Langsung ke konten utama

KIAI KAMPUNG: DEMONSTRAN MENULIS, NEGARA MENGHAPUS

 


“KIAI KAMPUNG: DEMONSTRAN MENULIS, NEGARA MENGHAPUS”


"Tetap satu barisan, satu kata: lawan!" Teriak jenderal lapangan. Jamaah aksi yang akbar itu serentak menjawab: "Lawan, lawan, lawan!".

Di kerumuman, terlihat juga muka unyil memerah, terpapar matahari, diperparah oleh gas air mata. Unyil, gembul dan umar; mereka berada di garis tengah di antara para pengunjuk rasa. Mereka bertiga jadi bagian besar - membesarkan gelaran demo awal September ini.

Lebih besar dari 98 ?. Mungkin iya. Tragedi kali ini dapat dikatakan lebih besar dari 98, ia tidak terpusat di jantung Jakarta. Melainkan di saraf kaki-kaki wilayah yang bisa melumpuhkan tubuh satu negara.

Semua bermula dari kemarahan yang seakan menemukan tubuhnya. Kemarahan yang muncul akibat dari pembiaran: di mana penderitaan sebenarnya bisa diatasi namun sengaja dibiarkan.

"Mundur.... lari.... ", teriak barisan depan.

Ribuan wajah-wajah muda berlarian.

Pandangan gelap, nafas putus-putus, mulut terasa pahit-asin. Terdengar suara memanggil namun kecil sekali: "nyil, nyil, nyil, sadar nyil".

Lima menit berlalu, suara itu semakin jelas, keras lalu besar memekik. Kesadaran unyil kembali, darah menetes, kulit kepala luka. 

Massa aksi menyaksikan darah itu – mendidih - maju, tragedi berdarah tak terelakkan. Saling serang - lempar - dibarengi cacian makian: anjing, woiiiii bangsat!. Marah semakin memuncak.

Seluruh massa aksi serempak melihat ke kanan: halte bus membuncah api, menjalar, menjilat gedung wakil rakyat.

Tujuh jam berlalu. Hari gelap, unyil, gembul dan umar kembali ke desa.

***

“Hot News, berita hangat, berita hangat”.

Unyil, Umar dan Gembul, menyaksikan dari layar kaca betapa menukiknya media menyudutkan massa aksi.

Gedung, halte bus, menjelma kobaran api. Di langit malam itu, asap mengepul. Udaranya bercampur  dengan sesuatu yang lebih getir: amarah dari rakyat.

Namun sayangnya berita yang menyambar sangat cepat seperti kilat yang memang telah berada di awan yang mendung seharian. Yang mereka tahu adalah rakyat marah, tak terkendali, bertindak brutal, makar dan semacamnya. Tuduhan-tuduhan, yang sekali lagi menyudutkan dan mengaburkan tuntutan serta sebab awal: kenapa ini semua bisa terjadi.

“Ditambah tuduhan berikutnya: gerakan ini ada provokatornya”. Ucap gembul

“Tidak ada provokator”. Tidak ada!. Tegas umar.

Tidak ada provokator yang bisa menggerakkan ratusan ribu jutaan massa di berbagai kota kecuali negara. Tidak ada sama sekali. Bahwa ada yang memanfaatkan situasi untuk tujuan-tujuan kecil mereka sendiri, itu selalu terjadi dalam pergolakan besar.

Aku mencurigai betul, tuduhan-tuduhan itu adalah wujud dari elit-elit kita yang selalu saja bersikap menolak atas situasi buruk yang mereka sendirilah penciptanya. Mereka juga selalu mengelak atas kemarahan rakyat yang mereka timbulkan, lalu mulai mencari-cari dalang dan menunjuk satu dua pihak tanpa bukti. Mencoba menggiring opini. Sehingga responnya kerapkali parsial dan melenceng dari persoalan.

“Kali ini elit salah besar”.

“Tidak gembul, elit bukan salah besar. Tapi memang elit tidak paham”.

Elit selalu berpikir dan mengharapkan dengan penuh kesombongan, bahwa mereka yang dipinggirkan dan disingkirkan akan selalu diam dan mereka yang didholimi akan selalu pasrah – karena status sosial – politiknya yang lemah. Kebiasaan ini sebutlah gagal paham dari para elit.

Kita harus banyak belajar sejarah sosial, bahwa masyarakat bisa bereaksi apa saja atas sebuah tindakan dan kebijakan. Tapi yah, hendak dikata apa lagi, realitas sosial masyarakat hari ini saja banyak elit tidak mampu memahaminya, apa lagi yang lalu-lalu: mengeja antropologi dan sosiologi bangsa ini. Kalau mereka paham, tentu tidak ada kejadian ini, karena sejarah negeri ini sudah mengajarkan, bukan sekali dua kali.

