Mendadak gerimis yang kecil-kecil itu berubah menjadi hujan yang amat derasnya.
Lihat itu, Unyil membentak Gembul.
Apa matamu sudah buta? Apa hatimu telah jadi kerikil bengkak? Sejak fajar tadi,
alam berbicara amat jelas. Langit yang mendung kini menangis keras. Angin yang
sejak tadi menahan perasaannya akan segera berteriak lalu mengamuk. Tanah kita
akan tercacah-cacah dan seluruh penduduk akan dtimpa kerundungan; Kemurungan
hati yang tidak bisa mereka terjemahkan.
“Gembul menyela, nanti saja
mengeluh, aku juga sedang pusing”.
Unyil badannya memang kecil tapi
suaranya lantang. Mirip si miskin yang selalu teriak keadilan. Suaranya besar,
tapi tak terdengar. Karena pendengar, hanya melihat siapa yang berteriak. Bukan
apa yang diteriakkan. Teriakan itu layaknya dagang, menguntungkan apa tidak,
sesuai kepentingan apa tidak. Kalau datangnya dari orang yang dapat memberikan
keuntungan yah didengar. Jika tidak, yah pura-pura tuli. Dan tentu, manusia
cenderung suka berpihak pada kepentingan yang menguntungkan.
Langit mulai menutup mukanya
dengan berlapis-lapis mendung, dan dari selah jari-jemarinya meleleh gerimis
jatuh setetes demi setetes. Angin kaku.
Pohon-pohon dan dedaunan menundukkan wajahnya dalam-dalam, tanda takut.
Sedikit lagi masa depan akan
gelap, awan akan lenyap, langit akan robek. Bumi akan menggigil. Gelombang,
getaran, tiupan angin, letupan gunung akan terjadi. Sebagai reaksi, penanda
bahwa ia dirusak oleh penguninya. Unyil berfikir, ini tanda alam sedang
berduka. Bukankah demikian mbul ?.
Mungkin demikian. Manusia lahir
dengan potensi. Baik, buruk. Jahat, tidak. Watak itu melekat tanpa bisa hilang.
Saling perang untuk menentukan watak mana yang akan menang. Tidak ada satupun yang bisa lepas
darinya. Pejabat, pemikir, pemangku agama, kaya, miskin, semua di kejarnya.
Meski demikian, tidak semua jahat
dipelopori karena watak jahat mendominasi. Sebagiannya yang dianggap kejahatan
oleh manusia, justru terjadi karena tidak tersalurnya jenis-jenis kebaikan.
Makan itu baik, tidak makan itu
buruk. Lantas, demi makan, seorang kakek mencuri sesisir pisang. Kejahatan
“mencuri” yang dilakukan si kakek, di kecam, dihukum. Padahal kejahatan itu
didorong oleh kebaikan “untuk bisa makan”. Kurang beruntungnya adalah ia
terjebak pada sistem, di mana mencuri adalah kejahatan, murni kejahatan; tak
usah lagi melihat apa motif dan dorongannya. Intinya mencuri itu jahat. Sekilas
cerita dari gembul, semakin membuatnya hampir gila. Ada apa dengan manusia.
Rasa-rasanya unyil akan semakin kecil saja, karena memikirkan manusia dan
manusia.
Inginya rasanya ia menawarkan kepada Yang Kuasa - mencipta ulang tatanan semesta - merubah sudut pandang berdasarkan cinta. Menurutnya, tidak ada sudut pandang yang lebih indah selain memandang semua gerak-gerik kehidupan dengan cinta. Baginya, di atas Ilmu ada Akhlak, di atas ketegasan ada kebijaksanaan, di atas hukum ada kemanusiaan, di atas keadilan ada rahmat disemayamkan.
Unyil ini sedikit filsuf,
merenung banyak hal. Memperbaiki dengan mencari apa yang keliru dan salah dalam
tatanan kosmos dan kosmis manusia. Gembul pun demikian. Bedanya hanya badan mereka, gembul bertubuh bongsor, tinggi, dan berkulit
hitam.
Sudah kata Gembul. “Liurmu saja
yang ke mana-mana. Muka ku pun kena. Aku juga sedang pusing’.
Kemarin, di kampungku baru saja
ada sosialiasi dari pemerintah mengenai kesehatan, bersama ahli gizi
bersertifikasi, aktivis kesehatan, mereka menjelaskan pencegahan sakit stunting
mulai dari kota-kota hingga ke desa-desa.
Piawai ungkap mereka, bahwa agar
anak tumbuh sehat maka konsumsilah makanan bernutrisi, sayur jenis A, buah
jenis B, protein jenis C. Tanpa mereka mengetahui, dihadapannya sedang duduk
seorang ayah, sedang duduk seorang ibu, yang keluarganya hanya mampu makan nasi
campur mie (karbo+karbo), dan bisa jadi untuk makan saja susah.
Kabar nutrisi kata gembul, bukan
kabar baik bagi mereka. Melainkan kabar buruk. Bagaimana mungkin kita
mengingatkan kelezatan nutrisi kepada orang yang tak mampu mengakses nutrisi ?.
