Politik Meme
Oleh: Suriadi
Hari-hari ini terpotret percakapan politik yang semakin ramai. Di media sosial berkelindan komentar, satire, meme, video pendek, dan berbagai bentuk ekspresi politik lainnya. Isu publik menyebar dalam hitungan detik. Pernyataan pejabat dipantau banyak mata, disimak banyak telinga, apa yang diucap pada pagi hari dapat berubah menjadi bahan olok-olok nasional sebelum malam tiba.
Ia nya pun akhirnya mematahkan anggapan bahwa generasi kekinian apatis terhadap politik. Dikuatkan oleh rilis survei Litbang Kompas (2021-2024) yang memaparkan data melek politik generasi Z dan Y berada diangka 56%. Dan pelbagai keriuhan itulah suaranya, yang menandakan mereka sebetulnya tidak meninggalkan politik, mereka hanya bergeser ke ruang politik yang berbeda.
Terma paling dekat untuk menjelaskannya lebih lanjut, barangkali adalah politik berpindah ke layar. Dan di sana lah juga kritik publik mengalami pergeseran. Dalam arti, minat publik cenderung meninggalkan kritik dalam bentuk artikel atau diskusi panjang. Boleh juga dikatakan, kalau-kalau publik kini kurang minat mendalami isu yang tengah dipercakapkan. Sehingga minat politik itu termanifestasi dalam meme dan satir kreatif di ruang digital, yang menawarkan sesuatu yang meledak dan sifatnya cepat. Sebagai misal, taruhlah yang belakangan viral, lagu jenaka tentang bahlil.
Dalam banyak hal, media sosial diakui berhasil melakukan sesuatu yang di anggap gagal dilakukan di ruang-ruang politik konvensional, yakni membuat masyarakat tertarik membicarakan urusan publik. Tetapi, masih terdapat satu dua hal yang patut dibincangkan di wilayah itu.
Pada pandangan pertama, fenomena meme bisa dibaca sebagai respons atas ketimpangan yang menganga dalam hubungan antara warga negara dan institusi yang seharusnya mewakili suara masyarakat. Dan ini bagus.
Kedua, fenomena ini juga menandai perubahan penting dalam cara masyarakat mengekspresikan aspirasi politiknya, di mana bahasa politik mengalami transformasi, ia bergerak ke dalam logika viralitas.
Di situ pula saya asumsikan ada potensi masalah, yaitu terjadinya percepatan yang boleh jadi justru akan mencipta pendangkalan.
Pengalaman politik kita beberapa waktu ini memperlihatkan hal itu dengan telanjang, di mana potongan video berdurasi tiga puluh detik mampu menyuluh kemarahan publik. Meme dapat mendulang dukungan politik dan mengubah konstalasi dengan cepat.
Artinya, unggahan semakin berpengaruh, dapat membuat seseorang menentukan posisi. Hanya saja, akan sangat disayangkan, jika penentuan posisi itu lahir tanpa pernah membaca persoalan yang melatarinya. Dan hal inilah yang saya asumsikan akan hilang. Jalan memahami itu dipangkas oleh reaksi yang memiliki daya kejut lebih besar (meme). Yang dalam bahasa berbeda, boleh dikata politik digital kini berhasil menambang partisipasi publik yang tidaklah benar-benar memahami apa yang sedang dibicarakan.
Fonemena ini yang secara perlahan berpeluang merubah watak dalam percakapan politik kita ke depan. Fokus hanya berlebih kepada tokoh, identitas kelompok, atau sekadar fomo. Tidak lagi sepenuhnya mengurai atau menguji kebijakan dan membincang subtansi. Suara ramai, tetapi suara yang tidak mewakili pemahaman, dan itu jugalah jenis suara yang mudah digiring untuk dipola.
Asusmi ini dimungkinkan terjadi apabila tercipta situasi, yang di sana kemarahan, sindiran, dan sensasi, mengalahkan penjelasan, argumentasi dan pengetahuan. Artinya, kita sekadar mengikuti kehendak arsitektur ruang digital yang memang dirancang untuk memenangkan perhatian.
Kalaupun berbicara demokrasi, tentu saja demokrasi tidak mencita-citakan suara yang hanya ramai saja. Karena seperti yang diucap Cak Nur, demokrasi membutuhkan warga yang mampu bersuara sekaligus bersedia memahami. Dan pada tahap lanjutan, ia siap berperilaku demokratis dan bersedia memperlakukan orang lain dengan demokratis pula. Karena itulah biasanya, kebebasan yang tak diiringi pengetahuan mudah berubah menjadi manipulasi.
Tentu, ini bukan ajakan untuk memusuhi meme, satire, atau budaya digital. Meme kita akui menjadi pintu masuk bagi kesadaran politik masa kini. Pun satire sejak dulu telah menjadi cara masyarakat mengoreksi kekuasaan. Masalahnya hanya satu, ketika pintu masuk itu dianggap sebagai tujuan akhir, maka yang tersisa adalah gema dari ribuan suara yang saling bersahutan, tanpa pernah benar-benar bertemu dalam pengertian yang sama.
Dan di balik fenomena ini, kita berharap, meme, satire, dan model lainnya itu, tidak sedang menjadi tren yang hanya di ikuti karena riuhnya saja. Kalau demikian yang terjadi, maka dipastikan, bahasa politik memang semakin bising, tapi memahami apa yang dibincangkan akan menemukan kata hening.
Dengan demikian, rakyat akan semakin mudah digiring, yang dalam bahasa Gramsci, ia sebut hegemoni integral. Rakyat merasa bergerak, padahal ia sedang bergerak dalam peta jalan yang lahir dari sengketa antar elit (oligarki). Kalau dalam permainan kartu domino, ada istilah yang mirip: "kita merasa sedang bermain, padahal kita justru sedang bermain dipermainan orang lain".

Komentar
Posting Komentar