Langsung ke konten utama

"Salah, Salah, Selalu Salah"


Anda buang sampah sembarangan, masuk ke got, saluran tersumbat, turun hujan, air meluap, lalu banjir.

Wartawan meliput, berita tersebar, judulnya: "Terjadi Bencana Alam, Banjir Di Kota Kita".

Alam lagi-lagi kena. Manusia semakin membenar, dengan menyalahkan segala bentuk objek di luar dirinya.

Sebaliknya, saya lebih sepakat ia disebut bencana kemanusiaan. Bukankah penyebabnya adalah manusia?. Dan memang, tidak semua salah alam. Separuhnya, mungkin sebagian besar, adalah salah manusia yang tak berperikemanusiaan dan perikealaman. Begitulah manusia. Selalu di hantui salah. Salahnya lagi, tidak ingin memperbaiki salah.

Pantas saja, takwa dan anjuran-Nya masuk telinga kiri keluar kiri, bukan kanan lagi. Disetiap jumat nama Tuhan disebut-sebut. Usai jumat perintah Tuhan diinjak-injak. Manusia memang tak luput salah, dan manusia tak pernah kalah bertingkah salah.

Bumi dia perkosa sejadi-jadinya. Melihat kerusakan, memandang kematian, menatap kepunahan, menyaksikan kebinasaan, hal yang biasa. Sepanjang tidak terjadi pada dirinya, semua sah untuk dikerjakan.

Bahkan langit pun mulai diteropong, kira-kira eksploitasi apa yang bisa dilakukan padanya.

Saya teringat dialog seorang bijak bestari.

Ketika ditanya, Wahai bijak, kenapa langit terlihat bersih ?

Ia menjawab, karena di sana tidak ada manusia.

Lembut ?, tidak. Jawaban ini sadis sekali. "karena tidak ada manusia".

Pun Gibran memberikan pernyataan: “Semakin tinggi pengetahuan dan peradaban manusia, semakin canggih teknologi dan alat bantu kehidupannya, apakah hal itu akan dan telah membuat kita semakin bijak dalam bertindak atau semakin arif dalam bersikap ?”

Jawabannya, tentu terpulang pada diri kita masing-masing.

Jika ia, kita masih manusia.

Jika tidak. Maka terima saja pengertian ilmiah dibuku-buku pemikir dunia, bahwa manusia di artikan sebagai binatang dan evolusi dari binatang. Karena bukan lagi sekali-kali, tapi seringkali kebinatangan kita muncul mencuat ke permukaan. Mencari jati diri sebagai manusia yang binatang.

Memang cerita manusia itu sulit, ada yang suka cerita tentang manusia (ilmu dan pengetahuannya) dan ada juga yang lebih suka menceritakan manusia. Mungkin lebih banyak, tidak tahu juga, karena belum ada hasil risetnya. Yang pasti di situlah letak kesulitannya. Isu individu di publik-publik kan, sementara isu publik di diamkan. Akhirnya terbalik.

...............

Tiba-tiba hp bergetar hebat, Wa Grup ribut lagi. Saya berhenti menulis dicatatan hp.

"tulisan (salah) ku lanjut lagi nanti", gumamku dalam hati.

Ku saksikan diskusi menjadi di Wa Grup sesama PMII Kaltara. Biasa, dalam menjalankan roda organisasi selalu ada dinamika yang terjadi.

Sebenarnya biasa, tapi tidak bisa dibiasakan. Karena kebiasaan buruk, dapat memberikan racun ‘bisa’ yang membuat kita lumpuh. Bisa jadi, mati.

Perihal isu, pendamping, sistem, kegiatan, keaktifan, ideologi, ruang pengetahuan, matinya lentera keilmuan, ketidakpedulian kepada aksara, buku-buku dan ruang belajarnya. Semua dibahas oleh mereka dan saya.

Salah kah kita ribut-ribut ? Tentu tidak. Karena keributan adalah upaya perbaikan.

Tengkar-tengkar dan cubit-cubitan sudah lumrah terjadi. Sebabnya juga klasik sekali. Dari masa purba sampai raja-raja, hingga lahir Kalimantan Utara. Faktornya karena dua hal saja, karena berbeda pendapat atau berbeda pendapatan.

