Langsung ke konten utama

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan.


Pasar Keramat Pacet:

Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan

 

Pagi Minggu, 14 Desember 2025. Tepat pukul 07 pagi. Aku bersama rombongan teman asrama bertolak ke Pasar Keramat, Pacet, Mojokerto. Pasar yang sejak awal sering disebut-sebut namanya oleh teman sekamar. Pikirku, ini kesempatan untuk menyaksikan langsung, memverifikasi kebenaran cerita tentangnya.

Apa benar, pasar yang terletak di lereng Pacet, Mojokerto itu, semenarik yang diceritakan.

Dan, boom. Padat. Pengunjungnya dari luar pacet. Surabaya, Gresik, Malang, Tuban, sebut saja se-Jawa Timur. Hal itu tidaklah melebih-lebihkan. Karena terlihat mobil berderet panjang dengan plat berbeda-beda dan motor parkir rapi sampai ke halaman rumah-rumah warga.

Kenapa bisa seramai ini pikirku ? Ada apa di dalam sana ?

Ternyata, pasar keramat. Keramat bukan karena nama. Namun, keramat karena ia adalah mesin masa. Mesin waktu yang menawarkan kepulangan kita. 

Sejak awal, ia berbeda dengan mall yang terletak di jantung kota. Pasar Keramat tidak dibuka oleh mesin kasir, melainkan meja barter. Tempat di mana mata rupiah terlebih dahulu ditukar dengan koin kayu. Rupiah dibuat kehilangan wajah modernnya demi sebuah medium sederhana yang memaksa setiap orang melambat - bukan karena antrian, tetapi karena menyimak dan merasakan ke masa silam.

Sekeliling pasar, lapak-lapak bambu berdiri bersahaja, tata letaknya tidaklah teratur seperti pasar modern, tapi ia mampu mempola pengunjung untuk mencari dirinya. Bukan mereka menarik penjual, melainkan kita yang mencari-cari masa lalu kita sendiri yang ada dimeja lapak mereka.

Ditambah penjualnya mengenakan kostum masa lalu: kebaya, lurik, dan ikat kepala. Menjadikan  pasar ini bukan sekadar tempat berdagang, tetapi ruang yang sengaja menghidupkan kembali ingatan lama.

Di antara lapak itu, pagelaran budaya mengalun. Berdendang menuntun pengunjung. Seperti hipnotis. Ia membawa kita melompat ke masa Majapahit. Setidaknya begitu yang kita rasakan.

Ingat Indosiar ? ingat Angling Darma ? Jaka Tingkir ?. Difilm itu, pasarnya sama dengan pasar yang kita kunjungi, pasar keramat.

Sementara kita sedang memerankan diri seolah belanja di pasar majapahit. Dari setiap sudut, hidung kita dijajaki aroma jajanan tradisional yang jarang ditemui di kota, yang membius hidung setiap kita.

Aroma itu berasal dari makanan, yang rasa makanan itu sebenarnya sederhana. Namun kelebihannya, ia bisa menghadirkan suasana yang terasa akrab, sekaligus asing bagi manusia modern.

Klepon, jagung bakar, kue-kue tradisional itu, rasanya tidaklah senikmat Pizza, Popcorn, Spagheti, atau jenis makanan modern lainnya. Tapi ia mampu menawarkan suasana bukan rasa. Ia menyuguhkan ingatan bukan sebatas kenikmatan. Ia memberikan kita kesempatan belajar bahwa sederhana tidak selalu tertinggal.

Di Pasar Keramat Pacet, yang dipertukarkan bukan hanya barang, melainkan pengalaman dan kenangan. Ia memberikan kembali apa yang telah hilang dari setiap kita sewaktu berperang di kota. Yah, tentang waktu yang lebih pelan dan relasi yang lebih manusiawi.

Pasar Keramat, bagiku ia hadir bukan sekadar sebagai ruang jual beli. Ia adalah peristiwa kultural. Di sana, transaksi ekonomi berlangsung bersamaan dengan transaksi ingatan. Hal ini yang tidak ditawarkan pasar kota. Apa lagi pasar kapital.

Orang-orang kota, yang sehari-harinya hidup dibawah lampu neon, dipenjara dibalik layar gawai, dan berebut-kejar dalam ritme waktu yang sangat cepat. Sebetulnya, mereka datang bukanlah untuk membeli jajanan tradisional atau barang antik. Tetapi untuk mengalami apa yang kusebut masa silam yang terasa kian jauh dari kehidupan modern.

Membeli jajanan dan barang antik, itu hanyalah kamuflase. Luarnya memang mereka nampak membeli klepon. Akan tetapi, di balik itu, bukan kleponnya, melainkan ingatannya, suasana dan rasanya itulah yang mereka beli.

