Langsung ke konten utama

"Anak, Perempuan, awam dan Mimbar"

 

Di WA, saya dikirimi pafmlet mengenai masjid UGM yang mengundang 3 tokoh perempuan untuk mengisi ceramah tarwih yaitu Menkeu Sri Mulyani, Menlu Retno Marsudi, dan Najwa Shihab.  Saya dikirimi untuk di mintai pendapat mengenai hal tersebut. Jawaban saya singkat, tidak ada masalah, bagus. Kebetulan yang mengirim WA adalah pengurus masjid, lanjut saya katakan ; justru jangan hanya masjid UGM, masjid kita juga harus seperti itu.

Pengurus masjid kaget. Kenapa harus perempuan ?

Kaget,  karena otoritas penyampai  pesan agama selama ini cenderung mereka pahami adalah lelaki. Sehingga mimbar terbudidaya hanya untuk lelaki.

Memang, mimbar yang selama ini terletak di tempat ibadah. Yang difungsikan oleh pemuka agama atau imam untuk menyampaikan khutbah dan ceramah agama. Menjadikan syarat-syarat tertentu, seolah melekat pada mimbar. Hanya orang-orang yang tergolong sebagai ahli, ustad, dai, ulama yang berhak naik ke atasnya.

Sehingga tidak sedikit pula mimbar yang eksklusif. Membuat tidak semua orang  dengan serta merta dapat mewartakan sesuatu, bercerita, berceramah di atas mimbar.

Mimbar semakin akrab dengan gelar dan jabatan, kalimat ini bisa saja benar bisa juga tidak. Tetapi kelihatannya, mimbar memang lebih bersahabat kepada sosok yang superior. Termasuk hanya kepada kelompok laki-laki. Seolah perempuan tidak memiliki kelayakan naik ke mimbar.

Saya merasakan hal itu selama bulan ramadhan di Nunukan. Tidak terlihat dan terdengar kelompok perempuan, baik anak-anak, remaja maupun dewasa yang mengisi kultum dan ceramah tarwih, hampir di seluruh masjid di Kabupaten Nunukan. 

Berbeda dengan apa yang pernah saya temukan ketika berada di Bulukumba. Di masjid-masjid desa hingga ke kota, biasa kita temukan anak-anak, remaja hingga dewasa, baik laki-laki maupun perempuan mengisi kultum dan ceramah tarwih. Selain sebagai pembelajaran, ini merupakan bukti adanya kesetaraan dan keterbukaan.

Kelompok pesantren pun sama. Surat-menyurat, kunjung-mengunjungi, terjadi antara pengurus masjid dan pengelolah pesantren. Mereka bersepakat mengenai tugas imam tarwih dan kultum ramadhan yang akan di isi oleh santri dan santriwati pesantren tersebut.

Bagi saya, praktik kerjasama yang inklusi ini, menjadikan masjid-masjid semakin ramah kepada seluruh kelompok, baik anak maupun perempuan.

Paradigma barupun kemungkinannya dapat terbangun di masyarakat, bahwa anak-anak yang tampil, mau benar ataupun tidak, bukanlah masalah. Karena mengakrabkan mereka dengan mimbar dan kegiatan religius lebih penting daripada menghakimi dan menutup mereka dari ruang belajar.

Termasuk mengakrabkan mimbar kepada kelompok perempuan pada momen-momen tertentu, seperti kultum dan ceramah tarwih, menurut saya adalah upaya membangun mental dan memberikan kesempatan kepada kelompok perempuan. Membuat ruang terbuka semakin mengada. Apalagi jika perempuan tersebut, memang memiliki kredibilitas untuk menyampaikan pesan-pesan agama. Ulama terdahulu bahkan berguru kepada perempuan. Imam Syafi’i berguru kepada Sayyidah Nafisah, pun Imam Hambal sering bertanya padanya.

Kasus yang berbeda terjadi di mimbar dunia maya, mimbar sosial media. Sebaliknya, justru ia memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk berekspresi. Baik dalam memberikan informasi atau terlibat pada perdebatan apapun yang terdapat di dalamnya.