Elit tampak miskin kosa kata menjawab tuntuan demi tuntutan. Elit nampak pula kehilangan arah menghadapi ketidakpuasan rakyat atas respon kebijakan dan perilaku mereka sebagai kelompok bangsawan. Sehingga setiap kali ada suara berbeda terdengar, ia dianggap sumbang: dituduh sebagai propganda asing. Padahal sampai saat ini, tak pernah jelas: asing yang mana yang mereka maksudkan?.

 “Para elit seperti cenayang saja”. Sambung unyil.

Mereka mirip cenayang, mulai menunjuk hal-hal ghaib sebagai dalang kerusuhan ini. Intervensi asinglah, pihak di balik layarlah, atau apalah itu sebutan mereka. Semacam alien, atau mungkin hantu – pokoknya entitas tak kasat mata. Sengaja demikian, karena bagaimanapun entitas itu dituduh sebagai biang keladinya, meskipun dicari sampai ke perut bumi sekalipun, entitas khayali itu tidak akan pernah ditemukan.

Padahal penyebab karut marut situasi ini sangat objektif sekali, sangat empiris dan material. Dia tidak ghaib, hanya sedang coba dighaibkan.

Mar, mbul.... “kita hendak memperjelas kembali: bahwa semua bermula dari kemarahan yang seakan menemukan tubuhnya. Kemarahan yang muncul akibat dari pembiaran: di mana penderitaan sebenarnya bisa diatasi namun sengaja dibiarkan”. Tegas unyil.

Marah bukan karena krisis dunia, tapi karena kebijakan yang tiba-tiba berubah arah. Benarlah apa yang dikatakan kiai kampung  itu: “Miskin bukan takdir, ia adalah buah dari pohon kebijakan yang tidak menaungi rakyat kecil”.

Benar juga bahwa penderitaan rakyat bukan takdir melainkan akibat dari keputusan yang ditunda-tunda, sengaja. Dibiarkan, dianggap baik-baik saja, padahal amarah sedang mencari mulut yang siap menyuarakannya.

Saluran politik kerakyatan menyempit. Undang-undang dan kebijakan diputuskan dalam ruang-ruang tertutup. Ekonomi rakyat terjepit. Pajak mencekik. Puncaknya, para dewan bergoyang-riang, menari-nari usai disahkannya kenaikan tunjangan. Menari bahagia sementara arus bawah melemah, rakyat menderita. Dan akhirnya, dewan memberikan kalimat klimaks, kata tak layak: Tolol!.

Media merekam, sangat cepat masuk ke  gawai rakyat. Di warung kopi, di ponsel, dari kampus ke kampus, dari rumah ke rumah, narasinya sama: marah. Rakyat menemukan bahasa yang paling purba, marah menemukan bentuknya dengan jelas, seperti yang kita lihat hari ini: pembakaran, perusakan, pemukulan, wujud yang dituduh vandalisme – kekerasan tak bertuan.

Padahal, kalau dicermati ulang, ini tidak akan terjadi andaikan para dewan merespon sebelum kemarahan menemukan wujudnya?. Ini tidak akan terjadi andaikan pemutus kebijakan dan pengelolah anggaran negara tidak mengabaikan perut yang kosong. Ini tidak akan terjadi jika rakyat dengan segala deritanya tidak dikatakan tolol. Ini tidak akan terjadi jika saja para dewan tidak menari-nari di ruang megah sementara rakyatnya lapar nan derita. Ini tidak akan terjadi kalau dewan sedikit bijak mengurusi rakyatnya. Ini tidak akan terjadi jika elit mengakui bahwa situasi buruk yang terjadi mereka sendirilah penciptanya. Ini tidak akan terjadi jika elit tidak mengelak atas kemarahan rakyat yang mereka timbulkan. Ini tidak akan terjadi andai saja elit mengerti bagaimana caranya menyesal di depan.

Menghadapi itu semua, rakyat dilanda kebingungan, langkah apa lagi yang hendak mereka tempuh agar diperhatikan. Setiap waktu mereka berteriak: kami di sini, kami ada, kami ingin didengar, lihat kami, jenguk kami, papah kami, perhatikan kami!. Tapi suara itu dianggap jauh, mungkin berada dibelahan bumi lainnya atau dari planet tak berpenghuni. Sehingga tidak ada cara lain lagi untuk menunjukkan keberadaan mereka selain membuat sistem berhenti sejenak, meskipun melalui kekacauan dan kekerasan. Mirip seperti anak kecil, yang bicara namun diabaikan, nangis namun disalah pahami, maka ia kadang merusak untuk sekadar dilihat bahwa ia ada dan ia punya keinginan.

Sekarang tersisa puing-puing kemarahan, sisa-sisa pembakaran. Dan itu bukti betapa bahaya kehilangan kepercayaan pada janji. Betapa ngeri kehilangan ruang berbicara. Betapa pilu melihat harapan rapuh terjatuh.