“Ahh, sudahlah. Lebih baik
stunting daripada mati kelaparan”.
“Loh kenapa demikian ?”
Lahh iya, Karena persoalan makan,
warga kita lebih mendahulukan kenyang daripada gizi dan nutrisi. Apakah sengaja
demikian, tidak. Sistem yang miskinlah membuatnya demikian. Kerja-kerja
struktural yang menjadikannya demikian.
Kita ini tidak butuh nama sayur,
buah dan daging. Kita sebenarnya malah butuh kiat untuk dapat mengakses gizi
dan nutrisi. Agar kita sehat, baiki cara kita mengakses pangan kita.
“Tapikan, selamat sehat harus diucapkan
mbul, anggap saja doa”.
“Doa yah doa. Selamat sehat hanya
bagi orang yang bisa mengakses sehat. Bagi kita yang tidak bisa, cukup kenyang
saja. Karena kita lebih bisa mendahulukan kenyang dibanding memikirkan gizi apa
yang di makan”.
Tunggu-tunggu, unyil menyela
lagi. “Terus yang kamu bilang ini tidak disampaikan di ruangan itu” ?.
“Yah tidak, badanku besar. Masuk
pintu ruangan saja susah. Sengaja pintunya dibuat kecil. Kan untuk yang
berbadan kecil. Kalau yang badannya besar diluar saja. Badan besar kan dianggap
sehat. Badan kecil tapi otak cemerlang kaya kamu, pun dianggap pesakitan”.
Keduanya tertawa.
Belum lagi orang-orang besar itu,
enggan, ogah mengerjakan pekerjaan kecil.
Pekerjaan besar hanya untuk orang
besar, pekerjaan kecil hanya untuk orang kecil.
Padahalkan, tidak ada yang
menghalangi dan membatasi orang berada, kaya, bergelar, melakukan hal-hal
kecil. Ia lah yang membatasi dirinya. Seolah pekerjaan itu tak layak untuk
orang sepertinya. Pejabat menyapu jalan saja bisa kok. Cuman kan lagi-lagi, ini
berbicara siapa besar, siapa kecil.
Pun sebaliknya, tidak ada orang
miskin, kurang berada, tidak bergelar tidak berdaya upaya, untuk mendapatkan
perlakukan yang sama, terkadang identitas miskin itulah yang membuatnya seolah
tak layak.
“Lahh, kalau kamu mbul ?, kan
besar”.
“Badanku saja yang besar,
statusnya kecil. Minum kopi saja, harus ke rumahmu lintas kampung”.
Ruangan-ruangan struktural itu,
pintunya hanya untuk orang-orang besar. Bukan tubuhnya, tapi kuasanya. Pendekar
masa lalu, sakti karena punya tenaga dalam. Pendekar masa kini, sakti karena
punya orang dalam. Memang malang nasib kita, sakti dalam bekerja, dapat
bertahan karena sedikit sentuhan keajaiban yang entah dari mana datangnya –
mungkin di dorong keinginan bertahan hidup yang begitu kuatnya- , tiap hari
kerja keras, tetap juga disebut rakyat pemalas. Sudahlah miskin dan tertindih,
masih pula tertuduh sebagai faktor primer dari segala sebab penderitaan yang
mereka alami.
Sistem akomodasi sosial masih
terbilang lemah. Menjual diri ke atas, memperkosa ke bawah. Demikian memang cengkok
kisah yang berabad-abad lamanya terpelihara. Lagu, puisi, syair, sederet merek
kesenian lainnya bungkam, mungkin karena kita orang kampung. Karya apapun,
tidak akan terangkat. Perjuangan dari yang paling desa hingga ke rasa kota yang
paling istimewa, hanya jadi milik pujangga kekuasaan. Kerja keras cendekia,
kaum pintar, kebanyakan sendat di rak-rak perpustakaan. Penelitian demi penelitian, kerap tak jujur – peneliti
bisa naik gaji – yang diteliti tak menjadi-menjadi. Sebabnya, penguasa saja
malas membaca hasil penelitian, menjadikannya rujukan sebagai aturan alternatif
merubah keadaan sosial, kan mereka pemangku kebijakan.
Upaya politik tak mampu menghadap
dan memberikan upaya perubahan. Perjuangan membela orang kampung, sungguh
narasi kampungan. Di balik perjuangan orang kampung, di belakangnya ada sesuatu
yang terkandung. Bukan politik kehadiran, memperjuangkan kebenaran dan
kesejahteraan dalam maknanya yang objektif dan adil. Orksetra politik yang
berlangsung hanyalah proses perjuangan mendaki diri, perjuangan karier politik
pribadi ataupun kelompok. Pun atas nama kelompok, itu hanya sekedar “sudah
disetting barang ini” – batu loncatan bagi kepentingan politik individu - tak
ada sesuatu yang dikemukakan sebagai sesuatu itu sendiri. Lalu di mana gerakan pemuda ?, gerakan kaum muda
tak lebih sekedar mengharap jatah struktural.
