Langsung ke konten utama

DIALOG ORANG KAMPUNG : UNYIL DAN GEMBUL

 

DIALOG ORANG KAMPUNG : UNYIL DAN GEMBUL


Mendadak gerimis yang kecil-kecil itu berubah menjadi hujan yang amat derasnya.

“Lihat itu!” Unyil membentak Gembul.

“Apa matamu sudah buta? Apa hatimu telah jadi kerikil bengkak? Sejak fajar tadi, alam berbicara amat jelas. Langit yang mendung kini menangis keras. Angin yang sejak tadi menahan perasaannya akan segera berteriak lalu mengamuk. Tanah kita akan tercacah-cacah dan seluruh penduduk akan ditimpa kerundungan; kemurungan hati yang tidak bisa mereka terjemahkan”.

“Gembul menyela, nanti saja mengeluh, aku juga sedang pusing”.

Unyil badannya memang kecil tapi suaranya lantang. Mirip si miskin yang selalu teriak keadilan. Suaranya besar, tapi tak terdengar. Karena pendengar, cenderung melihat siapa yang berteriak, bukan apa yang diteriakkan. Teriakan itu layaknya dagang, menguntungkan apa tidak, sesuai kepentingan apa tidak. Kalau datangnya dari orang yang dapat memberikan keuntungan yah didengar. Jika tidak, yah pura-pura tuli. Dan tentu, manusia cenderung suka berpihak pada kepentingan yang menguntungkan.

Langit mulai menutup mukanya dengan berlapis-lapis mendung dan dari selah jari-jemarinya meleleh gerimis jatuh setetes demi setetes.  Angin kaku. Pohon-pohon dan dedaunan menundukkan wajahnya dalam-dalam tanda takut.

Sedikit lagi masa depan akan gelap, awan akan lenyap, langit akan robek. Bumi akan menggigil. Gelombang, getaran, tiupan angin, letupan gunung akan terjadi. Sebagai reaksi, penanda bahwa ia dirusak oleh penghuninya. Unyil berfikir, ini merupakan tanda alam sedang berduka. Bukankah demikian mbul ?

Mungkin demikian. Manusia lahir dengan potensi. Baik, buruk. Jahat, tidak. Watak itu melekat tanpa bisa hilang. Saling perang untuk menentukan watak mana yang akan menang. Tidak ada satupun yang bisa lepas darinya. Pejabat, pemikir, pemangku agama, kaya, miskin, semua dikejarnya.

Meski demikian, tidak semua jahat dipelopori karena watak jahat mendominasi. Sebagiannya yang dianggap kejahatan oleh manusia, justru terjadi karena tidak tersalurnya jenis-jenis kebaikan.

Makan itu baik, tidak makan itu buruk. Lantas, demi makan, seorang kakek mencuri sesisir pisang. Kejahatan “mencuri” yang dilakukan si kakek, dikecam, dihukum. Padahal kejahatan itu didorong oleh kebaikan “untuk bisa makan”. Kurang beruntungnya adalah ia terjebak pada sistem, di mana mencuri adalah kejahatan, murni kejahatan; tak usah lagi melihat apa motif dan dorongannya. Intinya mencuri itu jahat.

Sekilas cerita dari gembul, semakin membuatnya hampir gila. Ada apa dengan manusia. Rasa-rasanya unyil akan semakin kecil saja karena memikirkan manusia dan manusia.

Unyil mencoba berbicara kepada Tuhan, meski ia tahu ia mungkin dianggap pesakitan, gila oleh orang yang melihatnya. Ke pohon, ke sungai, ke gunung, ke rumah ibadah, ke aula orang kaya, ke gubuk pemuda miskin, ke tawa orang gembira, ke tangis manusia nestapa, semua diperginya untuk mencari Tuhan. Mirip majnun yang mencari layla, bedanya, unyil sedang mencari-cari jawaban untuk mengobati semesta yang menangis. Ujung-ujungnya ia pasti bertemu pada cinta berkali-kali.

Unyil punya keinginan menawarkan kepada Yang Kuasa – mencipta ulang tatanan semesta – merubah sudut pandang bersendikan cinta. Menurutnya, tidak ada sudut pandang yang lebih indah selain memandang semua gerak-gerik kehidupan dengan cinta. Melaluinya manusia akan paham bahwa; di atas ilmu ada akhlak, di atas ketegasan ada kebijaksanaan, di atas hukum ada kemanusiaan, di atas keadilan terdapat rahmat disemayamkan.

