Kembali, grup wa saya mulai bising siang tadi. Bising karena
dering tanda pesan masuk. Pun, bising karena informasinya. Mulai informasi
krisis air bersih, listrik padam hidup, harga sembako naik, hingga tabung gas
langka. Sederet masalah di Kabupaten Kalamantha yang bertahun-tahun berjalan.
Pemerintah demi pemerintah berganti. Masalah tak kunjung berhenti. Belum lagi
kondisi lingkungan dan alam yang mengalami cedera mendalam.
Sebenarnya, saya sedang tidak mencari-cari masalah karena
memang kondisi sedang bermasalah. Buktinya, bising di mana-mana. Emak-emak
bising, bapak-bapak bising, mahasiswa bising, aktivis bising, data dan fakta
semua mulai bising.
Tapi bagaimana mungkin bisa bising?. Bukankah puasa membuat
seorang lemah. Akses makan dan minum ditahan, kenapa masih bisa bertenaga untuk
membuat bising ?
Begitulah manusia, ia punya naluri. Mana hak dan
kewajibannya. Sehingga bising seringkali di picu karena hak-haknya sebagai
manusia dipuasakan oleh selain-Nya.
Saya lebih setuju manusia bising. Dibanding mengambil
dalil bahwa sabar terbaik adalah diam.
Seperti penceramah yang sedang menyampaikan pesan; "sabarlah
menghadapi cobaan, karena Tuhan bersama dengan orang-orang yang sabar".
Ketakutan kita justru adalah ketika bising itu hilang.
Artinya, semua akan dianggap normal, meski kesalahan sekalipun. Kenapa
demikian, karena terjadi efek ilusi kebenaran dalam konteks pengulangan.
Mirip dengan fenomena timbulnya kecenderungan untuk mempercayai informasi yang salah sebagai suatu kebenaran, karena mengalami repitisi atau pengulangan. Sehingga, masalah yang berulang akan merubah pola hidup kita. Bukannya mencari solusi, tapi lebih kepada menjadikan masalah sebagai bagian alamiah tanpa melawannya. Serupa takdir, tugas kita hanya perlu menjalaninya.
Mengenai sabar menghadapi cobaan, bukan tidak benar dalil
itu. Tapi, sebaiknya ku cerita saja.
Manusia harus membaca teks dan konteks - realita dan kenyataan.
Bagaimana mungkin seorang penceramah menyampaikan pesan seperti dongeng yang di
bacakan kepada anak kecil; bahwa si miskin, rakyat yang sabar dalam keadaanya
akan terlebih dahulu masuk surga. Sementara si kaya, penguasa yang dzolim akan
dijemput paksa oleh algojo neraka.
Seolah-olah kondisi rakyat terjadi secara alamiah, tanpa tangan,
peran sistem penguasa. Menganggap Islam sebagai agama pasrah. Tanpa lawan dan
perlawanan. Sehingga merasa tak perlu melawan. Sementara penceramah, ketika
menunjuk ke audiensnya. Di tangannya terpasang rolex 5 juta. Sungguh,
penceramah bergelimang harta, umat berlinang air mata.
Saya ironi, karena kebanyakan dari kita bukannya membantu. Justru
kehidupan si miskin, kerapkali kita manfaatkan sebagai sarana untuk mendekat
kepada Tuhan. Seolah miskin harus tetap ada, agar telur dan mie kita punya
sasarannya.
Saya juga heran, kenapa kita senang membantu dengan tetap mempertahankan miskin ?.
Apakah Tuhan senang dengan itu. Kenapa tidak mencari
Tuhan dengan membuat si miskin pensiun dari status miskinnya. Punya rumah, anak
sekolah, ada gerobak untuk usaha. Bukan disuap telor dan mie ketika perutnya
menagih.
Ataukah memang, punya rumah, anak sekolah, ada gerobak untuk usaha adalah peran pemerintah, sementara memberi makan adalah peran rakyatnya?
Terkadang saya bingung, mana pemerintah atau pemerentah. Penceramah, melayani
umat atau dilayani umatnya?.
Saya berharap bising kali ini dikumandangkan mirip adzan. Suaranya
memecah belah masuk ke rumah-rumah hingga ke lorong tersempit sekalipun.
Hanya hati yang keruh dan mati, yang sedikit tuli, ia tak akan tergetar
sedikitpun. Yang akan selalu merasa lokasi bunyi itu sangat jauh, mungkin di
belahan dunia sebelah kiri, atau di planet yang tak berpenghuni. Jangankan suara bunyi itu, maling masuk pun
tak dihiraukannya.
Begitulah cerita ku kepada sahabat-sahabat, sewaktu mengisi kajian ramadhan yang laksanakan oleh pengurus PK.PMII STIT Ibnu Khaldun Nunukan. Minggu, 24 Maret 2024. Bertempat di sekret PC. PMII Nunukan.
Terakhir, ku sampaikan kepada sahabat-sahabat ;
Coba kita belajar dari puasa dan zakat fitrah sebagai ibadah
ilahiah dan insaniah.
Puasa; diam, senyap, sirr, ibadah hamba kepada Tuhannya, rahasia berdua, dan bising dalam makna sosialnya.
Lalu di akhir, ada zakat fitrah. Ibadah kemanusiaan. Meskipun memang, beras 2-3 kilo, uang 40-50 ribu tidak mampu mengubah konteks. Sebagaimana mudahnya kita, merubah teks miskin menjadi kaya.
Maka merubah kondisi dari tidak bisa menjadi bisa adalah tugas pelaku puasa dan zakat fitrah.
Komentar
Posting Komentar