Masjid Syekh Yusuf Gowa, Idul Fitri dan Tabiat sampah
Oleh: Suriadi
Pagi ini, saya melihat video di platform informasi KabarMakassar. Di pelataran Masjid Syekh Yusuf, selepas shalat Idul Fitri 1447 H/2026 M. Seolah tidak ada yang tersisa dari bekas sujud dalam diri manusia Islam di sana, selain hanya koran bekas yang menumpuk, tisu dan botol plastik yang berserakan. Bukan sedikit, banyak menggunung.
Tabiat itu, membuang dan membiarkan sampah, layak disebut keterlaluan. Bayangkan, semakin ke sini, tingkah itu makin berani, masjid juga telah ia sampah, bahkan itu terjadi di hari di mana seharusnya mereka merayakan kesucian dirinya. Saya menaruh curiga, boleh jadi, nanti, manusia pun akan disampahinya tanpa pikir.
Kita terbiasa memaknai Idul Fitri sebagai “kembali suci”. Namun mungkinkah, karena terbiasanya itulah hingga semuanya kian dianggap biasa.
Lalu, sebetulnya, kesucian macam apa yang kita maksud. Benarkah kita paham kesucian yang sedang kita cari itu seperti apa bentuk dan wujudnya. Atau kita sendiri telah gagal menerjemahkan suci yang kita mau.
Apakah yang hanya berhenti pada ritus, pada takbir yang dilantunkan, pada pakaian baru yang dikenakan, atau apa. Bukankah sejak maghrib hingga khatib naik mimbar, nama Tuhan selalu kita sebut-sebut. Bisa-bisanya, usai khatib mengakhiri khutbahnya, perintah Tuhan kembali kita injak-injak.
Kelakuan manusia-manusia Islam seperti ini, semakin menjelaskan Idul fitri dan segala ritualnya hanya tegak dilidah tapi tidak tegak pada tindakan kita yang mengalaminya. Ia tidak pernah benar-benar menjangkau etika keseharian. Idul Fitri, gagal ditangkap sebagai suatu peristiwa moral.
Fenomena sampah pasca-ibadah seringkali dianggap hal sepeleh. Pun kita kerap membela diri dengan kalimat, "kan nanti ada petugas kebersihan. Kan tempat sampah yang kurang". Tapi sepertinya, ini bukan soal kurangnya fasilitas tempat sampah atau lemahnya manajemen acara.
Akar persoalannya terletak pada apa yang dalam kajian sosiologi disebut sebagai disjunction (keterpisahan) antara kesadaran normatif dan praktik sosial. Kita tahu mana yang benar, kebersihan adalah bagian dari iman, tetapi pengetahuan itu tidak merubah sedikitpun tindakan.
Pun dalam Sosiologi Agama, kita temukan hal yang sama. Perilaku seperti ini sering disebut sebagai ritualisme tanpa etika. Agama dijalankan sebagai kewajiban formal, tetapi gagal menubuh dalam perilaku sosial. Yang berakibat tiap individu selalu merasa bahwa menjaga kebersihan bukan tanggung jawab personal, melainkan tanggung jawab kolektif yang kabur. Terjadilah, semua orang merasa tidak perlu bertindak. Satu bangkit meninggalkan sampah, semua ikut menyampah.
Padahal, dalam tradisi intelektual Islam, hubungan antara simbol dan substansi sebetulnya telah lama diperingatkan. Kaidah, “al-‘ibrah bil maqashid wal ma‘ani la bil alfazh wal mabani”, adalah kritik epistemologisnya. Bahwa makna selalu lebih utama daripada bentuk. Bahwa perubahan sejati tidak terjadi pada apa yang nampak, tapi pada orientasi batin yang melahirkan tindakan.
Kalau kita pinjam pikiran Cak Nur, mengenai sekularisasi nilai. Sejak dulu, kita juga telah diinggatkan tentang nilai-nilai agama yang terjebak dalam simbolisme sempit. Cak Nur kerap menjelaskan nilai-nilai agama akan semakin terpisah dari kehidupan manusia. Agama akan kian kering nilai. Dalam arti, tercerabut dari interaksi kehidupan.
Tapi, bagaimana pun juga dijelaskan. Manusia ini juga punya watak bebal. Apalagi habitus membuang sampah sembarangan bukan laku spontan. Itu adalah hasil dari kebiasaan yang terinternalisasi dalam jangka panjang. Telah diproduksi terus-menerus oleh lingkungan sosial yang permisif terhadap ketidakdisiplinan. Maka nampaknya, perubahan tidak lagi cukup dengan seruan moral sesaat, tetapi lebih kepada rekonstruksi kebiasaan kolektif.
Dengan kata lain, masalah ini tidak akan selesai dengan menambah tempat sampah. Itu penting, tetapi tidak cukup. Yang lebih mendesak adalah membangun kesadaran bahwa ruang publik adalah cermin moral kita bersama. Bahwa halaman masjid, bukan saja tempat transit ibadah. Di sanalah juga ruang etika, yang sesungguhnya sedang menguji sejauh mana iman bekerja.
Kalaulah setelah sebulan berpuasa kita masih meninggalkan sampah di tempat ibadah. Jangan lagi bertanya mengenai fasilitasnya, tapi tanya apa hasil puasanya.
Sebab itu, ini bukanlah tentang cat rumah yang baru, jika ia tak mampu mengubah warna sikap. Bukan tentang baju baru, jika perilaku tetap usang. Bahkan, bukan tentang sepatu baru, jika langkah kita masih mengarah pada ketidakpedulian.
Barangkali, kali ini idul fitri kita tidak suci. Karena pada pagi itu, di pelataran Masjid Syekh Yusuf, Gowa. Tertinggal sesuatu yang gagal kita bersihkan. Bukan saja sampah di ruang yang kita gunakan bersama. Tetapi sampah dalam kesadaran kita sendiri.

Komentar
Posting Komentar