Unyil ini sedikit filsuf, merenung banyak hal. Memperbaiki dengan mencari apa yang keliru dan salah dalam tatanan kosmos dan kosmis manusia. Gembul pun demikian. Bedanya hanya badan mereka,  gembul bertubuh bongsor, tinggi, dan berkulit hitam.

Sudah, cukup nyil. Kata Gembul. “Liurmu saja yang ke mana-mana. Muka ku pun kena. Aku juga sedang pusing’.

Kemarin, di kampungku baru saja ada sosialiasi dari pemerintah mengenai kesehatan, bersama ahli gizi bersertifikasi, aktivis kesehatan, mereka menjelaskan pencegahan sakit stunting mulai dari kota-kota hingga ke desa-desa.

Piawai ungkap mereka, bahwa agar anak tumbuh sehat maka konsumsilah makanan bernutrisi, sayur jenis A, buah jenis B, protein jenis C. Tanpa mereka mengetahui, dihadapannya sedang duduk seorang ayah, sedang duduk seorang ibu, yang keluarganya hanya mampu makan nasi campur mie instan (karbo+karbo), dan bisa jadi untuk makan sehari saja susah.

Kabar nutrisi kata gembul, bukan kabar baik bagi mereka melainkan kabar buruk. Bagaimana mungkin kita mengingatkan kelezatan nutrisi kepada orang yang tak mampu mengakses nutrisi ?.

“Ahh, sudahlah. Lebih baik stunting daripada mati kelaparan”.

“Loh kenapa demikian ?”

Lahh iya, Karena persoalan makan, warga kita lebih mendahulukan kenyang daripada memikirkan gizi dan nutrisi apa yang hendak dimakan. Apakah sengaja demikian, tidak. Sistem yang miskinlah membuatnya demikian. Kerja-kerja struktural yang menjadikannya demikian.

Kita ini tak butuh nama sayur, buah dan daging. Kita sebenarnya malah butuh kiat untuk dapat mengakses gizi dan nutrisi. Kita tidak butuh simpati, melainkan akses pelayanan yang pasti. Agar kita sehat, baiki cara kita mengakses pangan kita.

“Tapikan, selamat sehat harus diucapkan mbul, anggap saja doa”.

“Doa yah doa. Selamat sehat hanya bagi orang yang bisa mengakses sehat. Bagi kita yang tidak bisa, cukup kenyang saja. Karena kita lebih bisa mendahulukan kenyang dibanding memikirkan gizi apa yang akan di makan”.

Tunggu-tunggu, unyil menyela lagi. “Terus yang kamu bilang ini tidak disampaikan di ruangan itu” ?.

“Yah tidak, badanku besar. Masuk pintu ruangan saja susah. Sengaja pintunya dibuat kecil. Kan untuk yang berbadan kecil. Kalau yang badannya besar diluar saja. Badan besar kan dianggap sehat. Badan kecil tapi otak cemerlang kaya kamu pun dianggap pesakitan”. Keduanya tertawa. 

Belum lagi orang-orang besar itu, enggan, ogah mengerjakan pekerjaan kecil.

Pekerjaan besar hanya untuk orang besar, pekerjaan kecil hanya untuk orang kecil.

Padahal, tidak ada yang menghalangi dan membatasi orang berada, kaya, bergelar, melakukan hal-hal kecil. Ia lah yang membatasi dirinya. Seolah pekerjaan itu tak layak untuk orang sepertinya. Pejabat menyapu jalan saja bisa kok. Cuman, kan lagi-lagi, ini berbicara siapa besar, siapa kecil.

Pun sebaliknya, tidak ada orang miskin, kurang berada, tidak bergelar tidak berdaya upaya, untuk mendapatkan perlakukan yang sama, terkadang identitas miskin itulah yang membuatnya seolah tak layak. Maka jangan heran, dalam rangka mendapat akses pelayanan publik yang baik anda harus dulu berlagak kaya dulu.

“Lahh, kalau kamu mbul ?, kan besar”.

“Badanku saja yang besar, statusnya kecil. Minum kopi saja harus ke rumahmu lintas kampung”.

Ruangan-ruangan struktural itu, pintunya hanya untuk orang-orang besar. Bukan tubuhnya, tapi kuasanya. Pendekar masa lalu, sakti karena punya tenaga dalam. Pendekar masa kini, sakti karena punya orang dalam. Memang malang nasib kita, sakti dalam bekerja, dapat bertahan karena sedikit sentuhan keajaiban yang entah dari mana datangnya – mungkin didorong keinginan bertahan hidup yang begitu kuatnya-,  tiap hari kerja keras, tetap juga disebut rakyat pemalas. Sudahlah miskin dan tertindih, masih pula tertuduh sebagai faktor primer dari segala sebab penderitaan yang dialami negara ini.

