaimana cara kita membangun interaksi antar kelas. Karena pada dasarnya, kelas sosial tidak bisa dengan serta merta disetarakan, yang bisa kita upayakan adalah membangun pola interaksi yang humanis, setara, dan berkeadilan.
Dan Muhammad sebenarnya telah menjawab persoalan ini empat belas abad lalu. Hanya saja, hingga hari ini juga, agaknya jawabannya masih belum bisa kita wujudkan. Atau bahkan kabur dan tidak digali lebih jauh lagi.
Saya berpandangan, Nabi sebagai ‘status’ memang berhenti pada Muhammad, akan tetapi Nabi sebagai ‘fungsi’, sesungguhnya masih terus turun pada diri setiap umat. Maka pertanyaannya untuk kita semua, fungsi manakah yang telah kita jalankan sebagai khalifah fil ard?
Jawaban kita atas pertanyaan ini sangatlah penting sekali, karena jawaban itulah yang akan menentukan, akan seperti apa wajah agama ini. Serta, jawaban itu juga akan menjelaskan, apakah agama ini (Islam) akan menjadi agama yang bekerja atau justru tidak sama sekali. Wallahu 'alam

Komentar
Posting Komentar