Harapan kita kepada jurnalis
mulai di sunat. Baru-baru ini, dewan menakut-nakuti kita akan memangkas ruh
jurnalis sebagai investigator sosial. Kita ini bangsa ber-Tuhan, sebagiannya
ber-Dewa. Jadi dewan akan selalu gagal menakuti kita, karena ia dewan bukan
dewa, apalagi Tuhan. Ia hanya akan berhasil, jikalau orang-orang muda tidak
lagi mau bernyanyi dan mengadakan konser ilmiah.
Belum lagi pendidikan bangsa,
tersier. Bukan primer. Sejak kapan isi kepala bukan menjadi fundamen suatu
bangsa. Kita yang orang kampung saja paham akan itu. Pendidikan yang
terinternalisasi sebagai kebutuhan kerja dan industri, tidak salah. Kebutuhan pasar demikian. Namun,
jangan juga mengesampingkan pendidikan sebagai pendewasaan setiap manusia untuk
tumbuh dan kembang dalam kelakuan, sikap dan perasaan. Apa bangsa ini tidak mau
belajar, berapa banyak peradaban hancur karena tidak berpendidikan ?.
Sebaliknya, berapa banyak juga peradaban berjaya karena pendidikan. Kegagalan
mencerdaskan kehidupan bangsa, adalah awal menuju kehancuran dan keterjajahan.
Biaya mahal, minat belajar rendah. Lengkah sudah. Pendidikan hanya hanya untuk
orang kaya. Khusus orang kampung seperti kita, belajar ke para tetua saja.
Bayarannya murah, cukup nyari rambut putih, angkat air di sumur, sudah dapat pancaran
hikmah.
Kalau bahasa orang kampung telah
bungkam, lalu apa yang bisa diharapkan dari bahasa orang kota ?
Bahasa saja, kita rasa-rasanya
tidak berdaulat. Bisa saja ku jual sawah dan kebun, sapi-sapi serta kambing,
untuk modal melancong. Kurangku hanya satu, tidak bisa berbahasa selain bahasa
daerah dan indonesia. Beda halnya dengan yang selain bangsa kita. Kalau mereka
ke kampung kita, malah kita yang di wajibkan berbahasa mereka untuk melayani
mereka bak raja. Ketika kita yang ke sana, wajib dulu berbahasa mereka.
Demikian yang terjadi, karena sebab akibat. Kondisi ketidakstabilan sosial,
sebut urusan perut, memaksa kita melayani mereka di kampung sendiri untuk
mendapat dolar. Nilai tukarnya, asap dapur mengebul. Lalu bahasa apa lagi yang
diharapkan ?
“Tapi mbul.... “
“Aku belum selesai nyil”.
Telah sampailah kita ke depan pintu
gerbang kemerdekaan Indonesia, mungkin sebabnya karena kita masih di depan
pintu gerbang kemerdekaan. Belum masuk ke dalamnya”.
Maka kemerdekaan masih cita-cita.
Kemerdekaan hanya akan jadi milik orang-orang tertentu. Dahulu berjuang merdeka,
setelah merdeka kita bersikap menjajah dan terjajah. Lalu apa itu merdeka ?
Siapa yang merdeka ? Apa yang merdeka ? Bagaimana itu merdeka ?
Di kampung kita saja, telah
digelontorkan sejumlah anggaran oleh pemerintah untuk bersih-bersih kampung. Akhirnya
apa, orang kampung mati rasa terhadap kampungnya sendiri. Kalau kotor yah tugas
pemerintah kan ada uangnya. Ujungnya, saling curiga. Kotorpun di mana-mana,
bukan hanya lingkungan, otakpun di sampahnya. Sikap setan selalu berhasil masuk
ketika ada peluang maupun (r)uang. Harusnya kan membersamai, langkah strategis
pembersihan lingkungan pemerintah lakukan, masyarakat juga membangun kesadaran.
“Lalu menurutmu mbul, kemerdekaan
itu apa ?”.
Kemerdekaan itu ajang membangun
bangsa. Bangkit, berdiri, membersamai membangun negeri. Setiap dari kita punya
peran itu. Lakukanlah, meski hanya membuang sampah pada tempatnya.
“Aku punya impian, mengajak warga
kampung kita berfikir”.
“Berfikir apa, makan saja susah”.
“Kalau begitu Cerita saja.
Langkah pertama, misi kita adalah setiap teras rumah, pondok sawah, pos
kamling, pinggir sungai harus dipenuhi cerita tentang kondisi kampung kita.”
“Emang cerita bisa bawa
perubahan. Lah.., kan tadi sewaktu kamu pergi kencing, kamu cerita dulu toh,
aku mau kencing dulu”. Setelah itu, kamu akhirnya pergi kencing. Berubah toh ?.
Unyil senyum.
Allahu Akbar....Allahu Akbar....
Adzan berkumandang, ayoo nyil,
sekarang waktunya perbaiki kampung akhirat.
Komentar
Posting Komentar