Sistem akomodasi sosial masih terbilang lemah. Menjual diri ke atas, memperkosa ke bawah. Demikian memang cengkok kisah yang berabad-abad lamanya terpelihara. Lagu, puisi, syair, sederet merek kesenian lainnya bungkam, mungkin karena kita orang kampung. Karya apapun, tidak akan terangkat. Perjuangan dari yang paling desa hingga ke rasa kota yang paling istimewa, hanya jadi milik pujangga kekuasaan. Kerja keras cendekia, kaum pintar, kebanyakan sendat di rak-rak perpustakaan. Penelitian  demi penelitian, kerap tak jujur – peneliti bisa naik gaji – yang diteliti tak menjadi-menjadi. Sebabnya, penguasa saja malas membaca hasil penelitian, menjadikannya rujukan sebagai aturan alternatif merubah keadaan sosial, kan mereka pemangku kebijakan tapi lebih suka memangku kekuasaan.  

Upaya politik tak mampu menghadap dan memberikan perubahan. Ideologi pembangunan yang dikampanyekan hanya sekadar memompa-mompa kesementaraan yang juga berujung pada kebuntuan. Perjuangan membela orang kampung, sungguh narasi kampungan. Di balik perjuangan orang kampung, di belakang nya ada sesuatu yang terkandung. Bukan politik kehadiran, memperjuangkan kebenaran dan kesejahteraan dalam maknanya yang objektif dan adil. Orksetra politik yang berlangsung hanyalah proses perjuangan mendaki diri, perjuangan karier politik pribadi ataupun kelompok. Pun atas nama kelompok, itu hanya sekedar “sudah disetting barang ini” – batu loncatan bagi kepentingan politik individu - tak ada sesuatu yang dikemukakan sebagai sesuatu itu sendiri. Lalu  di mana gerakan pemuda ?, gerakan kamu muda tak lebih dari sekedar mengharap jatah struktural saja.

Harapan kita kepada jurnalis mulai di sunat. Baru-baru ini, dewan menakut-nakuti kita akan memangkas ruh jurnalis sebagai investigator sosial. Kita ini bangsa ber-Tuhan, sebagiannya ber-Dewa. Jadi dewan akan selalu gagal menakuti kita, karena ia dewan bukan dewa, apalagi Tuhan. Ia hanya akan berhasil, jikalau orang-orang muda tidak lagi mau bernyanyi dan mengadakan konser ilmiah.

Belum lagi pendidikan bangsa, tersier. Bukan primer. Sejak kapan isi kepala bukan menjadi fundamen suatu bangsa. Kita yang orang kampung saja paham akan itu. Pendidikan yang terinternalisasi sebagai kebutuhan kerja dan industri,  tidak salah. Kebutuhan pasar demikian. Namun, jangan juga mengesampingkan pendidikan sebagai pendewasaan setiap manusia untuk tumbuh dan kembang dalam kelakuan, sikap dan perasaan. Apa bangsa ini tidak mau belajar, berapa banyak peradaban hancur karena tidak berpendidikan?. Sebaliknya, berapa banyak juga peradaban berjaya karena pendidikan. Kegagalan mencerdaskan kehidupan bangsa adalah awal menuju kehancuran dan keterjajahan. Biaya mahal, minat belajar rendah. Lengkah sudah. Pendidikan hanya hanya untuk orang kaya. Khusus orang kampung seperti kita, belajar ke para tetua saja. Bayarannya murah, cukup nyari rambut putih, angkat air di sumur, sudah dapat pancaran hikmah.

Kalau bahasa orang kampung telah bungkam, lalu apa yang bisa diharapkan dari bahasa orang kota ?

Bahasa saja, kita rasa-rasanya tidak berdaulat. Bisa saja ku jual sawah dan kebun, sapi-sapi serta kambing untuk modal melancong. Kurangku hanya satu, tidak bisa berbahasa selain bahasa daerah dan indonesia. Beda halnya dengan yang selain bangsa kita. Kalau mereka ke kampung kita, malah kita yang di wajibkan berbahasa mereka untuk melayani mereka bak raja. Ketika kita yang ke sana, wajib dulu berbahasa mereka. Demikian yang terjadi, karena sebab akibat. Kondisi ketidakstabilan sosial, sebut urusan perut, memaksa kita melayani mereka di kampung sendiri untuk mendapat dolar. Nilai tukarnya, asap dapur mengebul. Lalu bahasa apa lagi yang diharapkan ?

“Tapi mbul.... “

“Aku belum selesai nyil”.

Telah sampailah kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, mungkin sebabnya karena kita masih di depan pintu gerbang kemerdekaan. Belum masuk ke dalamnya.