Di sana, mereka belajar ideologi pangan. Bagaimana daun pisang menjadi bungkus, ubi ditanam, dipanen, diolah jadi tepung. Mereka membeli pengetahuan. Sembari memakan kue itu, mereka menceritakan "nak ini berasal dari ubi".

Inilah yang disebut, dalam sosiologi, sebagai retrotopia, istilah yang diperkenalkan Zygmunt Bauman: kecenderungan masyarakat modern untuk mencari “utopia” bukan di masa depan, melainkan di masa lalu.

Ketika Kota modern gagal menepati janjinya sebagai ruang kebahagiaan. Maka Pasar Keramat Pacet menjadi semacam ruang pelarian. Bukan saja pelarian fisik semata, melainkan pelarian eksistensial.

Orang kota berbondong-bondong datang membawa kelelahan yang tidak selalu bisa dijelaskan: kelelahan oleh kompetisi, keterasingan, dan relasi sosial yang transaksional. Dan di pasar ini, waktu seakan dilambatkan. Tidak ada desakan algoritma, tidak ada target produktivitas. Yang ada adalah tawar-menawar yang bersahabat, aroma panganan lama, bahasa tubuh yang akrab, dan wajah-wajah yang tidak tergesa. Di sinilah kekosongan nilai akibat perubahan sosial yang cepat berhasil menemukan jeda.

Di Pasar ini juga, aku menemukan semacam praktik pemeliharaan ingatan kolektif (collective memory). Barang-barang antik, makanan tradisional, bahkan cara berdagang yang sederhana bukan sekadar artefak, tetapi simbol identitas.

Ia membangunkan kita, menghidupkan dan menempatkan kita kembali menjadi manusia relasional. Pasar ini bukan museum, ia hidup. Di sini masa lalu tidak dipajang, tetapi dihidupi kembali.

Namun, bukan berarti juga masa lalu itu lebih adil atau lebih sejahtera. Tapi romantisme ini, bisa dibaca sebagai luapan kritik terhadap modernitas yang terlalu mekanistik.

Kalau dalam bahasa Marx, manusia kota disebut mengalami alienasi. Keterasingan dari kerja, dari sesama, bahkan dari dirinya sendiri. Dan di saat itulah Pasar Keramat menemukan perannya, ia menjadi ruang di mana alienasi itu sejenak mencair.

Mengapa manusia abad kekinian justru menyukai situasi masa silam? Karena masa silam, dalam ingatan kolektif, masih menyimpan wajah kemanusiaan yang mulai aus dalam kehidupan modern.

Maka, aku melihat, Pasar Keramat bukan ajakan untuk mundur ke belakang, melainkan pengingat bahwa masa depan tidak akan sehat jika masa lalu dihapus begitu saja.

Pasar Keramat Pacet bukan habya sebatas destinasi wisata budaya. Ia adalah ruang kritik sosial, tempat masyarakat modern bercermin: bahwa kemajuan tanpa akar hanya akan melahirkan manusia cepat, tetapi rapuh; pintar, tetapi hampa. Dan mungkin, justru di sela-sela aroma jajanan lawas sederhana itulah, manusia modern kembali menemukan dirinya sebagai manusia, bukan sekadar pengguna zaman.

Sungguh, pagi tadi, aku tidaklah sekadar membeli karcis masuk, melainkan membeli kartu mesin waktu. Pagi tadi, aku bukan membeli barang tapi membeli ingatan. Pagi tadi, aku tidak hanya membeli klepon tapi membeli rasa kecil. Mereka menjual sesuatu yang kita cari, yakni masa lalu, ingatan, dan suasana yang sebenarnya kita rindukan.

Pasar Keramat, adalah upaya menjaga masa lalu. Sebelum anak cucu kita, tidak lagi bisa membedakan antara kunang-kunang dan lampu merah.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang

  Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang Oleh: Suriadi Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya. Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia. Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan. ...

Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering

  Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering   Oleh: Suriadi   Negeri ini ribut lagi. Jagat media sosial hampir mencapai titik paling didih membahas lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat. Seorang peserta dianggap salah karena artikulasinya dinilai tidak jelas. Sementara, menurut banyak orang yang menonton videonya berulang-ulang sambil memakai headset volume penuh, jawaban itu sebenarnya benar. Akhirnya, publik mengamuk. MPR minta maaf. Juri dan MC dinonaktifkan. Video dipotong, disebar, diulang, dijadikan meme, dijadikan bahan roasting nasional. Tabiat yang sudah lumrah ala netizen kita. Dan seperti biasa, internet Indonesia selalu bekerja sangat total ketika menemukan satu orang yang bisa dijadikan tersangka sosial. Ada yang menguliti ekspresi wajah jurinya lalu membedah intonasinya. Ada juga yang mendadak jadi pakar fonetik nasional hanya karena pernah ikut lomba pidato 17-an waktu SD. Timeline penuh dengan orang-orang yang tampaknya ...