Mungkin penyesalan bagi mereka yang mau belajar, dan mungkin juga sebagian yang berwatak jahat akan mulai tertawa menyusun ulang rencana jahatnya.

***

Tiba-tiba suara tegas terlontar dari toak surau, memecah keheningan lorong desa. Desa yang sepi nampak ramai di satu tempat. Berkerumun orang-orang di Surau Al Insan (Perkumpulan manusia)

Umar, Gembul, dan unyil, terfokuskan pada suara yang akrab. Itu pasti Kiai Kampung. Ucap unyil semangat.

Pasti ada hal penting yang akan disampaikan.

"Ayoo....., lekas ke Surau". Pinta unyil memaksa.

***

"Saudara-saudara sekalian"

Negeri kita dilanda tragedi. Informasi pun seperti tsunami yang menggulung. Sulit kita bedakan, mana air bersih dan sampah, bercampur semuanya.

Berkumpulnya kita di Surau ini untuk sama-sama mendapatkan wasiat. Mencari pikiran-pikiran alternatif untuk menyaring informasi dan mengenali langkah ke depan.

"Saudara-saudara sekalian"

Hari ini aku diminta menahan suara kalian, aku diminta memberikan nasehat agar kalian tetap di rumah dan tenang. Aku diminta agar kalian dingin.

Namun aku juga sadar, aku tidak ingin menjadi tokoh agamawan yang kadang-kadang bijaksana, tetapi tidak adil dalam berfatwa.

Aku takut ditagih: di mana mereka (tokoh agamawan) sewaktu ketimpangan sosial dibiarkan. Praktik korupsi didiamkan. Jual beli hukum ditoleransi. Justru mereka muncul ikut jadi pelaku praktik gratifikasi politik menjelang pemilu.

Giliran kerumunan massa berunjuk rasa, dan sebagian oknum yang kurang jelas melakukan anarkisme dan perusakan fasilitas publik "secepat itu" mereka muncul mengharamkan.

“Saudara-Saudara Sekalian”

Aku tidak akan menahan, aku hanya ingin melontarkan pikiran:

“Anarkis dan merusak fasilitas publik tentu haram. Tapi ingat, membiarkan ketimpangan sosial juga haram. Memperlakukan rakyat semena-mena jauh lebih haram!”

Unyil, umar dan gembul, tidak hanya menyaksikan api dari layar ponsel namun melihat Kiai Kampung di Desa nya – menyalakan lilin-lilin kecil – menyinari harapan: Negara ini bisa pulih kembali.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan.

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan   Pagi Minggu, 14 Desember 2025. Tepat pukul 07 pagi. Aku bersama rombongan teman asrama bertolak ke Pasar Keramat, Pacet, Mojokerto. Pasar yang sejak awal sering disebut-sebut namanya oleh teman sekamar. Pikirku, ini kesempatan untuk menyaksikan langsung, memverifikasi kebenaran cerita tentangnya. Apa benar, pasar yang terletak di lereng Pacet, Mojokerto itu, semenarik yang diceritakan. Dan, boom. Padat. Pengunjungnya dari luar pacet. Surabaya, Gresik, Malang, Tuban, sebut saja se-Jawa Timur. Hal itu tidaklah melebih-lebihkan. Karena terlihat mobil berderet panjang dengan plat berbeda-beda dan motor parkir rapi sampai ke halaman rumah-rumah warga. Kenapa bisa seramai ini pikirku ? Ada apa di dalam sana ? Ternyata, pasar keramat. Keramat bukan karena nama. Namun, keramat karena ia adalah mesin masa. Mesin waktu yang menawarkan kepulangan kita.  Sejak awal, ia berbeda dengan mall yang terletak di jantung ...

Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang

  Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang Oleh: Suriadi Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya. Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia. Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan. ...

Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering

  Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering   Oleh: Suriadi   Negeri ini ribut lagi. Jagat media sosial hampir mencapai titik paling didih membahas lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat. Seorang peserta dianggap salah karena artikulasinya dinilai tidak jelas. Sementara, menurut banyak orang yang menonton videonya berulang-ulang sambil memakai headset volume penuh, jawaban itu sebenarnya benar. Akhirnya, publik mengamuk. MPR minta maaf. Juri dan MC dinonaktifkan. Video dipotong, disebar, diulang, dijadikan meme, dijadikan bahan roasting nasional. Tabiat yang sudah lumrah ala netizen kita. Dan seperti biasa, internet Indonesia selalu bekerja sangat total ketika menemukan satu orang yang bisa dijadikan tersangka sosial. Ada yang menguliti ekspresi wajah jurinya lalu membedah intonasinya. Ada juga yang mendadak jadi pakar fonetik nasional hanya karena pernah ikut lomba pidato 17-an waktu SD. Timeline penuh dengan orang-orang yang tampaknya ...