Ke mana Moncong Pesawat, ke sana Arah Pendidikan
Oleh: Suriadi
Ingatkah dulu, sewaktu kita kecil, kita punya kebiasaan unik. Setiap kali melihat orang baru yang menurut kita keren, kita langsung meniru semuanya.
Kalau yang datang pemain bola, mendadak ingin jadi striker. Kalau yang datang tentara, esoknya berjalan tegap sembari membawa kayu seperti senapan. Kalau yang datang penyanyi, tetiba menyisir rambut dan merasa diri artis.
Dan biasanya, kebiasaan begini tak pernah bertahan lama. Karena yang ditiru bukan tujuan hidup orang-orang itu. Tak lebih hanya penampilannya, dan atribut lain yang menempel pada mereka.
Entah mengapa, saya ingat kelakuan itu. Dan belakangan, menemukan kebiasaan serupa dalam kehidupan berbangsa.
Publik baru saja mendengar pentingnya pengajaran bahasa Portugis setelah Presiden berkunjung ke Brasil. Tak lama kemudian, muncul lagi gagasan perlunya memperluas pembelajaran bahasa Prancis setelah kunjungan ke Prancis. Menanggapinya, respon publik terpecah, separuh mendukung, sisanya geger.
Tentu, tidak ada yang salah dengan bahasa Portugis. Tak ada pula yang keliru dengan bahasa Prancis. Bahasa adalah jendela menuju peradaban. Semakin banyak bahasa yang dikuasai, dimungkingkan semakin luas cakrawala manusia, pun bangsa. Dan untuk apa juga dipermasalahkan, bukankah keduanya adalah bahasa besar yang melahirkan tradisi intelektual dan kebudayaan yang kaya?.
Tetapi persoalannya bukan di sana. Yang ganjal ialah, kesan bahwa arah pendidikan nasional seperti bergerak mengikuti arah penerbangan pejabat negara. Seolah, setiap kali pesawat kenegaraan mendarat di sebuah negara, kita langsung menemukan hal baru yang harus diajarkan kepada jutaan anak Indonesia, segera!.
Pelik saja, mengapa setiap kali kita bertemu sebuah bangsa, yang muncul pertama kali adalah keinginan untuk meniru sesuatu dari bangsa tersebut?. Seakan Indonesia adalah seorang tamu yang selalu kagum pada rumah orang lain, dan selalu lupa merancang rumahnya sendiri.
Padahal, pendidikan bukan koper diplomasi yang bisa diisi sesuai tujuan perjalanan berikutnya. Pendidikan adalah proyek peradaban, bukan perkara kecil. Mengurusnya tidak semudah mengganti foto profil medsos yang bisa diubah kapan saja sesuai suasana hati.
Apa yang diajarkan hari ini akan membentuk cara berpikir generasi yang bahkan belum lahir. Karena itu, saya membayangkan betapa lucunya jika logika yang sama bekerja secara kontinu. Hari ini ke Brasil, belajar Portugis. Besok ke Prancis, belajar Prancis. Lusa ke Jepang, mungkin kita ramai-ramai belajar Jepang. Minggu depan ke Turki, bisa saja itu lagi yang menjadi prioritas nasional.
Kurikulum dibuat laiknya catatan perjalanan luar negeri. Sementara, ahli pendidikan mengganggap ia adalah peta jalan sebuah bangsa untuk puluhan tahun ke depan. Karena itu, keputusan mengenai bahasa apa yang perlu diperkuat, semestinya berangkat dari kebutuhan strategis apa yang sebenarnya ingin dibangun Indonesia.
Karena, yang akan mempelajarinya bukan hanya para diplomat atau pejabat negara. Yang akan menanggung konsekuensinya adalah jutaan siswa, ribuan guru, dan sumber daya pendidikan yang tidak sedikit. Maka mustinya, kita masuk pada persoalan yang lebih dalam, yakni bagaimana sebetulnya cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.
Bangsa yang percaya diri, biasanya belajar bahasa asing karena kebutuhan mereka sendiri, memiliki tujuan yang jelas, lalu memilih bahasa yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Bahasa adalah alat. Ia seperti kapal. Dan ini bukan tentang kapal apa yang paling indah, melainkan pelabuhan mana yang ingin dituju. Jepang belajar bahasa asing bukan karena kagum kepada bangsa lain. Mereka belajar karena ada kepentingan nasional yang ingin dicapai. Cina juga demikian. Mereka tidak bangun dengan "hari ini kita ingin meniru siapa?". Mereka bangun dengan sesuatu yang jauh lebih penting, "hari ini kita ingin menjadi apa?"
Selanjutnya, ciri negara yang 'mau' maju itu, absahnya punya kemampuan menerjemahkan dunia ke dalam bahasa mereka sendiri. Jepang dan Cina melakukan hal senada. Bahkan Prancis, terkenal sangat protektif terhadap bahasanya karena memahami bahwa bahasa adalah kedaulatan budaya, di samping sebagai alat komunikasi.
Barangkali ini yang hilang dalam percakapan elit kita, ialah luput membicarakan Indonesia ingin menjadi bangsa seperti apa. Apakah ingin menjadi pusat teknologi? Kekuatan maritim? Negara industri maju? Pusat ekonomi syariah dunia? Atau pusat kebudayaan terbesar di kawasan Asia Tenggara?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, pada turunannya akan menentukan bahasa apa yang sesuai, ilmu apa yang perlu diprioritaskan, bahkan jenis manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan melalui pendidikan. Bahasa dan perangkat lainnya akan mengikut karena menjadi konsekuensi wajib dari visi besar suatu bangsa.
Maka, kalau kita tidak punyai jawaban yang sahih, kebijakan pendidikan mudah berubah menjadi kumpulan respons spontan terhadap berbagai peristiwa yang datang silih berganti. Hari ini mengikuti satu arah. Besok mengikuti arah yang lain. Laksana debu yang musafir karena angin.
Padahal, pendidikan adalah kompas. Karena itu, saya kira pertanyaan terbesar dari polemik bahasa Portugis dan bahasa Prancis bukan saja soal bahasa itu sendiri. Bukan juga tentang bahasa apa yang akan kita ajarkan setelah kunjungan kenegaraan berikutnya nanti?. Melainkan, ke mana sebenarnya Indonesia ingin menuju?
Sebab, kalau Presiden ke Brasil kita belajar Portugis, dan kalau ke Prancis kita belajar Prancis, maka pertanyaan yang tersisa adalah, kalau kita ingin pergi ke masa depan, kita harus belajar apa?

Komentar
Posting Komentar