Ia memberikan daya tarik tersendiri. Menariknya, partisipan dalam perdebatan itu tidak terbatas pada kalangan ahli, tetapi juga publik awam.

Sangat terbuka. Meskipun kerap kali kita temukan perdebatan di ruang sosial yang terbuka luas itu, bukan hanya menampilkan berbagai sudut pandang yang menarik tetapi juga kadang bertabrakan satu dengan lainnya. Hal semacam itu bagi saya tidaklah patut dijadikan alasan untuk menimbulkan konflik dan ketegangan sosial melainkan menyikapinya sebagai arena pendewasaan dan dialog antar berbagai sudut pandang yang justru produktif.

Karena kenyataannya, pada kasus tertentu, komentar awam terkadang lebih masuk, segar dan menyentuh konteks. Tidak sebatas teks.

Sehingga kalau kita mau menurunkan ego sedikit saja, sebagai orang yang merasa ahli katanya. Maka tentu kita bisa belajar dari awam. Kalau tidak, minimal kita mempertimbangkan pandangan-pandangan awam. Karena dalam banyak kasus, pandangan awam ini justru lebih masuk akal dan bisa menjawab kebuntuan.

أنظر ما قال ولا تنظر من قال

“Lihat apa yang di katakan bukan siapa yang mengatakan" .

Mempertimbangkan komentar awam bukan tanpa alasan, sebab ulama pada masa lalu biasa juga mendapat pelajaran dari seorang yang awam.

Sekarang, kita seolah membuat batasan diri. Akhirnya secara tidak langsung, terdapat kelompok yang sudahlah marginal, terpinggirkan, malah tidak lagi di dengar. Seolah mereka bodoh. Sehingga sistem tindas-menindas sampai ke tahap puncak. Menutup ruang di mana saja, bahkan kesempatan berbicara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan.

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan   Pagi Minggu, 14 Desember 2025. Tepat pukul 07 pagi. Aku bersama rombongan teman asrama bertolak ke Pasar Keramat, Pacet, Mojokerto. Pasar yang sejak awal sering disebut-sebut namanya oleh teman sekamar. Pikirku, ini kesempatan untuk menyaksikan langsung, memverifikasi kebenaran cerita tentangnya. Apa benar, pasar yang terletak di lereng Pacet, Mojokerto itu, semenarik yang diceritakan. Dan, boom. Padat. Pengunjungnya dari luar pacet. Surabaya, Gresik, Malang, Tuban, sebut saja se-Jawa Timur. Hal itu tidaklah melebih-lebihkan. Karena terlihat mobil berderet panjang dengan plat berbeda-beda dan motor parkir rapi sampai ke halaman rumah-rumah warga. Kenapa bisa seramai ini pikirku ? Ada apa di dalam sana ? Ternyata, pasar keramat. Keramat bukan karena nama. Namun, keramat karena ia adalah mesin masa. Mesin waktu yang menawarkan kepulangan kita.  Sejak awal, ia berbeda dengan mall yang terletak di jantung ...

Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang

  Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang Oleh: Suriadi Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya. Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia. Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan. ...

Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering

  Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering   Oleh: Suriadi   Negeri ini ribut lagi. Jagat media sosial hampir mencapai titik paling didih membahas lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat. Seorang peserta dianggap salah karena artikulasinya dinilai tidak jelas. Sementara, menurut banyak orang yang menonton videonya berulang-ulang sambil memakai headset volume penuh, jawaban itu sebenarnya benar. Akhirnya, publik mengamuk. MPR minta maaf. Juri dan MC dinonaktifkan. Video dipotong, disebar, diulang, dijadikan meme, dijadikan bahan roasting nasional. Tabiat yang sudah lumrah ala netizen kita. Dan seperti biasa, internet Indonesia selalu bekerja sangat total ketika menemukan satu orang yang bisa dijadikan tersangka sosial. Ada yang menguliti ekspresi wajah jurinya lalu membedah intonasinya. Ada juga yang mendadak jadi pakar fonetik nasional hanya karena pernah ikut lomba pidato 17-an waktu SD. Timeline penuh dengan orang-orang yang tampaknya ...