Langsung ke konten utama

Mungkinkah Iman Tertinggal di Altar Sembah



Mungkinkah Iman Tertinggal di Altar Sembah

Oleh: Suriadi

Ada ungkapan yang sering disandarkan pada sosok Hubert Reeves (1932-2023). Seorang astrofisikawan dan penulis. Juga pemopuler sains terkemuka asal Kanada-Prancis.

Begini bunyi ungkapan itu: "Manusia adalah spesies paling gila. Mereka menyembah Tuhan yang tidak terlihat dan menghancurkan alam yang terlihat, tanpa menyadari bahwa alam yang mereka hancurkan adalah ciptaan Tuhan yang mereka sembah"

Hemat saya, ungkapan di atas sangat "masuk". Kalimat yang bagi saya mampu mengoreksi bilik iman manusia. Bahwa terdapat sesuatu yang janggal dalam cara manusia menjalani imannya, saat ini.

Sehingga, dalam beberapa kesempatan pidato. Kerap juga saya sampaikan kalimat yang kurang lebih nafasnya sama:"betapa disaat berbuat kebaikan kita yakin Tuhan melihat kita, tapi kenapa sewaktu berbuat keburukan kita seolah yakin pula bahwa Tuhan itu maha buta".

Bangganya kita menyebut diri ini beriman. Bahkan pada tahap tertentu, kita merasa berang saat iman ini diganggu. Kita percaya pada Tuhan yang tak terlihat, dan pengakuan itu diulang-ulang dalam momen-momen yang kita anggap sakral.

Sayangnya, hanya sampai di situ saja kita merasa selesai sebagai manusia yang religius. Semua kelihatan berbeda saat kita keluar dari altar penyembahan.

Di luar, semuanya berjalan seperti tidak ada hubungan apapun dengan keyakinan tadi. Hutan ditebang tanpa ragu dan sungai dibuat jadi tempat sampah raksasa. Iman, dari laku ini, kelihatannya hanya hadir di ruang ibadah yang sempit. Soal dunia yang kita injak setiap hari, itu lain cerita.

Saya melihat ada pemisahan yang cukup aneh. Kalau kita bilang Tuhan adalah pencipta segala sesuatu. Iman kita juga percaya alam adalah ciptaan-Nya. Kenapa ketika berhadapan dengan alam, kita bertindak seperti tidak sedang berurusan dengan sesuatu yang berasal dari-Nya.

Sadarkah, bahwa kita tidak sedang berada di atas alam, sehingga kita boleh menginjaknya sesuka hati, seenak jidat. Justru kita ini ada di dalamnya. Lebih jauh, kita adalah bagian dari alam itu sendiri.

Dengan demikian, kalau kita benar-benar menerima bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman, seyogyanya banyak hal yang akan berubah. Mulai cara kita mengonsumsi, memproduksi, termasuk cara kita melihat kemajuan itu sendiri. Bahwa tidak semua yang menguntungkan bisa dibenarkan. Dan tidak semua yang legal bisa dianggap layak.

Lebih lanjut. Bagi manusia beragama, tidak ada wilayah yang benar-benar netral. Segala yang berkaitan dengan hal ihwal kehidupan manusia, semua disentuh agama. Sebab itu, mau tidak mau, suka atau tidak, kita musti sering mengoreksi ke luar: untuk apa semua itu dikejar tunggang langgang kalau ujungnya merusak tempat kita sendiri hidup.

Hari ini, kita beriman, iya. Dan pada saat yang sama, kita juga merusak, tanpa banyak tanya.

Olehnya itu, iman seperti ini diibaratkan resep dokter. Kekacauan yang kita sebabkan bukan karena resep yang salah. Melainkan, karena kita tak ubahnya seperti pasien yang tak pernah mau menebus resep dokter yang telah diberikan itu.

Bagaimana mungkin resepnya salah. Sementara obat dari resep itu tak pernah benar-benar kita coba. Itu sebabnya, sakit kita tidak akan pernah sembuh.

Dan tahu tidak, ada diantara kita yang lebih mengerikan. Adalah ia yang tak menebus resep, tak mengambil obat, namun cukup berani menyalahkan ilmu kedokteran (baca: agama), bahkan menganggapnya tidak berguna.

Padahal, semua yang terjadi di sekitar kita, apapun bentuk kerusakannya, semua itu bukan salah agama, bukan salah iman, bukan pula salah Islam. Tapi salah kita; meninggalkan resep-resep kesembuhan yang telah disiapkannya.

Saya pinjam ucapan Muhammad Abduh: "Agama itu satu hal, sementara umat beragama itu lain hal." Agama memberikan resep, tapi umat tak pernah menggunakannya. Dan barangkali, selama dua hal itu terus berjalan berdampingan tanpa pernah dipertemukan, pelbagai kegilaan akan tetap terasa masuk akal.

Sebagai penutup, perlu dipertegas ulang, saya tidak sedang berupaya menyalahkan agama. Karena sekali lagi, "Din (agama) itu satu hal. Sementara tadayyun (cara beragama) itu lain hal."

Sesungguhnya, tulisan ini hanyalah upaya kecil dari seorang manusia beragama (penulis), yang sedang mencari-cari wujud iman dalam tadayyun (cara beragama) kita. 

Entah, di mana iman itu sedang berada. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan.

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan   Pagi Minggu, 14 Desember 2025. Tepat pukul 07 pagi. Aku bersama rombongan teman asrama bertolak ke Pasar Keramat, Pacet, Mojokerto. Pasar yang sejak awal sering disebut-sebut namanya oleh teman sekamar. Pikirku, ini kesempatan untuk menyaksikan langsung, memverifikasi kebenaran cerita tentangnya. Apa benar, pasar yang terletak di lereng Pacet, Mojokerto itu, semenarik yang diceritakan. Dan, boom. Padat. Pengunjungnya dari luar pacet. Surabaya, Gresik, Malang, Tuban, sebut saja se-Jawa Timur. Hal itu tidaklah melebih-lebihkan. Karena terlihat mobil berderet panjang dengan plat berbeda-beda dan motor parkir rapi sampai ke halaman rumah-rumah warga. Kenapa bisa seramai ini pikirku ? Ada apa di dalam sana ? Ternyata, pasar keramat. Keramat bukan karena nama. Namun, keramat karena ia adalah mesin masa. Mesin waktu yang menawarkan kepulangan kita.  Sejak awal, ia berbeda dengan mall yang terletak di jantung ...

Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang

  Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang Oleh: Suriadi Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya. Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia. Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan. ...

Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering

  Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering   Oleh: Suriadi   Negeri ini ribut lagi. Jagat media sosial hampir mencapai titik paling didih membahas lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat. Seorang peserta dianggap salah karena artikulasinya dinilai tidak jelas. Sementara, menurut banyak orang yang menonton videonya berulang-ulang sambil memakai headset volume penuh, jawaban itu sebenarnya benar. Akhirnya, publik mengamuk. MPR minta maaf. Juri dan MC dinonaktifkan. Video dipotong, disebar, diulang, dijadikan meme, dijadikan bahan roasting nasional. Tabiat yang sudah lumrah ala netizen kita. Dan seperti biasa, internet Indonesia selalu bekerja sangat total ketika menemukan satu orang yang bisa dijadikan tersangka sosial. Ada yang menguliti ekspresi wajah jurinya lalu membedah intonasinya. Ada juga yang mendadak jadi pakar fonetik nasional hanya karena pernah ikut lomba pidato 17-an waktu SD. Timeline penuh dengan orang-orang yang tampaknya ...