Anda buang sampah sembarangan, masuk ke got, saluran
tersumbat, turun hujan, air meluap, lalu banjir.
Wartawan meliput, berita tersebar, judulnya: "Terjadi
Bencana Alam, Banjir Di Kota Kita".
Alam lagi-lagi kena. Manusia semakin membenar, dengan
menyalahkan segala bentuk objek di luar dirinya.
Sebaliknya, saya lebih sepakat ia disebut bencana kemanusiaan.
Bukankah penyebabnya adalah manusia?. Dan memang, tidak semua salah alam.
Separuhnya, mungkin sebagian besar, adalah salah manusia yang tak
berperikemanusiaan dan perikealaman. Begitulah manusia. Selalu di hantui salah.
Salahnya lagi, tidak ingin memperbaiki salah.
Pantas saja, takwa dan anjuran-Nya masuk telinga kiri keluar
kiri, bukan kanan lagi. Disetiap jumat nama Tuhan disebut-sebut. Usai jumat
perintah Tuhan diinjak-injak. Manusia memang tak luput salah, dan manusia tak
pernah kalah bertingkah salah.
Bumi dia perkosa sejadi-jadinya. Melihat kerusakan, memandang
kematian, menatap kepunahan, menyaksikan kebinasaan, hal yang biasa. Sepanjang
tidak terjadi pada dirinya, semua sah untuk dikerjakan.
Bahkan langit pun mulai diteropong, kira-kira eksploitasi apa
yang bisa dilakukan padanya.
Saya teringat dialog seorang bijak bestari.
Ketika ditanya, Wahai bijak, kenapa langit terlihat bersih ?
Ia menjawab, karena di sana tidak ada manusia.
Lembut ?, tidak. Jawaban ini sadis sekali. "karena tidak
ada manusia".
Pun Gibran memberikan pernyataan: “Semakin tinggi pengetahuan
dan peradaban manusia, semakin canggih teknologi dan alat bantu kehidupannya,
apakah hal itu akan dan telah membuat kita semakin bijak dalam bertindak atau
semakin arif dalam bersikap ?”
Jawabannya, tentu terpulang pada diri kita masing-masing.
Jika ia, kita masih manusia.
Jika tidak. Maka terima saja pengertian ilmiah dibuku-buku
pemikir dunia, bahwa manusia di artikan sebagai binatang dan evolusi dari
binatang. Karena bukan lagi sekali-kali, tapi seringkali kebinatangan kita
muncul mencuat ke permukaan. Mencari jati diri sebagai manusia yang binatang.
Memang cerita manusia itu sulit, ada yang suka cerita tentang
manusia (ilmu dan pengetahuannya) dan ada juga yang lebih suka menceritakan
manusia. Mungkin lebih banyak, tidak tahu juga, karena belum ada hasil
risetnya. Yang pasti di situlah letak kesulitannya. Isu individu di publik-publik
kan, sementara isu publik di diamkan. Akhirnya terbalik.
...............
Tiba-tiba hp bergetar hebat, Wa Grup ribut lagi. Saya
berhenti menulis dicatatan hp.
"tulisan (salah) ku lanjut lagi nanti", gumamku
dalam hati.
Ku saksikan diskusi menjadi di Wa Grup sesama PMII Kaltara.
Biasa, dalam menjalankan roda organisasi selalu ada dinamika yang terjadi.
Sebenarnya biasa, tapi tidak bisa dibiasakan. Karena
kebiasaan buruk, dapat memberikan racun ‘bisa’ yang membuat kita lumpuh. Bisa
jadi, mati.
Perihal isu, pendamping, sistem, kegiatan, keaktifan,
ideologi, ruang pengetahuan, matinya lentera keilmuan, ketidakpedulian kepada
aksara, buku-buku dan ruang belajarnya. Semua dibahas oleh mereka dan saya.
Salah kah kita ribut-ribut ? Tentu tidak. Karena keributan
adalah upaya perbaikan.
Tengkar-tengkar dan cubit-cubitan sudah lumrah terjadi.
Sebabnya juga klasik sekali. Dari masa purba sampai raja-raja, hingga lahir
Kalimantan Utara. Faktornya karena dua hal saja, karena berbeda pendapat atau berbeda
pendapatan.
Saya seperti berada di ruang sastra. Mulai logika, imaji,
angka, huruf, tokoh, alur, latar, tema, dan amanat itu sendiri, semua di bahas
tanpa luput.
Masing-masing mulai mengukur, mengamat chat demi chat yang
bersambut. Antar daerah juga saling ukur, padahal ukuran kita belum tentu sama,
satu dengan yang lainnya.
Sebagian yang membaca, menampilkan kerutan alis. Untuk
memahami bahasa demi bahasa.
Padahal semakin anda kerutkan dan ingin membuka mulut untuk
mendebat, kita hanya akan sama-sama menang. Anda menang dengan opini dan fakta
anda. Sementara saya juga menang, karena bertahan dengan opini dan fakta yang
saya yakini benar.
Apakah kita kalah, yah kita juga sama kalah. Anda kalah
meyakinkanku. Dan saya kalah karena tidak tertarik meyakinimu.
Lalu untuk menentukan juaranya bagaimana?. Adakan saja
tanding wacana, lalu masukkan di sidang MK beserta saksi dan bukti-buktinya.
Biarkan kebaikan hadir dari musyawarah. Lalu dieksekusi bersama-sama. Hasil MK
kan begitu, penggugat dan yang digugat selalu berakhir bersahabat.
Jadi, siapa yang salah ?
Yah, Saya yang salah, karena tulisannya saja
"salah".
Bedanya, tulisan "salah" ini untuk di baca,
sementara salah kita adalah dosa atau karena tidaktahu saja.
Tinggal bagaimana kita sadar.
Bahwa dosa kepada Tuhan, minta ampun kepada-Nya
Dosa kepada manusia, minta maaf kepadanya.
Dosa kepada alam bagaimana kita menjaganya. Ini yang sering
kita lupa.
Lupa, bahwa kita sering salah. Salahnya lagi, lupa
memperbaikinya. Akhirnya akan selalu s*l*h.
Komentar
Posting Komentar