Langsung ke konten utama

"Karma di pamflet"



Kemarin, saya ditelfon oleh pengurus komisariat PMII Politeknik Negeri Nunukan. Pembicaraan singkat, pengurus menyampaikan tujuan lalu saya mengiyakan. Di minta kesediaan waktu saya untuk mengisi kajian yang di akhiri buka bersama. Foto juga di minta sebagai kebutuhan pengurus untuk kampanye kegiatan, melalui pamflet katanya. Setelah semua selesai, sejurus kemudian wa masuk. Tentu isinya kiriman pamflet dari pengurus.

Wa itu membuat saya diam sebentar, cukup kaget dengan tulisan "Karma" pada pamflet yang dikirimkan kepada saya. Kirain apa, ternyata singkatan dari Kajian Ramadhan. Ada-ada saja ide sekarang, olah kata semakin inovatif dan buat bahagia bacanya. Meski awalnya sedikit kaget, kenapa PMII ingin membahas karma?. Ternyata singkatan, kataku. Akhirnya, saya jadi punya ide untuk mengulas tentang karma dan bercerita.

Karma dalam budha adalah perbuatan. Buruk ataupun baik. Umumnya, Karma memuat dua dimensi tersebut ; kebaikan mendapat karma baik, keburukan mendapat karma buruk.

Kajian Ramadhan (Karma), tentu ini kegiatan yang bukan hanya baik melainkan internalisasi nilai-nilai iman, ilmu dan amal pada bulan ramadhan. Iman di perkuat dengan ilmu maka lahirlah amal yang baik dan ikhlas.

Sama dengan dzikir, fikir dan amal saleh. Dzikir wujud iman, fikir wujud ilmu, dan amal shaleh hasil dari temu iman dan ilmu. Memang harus demikian, karena satu ons gerakan lebih berharga daripada satu ton pembicaraan

ألعلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر

"Ilmu tanpa gerakan bagai pohon tanpa buah" .




Kembali kepada Karma. Apakah dalam islam memuat hal yang sama, tentang perbuatan manusia dan balasannya ?

Islam sebagai agama yang komprehensif, secara kompleks mengatur segala hal ihwal mengenai manusia, termasuk perbuatan manusia dan impact nya. Mengenai amal, pahala, reward, dan punishmentnya.

"Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka sedikit pun tidak dizalimi dan dirugikan." (QS Al An'am: 160)

Dengan demikian, dunia sebagai wahana berbuat menjadi tolok ukur akhirat. Kita harus berani hidup bukan berani mati. Kita harus memastikan prilaku baik di dunia untuk berharap kebaikan setelahnya. Barometernya adalah iman, ilmu dan amal shaleh.

Untuk hal itu. Tuhan, Dzat Maha Kasih dan Sayang, memberikan kita peluang terbaik pada bulan suci ramadhan. Satu diantaranya, kita di buat lemah dengan tidak makan dan minum. Lemah, agar nafsu tidak bergejolak. Sehingga, kesadaran iman yang semakin mengada. Tunduk, beribadah sekuatnya. Meski terkadang, nafsu mencuat berbarengan dengan buka puasa menjelang.

Pada ruang lain, ada juga yang lemah. Mereka yang tidak hanya dibatasi makan dan minumnya pada bulan ramadhan, tetapi juga di luar ramadhan. Sepanjang tahun, dalam ramadhan maupun bukan. Seringkali ku saksikan tubuh yang puasa. Mereka yang ke pasar tapi puasa dari ikan dan sayur. Mereka yang kehujanan karena puasa dari memiliki rumah. Mereka yang tanpa kuasa, puasa dari keadilan. Mereka yang bukan siapa-siapa, puasa dari peluang kesuksesan. Mereka yang biasa, di puasakan oleh penguasa.

Tentu, saya berharap karma itu cepat tiba. Karma baik untuk si lemah dan karma buruk bagi pelaku jahatnya. Bisa dimulai dengan kita yang menjadi karmanya, kembali berdiri di atas tanah bukan menari di langit sana.

Diskusi saya tutup. Ku sampaikan kepada sahabat ;

“Puasalah sepanjang hari. Karena puasamu mungkin selesai ketika berbuka, tapi ramadhan mu tetap berjalan hingga pagi kembali tiba”.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan.

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan   Pagi Minggu, 14 Desember 2025. Tepat pukul 07 pagi. Aku bersama rombongan teman asrama bertolak ke Pasar Keramat, Pacet, Mojokerto. Pasar yang sejak awal sering disebut-sebut namanya oleh teman sekamar. Pikirku, ini kesempatan untuk menyaksikan langsung, memverifikasi kebenaran cerita tentangnya. Apa benar, pasar yang terletak di lereng Pacet, Mojokerto itu, semenarik yang diceritakan. Dan, boom. Padat. Pengunjungnya dari luar pacet. Surabaya, Gresik, Malang, Tuban, sebut saja se-Jawa Timur. Hal itu tidaklah melebih-lebihkan. Karena terlihat mobil berderet panjang dengan plat berbeda-beda dan motor parkir rapi sampai ke halaman rumah-rumah warga. Kenapa bisa seramai ini pikirku ? Ada apa di dalam sana ? Ternyata, pasar keramat. Keramat bukan karena nama. Namun, keramat karena ia adalah mesin masa. Mesin waktu yang menawarkan kepulangan kita.  Sejak awal, ia berbeda dengan mall yang terletak di jantung ...

Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang

  Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang Oleh: Suriadi Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya. Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia. Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan. ...

Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering

  Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering   Oleh: Suriadi   Negeri ini ribut lagi. Jagat media sosial hampir mencapai titik paling didih membahas lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat. Seorang peserta dianggap salah karena artikulasinya dinilai tidak jelas. Sementara, menurut banyak orang yang menonton videonya berulang-ulang sambil memakai headset volume penuh, jawaban itu sebenarnya benar. Akhirnya, publik mengamuk. MPR minta maaf. Juri dan MC dinonaktifkan. Video dipotong, disebar, diulang, dijadikan meme, dijadikan bahan roasting nasional. Tabiat yang sudah lumrah ala netizen kita. Dan seperti biasa, internet Indonesia selalu bekerja sangat total ketika menemukan satu orang yang bisa dijadikan tersangka sosial. Ada yang menguliti ekspresi wajah jurinya lalu membedah intonasinya. Ada juga yang mendadak jadi pakar fonetik nasional hanya karena pernah ikut lomba pidato 17-an waktu SD. Timeline penuh dengan orang-orang yang tampaknya ...