Saya seperti berada di ruang sastra. Mulai logika, imaji, angka, huruf, tokoh, alur, latar, tema, dan amanat itu sendiri, semua di bahas tanpa luput.

Masing-masing mulai mengukur, mengamat chat demi chat yang bersambut. Antar daerah juga saling ukur, padahal ukuran kita belum tentu sama, satu dengan yang lainnya.

Sebagian yang membaca, menampilkan kerutan alis. Untuk memahami bahasa demi bahasa.

Padahal semakin anda kerutkan dan ingin membuka mulut untuk mendebat, kita hanya akan sama-sama menang. Anda menang dengan opini dan fakta anda. Sementara saya juga menang, karena bertahan dengan opini dan fakta yang saya yakini benar.

Apakah kita kalah, yah kita juga sama kalah. Anda kalah meyakinkanku. Dan saya kalah karena tidak tertarik meyakinimu.

Lalu untuk menentukan juaranya bagaimana?. Adakan saja tanding wacana, lalu masukkan di sidang MK beserta saksi dan bukti-buktinya. Biarkan kebaikan hadir dari musyawarah. Lalu dieksekusi bersama-sama. Hasil MK kan begitu, penggugat dan yang digugat selalu berakhir bersahabat.

Jadi, siapa yang salah ?

Yah, Saya yang salah, karena tulisannya saja "salah".

Bedanya, tulisan "salah" ini untuk di baca, sementara salah kita adalah dosa atau karena tidaktahu saja.

Tinggal bagaimana kita sadar.

Bahwa dosa kepada Tuhan, minta ampun kepada-Nya

Dosa kepada manusia, minta maaf kepadanya.

Dosa kepada alam bagaimana kita menjaganya. Ini yang sering kita lupa.

Lupa, bahwa kita sering salah. Salahnya lagi, lupa memperbaikinya. Akhirnya akan selalu s*l*h.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan.

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan   Pagi Minggu, 14 Desember 2025. Tepat pukul 07 pagi. Aku bersama rombongan teman asrama bertolak ke Pasar Keramat, Pacet, Mojokerto. Pasar yang sejak awal sering disebut-sebut namanya oleh teman sekamar. Pikirku, ini kesempatan untuk menyaksikan langsung, memverifikasi kebenaran cerita tentangnya. Apa benar, pasar yang terletak di lereng Pacet, Mojokerto itu, semenarik yang diceritakan. Dan, boom. Padat. Pengunjungnya dari luar pacet. Surabaya, Gresik, Malang, Tuban, sebut saja se-Jawa Timur. Hal itu tidaklah melebih-lebihkan. Karena terlihat mobil berderet panjang dengan plat berbeda-beda dan motor parkir rapi sampai ke halaman rumah-rumah warga. Kenapa bisa seramai ini pikirku ? Ada apa di dalam sana ? Ternyata, pasar keramat. Keramat bukan karena nama. Namun, keramat karena ia adalah mesin masa. Mesin waktu yang menawarkan kepulangan kita.  Sejak awal, ia berbeda dengan mall yang terletak di jantung ...

Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang

  Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang Oleh: Suriadi Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya. Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia. Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan. ...

Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering

  Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering   Oleh: Suriadi   Negeri ini ribut lagi. Jagat media sosial hampir mencapai titik paling didih membahas lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat. Seorang peserta dianggap salah karena artikulasinya dinilai tidak jelas. Sementara, menurut banyak orang yang menonton videonya berulang-ulang sambil memakai headset volume penuh, jawaban itu sebenarnya benar. Akhirnya, publik mengamuk. MPR minta maaf. Juri dan MC dinonaktifkan. Video dipotong, disebar, diulang, dijadikan meme, dijadikan bahan roasting nasional. Tabiat yang sudah lumrah ala netizen kita. Dan seperti biasa, internet Indonesia selalu bekerja sangat total ketika menemukan satu orang yang bisa dijadikan tersangka sosial. Ada yang menguliti ekspresi wajah jurinya lalu membedah intonasinya. Ada juga yang mendadak jadi pakar fonetik nasional hanya karena pernah ikut lomba pidato 17-an waktu SD. Timeline penuh dengan orang-orang yang tampaknya ...