Telah sampailah kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Setelah pintu gerbang itu terbuka maka ada merdeka di dalamnya. Merdeka itulah bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Sepanjang belum terasa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, sepanjang itu pula kita masih berjuang untuk merdeka.

Maka kemerdekaan masih cita-cita. Kemerdekaan hanya akan jadi milik orang-orang tertentu. Dahulu berjuang merdeka, setelah merdeka kita bersikap menjajah dan terjajah. Lalu apa itu merdeka ? Siapa yang merdeka ? Apa yang merdeka ? Bagaimana itu merdeka ?

Di kampung kita saja, telah digelontorkan sejumlah anggaran oleh pemerintah untuk bersih-bersih kampung. Akhirnya apa, orang kampung mati rasa terhadap kampungnya sendiri. Kalau kotor yah tugas pemerintah, kan ada uangnya. Ujungnya, saling curiga. Kotorpun di mana-mana, bukan hanya lingkungan, otakpun di sampahnya. Sikap setan selalu berhasil masuk ketika ada (pel)uang maupun (r)uang. Harusnya kan membersamai - langkah strategis pembersihan lingkungan pemerintah lakukan - masyarakat juga membangun kesadaran.

“Lalu menurutmu mbul, kemerdekaan itu  apa ?”.

Kemerdekaan itu ajang membangun bangsa. Bangkit, berdiri, membersamai membangun negeri. Setiap dari kita punya peran itu. Lakukanlah, meski hanya membuang sampah pada tempatnya.

“Aku punya impian, mengajak warga kampung kita berfikir”.

“Berfikir apa, makan saja susah”.

“Kalau begitu cerita saja. Langkah pertama, misi kita adalah setiap teras rumah, pondok sawah, pos kamling, pinggir sungai harus dipenuhi cerita tentang kondisi kampung kita.”

“Emang cerita bisa bawa perubahan. Lah.., kan tadi sewaktu kamu pergi kencing, kamu cerita dulu toh, aku mau kencing dulu”. Setelah itu, kamu akhirnya pergi kencing. Berubah toh ?.

“Unyil senyum”.

Allahu Akbar....Allahu Akbar....

Adzan berkumandang, “ayoo nyil, sekarang waktunya perbaiki kampung akhirat”. [...]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan.

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan   Pagi Minggu, 14 Desember 2025. Tepat pukul 07 pagi. Aku bersama rombongan teman asrama bertolak ke Pasar Keramat, Pacet, Mojokerto. Pasar yang sejak awal sering disebut-sebut namanya oleh teman sekamar. Pikirku, ini kesempatan untuk menyaksikan langsung, memverifikasi kebenaran cerita tentangnya. Apa benar, pasar yang terletak di lereng Pacet, Mojokerto itu, semenarik yang diceritakan. Dan, boom. Padat. Pengunjungnya dari luar pacet. Surabaya, Gresik, Malang, Tuban, sebut saja se-Jawa Timur. Hal itu tidaklah melebih-lebihkan. Karena terlihat mobil berderet panjang dengan plat berbeda-beda dan motor parkir rapi sampai ke halaman rumah-rumah warga. Kenapa bisa seramai ini pikirku ? Ada apa di dalam sana ? Ternyata, pasar keramat. Keramat bukan karena nama. Namun, keramat karena ia adalah mesin masa. Mesin waktu yang menawarkan kepulangan kita.  Sejak awal, ia berbeda dengan mall yang terletak di jantung ...

Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang

  Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang Oleh: Suriadi Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya. Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia. Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan. ...

Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering

  Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering   Oleh: Suriadi   Negeri ini ribut lagi. Jagat media sosial hampir mencapai titik paling didih membahas lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat. Seorang peserta dianggap salah karena artikulasinya dinilai tidak jelas. Sementara, menurut banyak orang yang menonton videonya berulang-ulang sambil memakai headset volume penuh, jawaban itu sebenarnya benar. Akhirnya, publik mengamuk. MPR minta maaf. Juri dan MC dinonaktifkan. Video dipotong, disebar, diulang, dijadikan meme, dijadikan bahan roasting nasional. Tabiat yang sudah lumrah ala netizen kita. Dan seperti biasa, internet Indonesia selalu bekerja sangat total ketika menemukan satu orang yang bisa dijadikan tersangka sosial. Ada yang menguliti ekspresi wajah jurinya lalu membedah intonasinya. Ada juga yang mendadak jadi pakar fonetik nasional hanya karena pernah ikut lomba pidato 17-an waktu SD. Timeline penuh dengan orang-orang yang tampaknya ...