Langsung ke konten utama

PMII dan Kongres : Momentum Perubahankah Ia ?

 





Kelahiran PMII sebagai organisasi kemahasiswaan tidak semulus jalan tol. Juang itu ditandai melalui perhelatan konferensi demi konferensi yang menjadi fakta kesejarahan terbentuknya PMII. Dan pengetahuan tentangnya, rasanya tak perlu diulas panjang lebar.

Forum-forum kaderisasi, tentu telah mengulik sejarah tersebut dengan gamblang dan jelas, penuh semangat kobar, menceritakan bagaimana para muassis PMII pada masa lalu berjuang.

Kecuali memang, forum kaderiasi tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Mengubur-matikan imajinasi kader-kader bahwa jenjang kaderisasi merupakan laboratorium pengetahuan, tangga mendaki keilmuan dan pengabdian. Melainkan, sebagai pemulusan jalan untuk mencapai agenda-agenda politik internal. Mungkin bahasan ini klasik, receh, dan remeh-temeh. Tapi tidak sedikit kader diakar rumput terjebak pada nalar tersebut. Hingga menghambat pertumbuh-kembangan organisasi dan penganutnya. 

Imbasnya, ruang kaderisasi kehilangan ruhnya, membias nilainya. Akibat dari intervensi politik dan kekuasaan internal, lebih menjadi doktrin utama dibanding intervensi keilmuan. “Ikut PKD yah de agar bersyarat untuk jadi pengurus di PMII”, sejak dini nalar itu ditanam, embrio oligarki dimuluskan. “Petunjuk dan arahan”, bisa jadi merupakan bahasa oligarki yang dihaluskan. “Dia harus jadi ketua”, “Dia jangan jadi ketua”. Kenapa teriak oligarki di luar sana, kalau kenyatannya kita menganutnya dengan sistem dan budaya yang hanya sedikit berbeda saja, takut tidak dapat kuasa karena jauh dari penguasa.

Sebagai narasi kritik atas praktik yang berjalan, tentu catatan ini bisa saja menuai kontroversi dan dianggap sebagai tuduhan. Namun, praktik pelecehan seksual, oligarki internal, kongres dan kekerasan, pengkhianatan terhadap potensi dan kelayakan, itu fakta terjadi dan dinormalisasi dengan istilah dinamika organsiasi, padahal ia telah mencoreng nilai-nilai dasar kita.

Momen kongres, tentu kita impikan menjadi inkubator untuk menyelesaikan segala bentuk masalah dan keruwetan tersebut, menghadir-ciptakan ide-ide briliant untuk keberlangsungan gerakan. Miris, harapan itu hampir tak nampak. Kini kegiatan-kegiatan kongres lebih sering diwarnai transaksi kepentingan dan bahkan tawuran. Kita mulai meninggalkan, bersamaan menanggalkan nilai-nilai dasar kita. Aktor-aktornya seolah merasa menguasai, padahal aktor-aktor tersebut yang dikuasai (bahkan menyembah) ego, ambisi dan hasrat.

Kader-kader semakin tidak mengenali dirinya, tidak memahami tugas kesejarahan apa yang harus diembannya, luput mengerti rahasia dibalik kelahirannya ke dunia di abad ini, kebingungan dalam menyadari tantangan zaman dan bagaimana seharusnya menempatkan diri dengan peran masing-masing diberbagai lini.

Tahu kenapa pada AD/ART PMII BAB XIV mengenai Permusyawaratan Pasal 12 tentang Kongres diterangkan bahwa salah satu wewenang kongres yakni menetapkan Ketua umum PB.PMII, Ketua KOPRI PB.PMII dan tim formatur diletakkan pada poin paling terakhir ?

Karena memang, kongres dilaksanakan bukan dengan maksud dan tujuan tersebut. Ia hanya salah satu, tapi bukan maksud utama. Sebelumnya, terdapat lima poin yang menjadi bahasan penting. Sebenarnya, kita menunggu-nunggu lima poin tersebut hangat untuk dibincangkan, sebelum-hingga menjelang kongres. Ia selayaknya menjadi arus utama diskusi untuk mengantar suksesi perhelatan kongres sebulan ke depan.

Sehingga sejak dini, harusnya masing-masing cabang dan kader telah bertengkar-debat, menyusun secara konseptual langkah-langkah dan praktik baik yang akan menjadi kerja-kerja teknis untuk didorong pada bahasan kongres kali ini.

Sayangnya, kita hanya menguap dan harapan itu mengawan. Justru yang terjadi, lintas daerah dan cabang hanya berkomunikasi terkait calon mana yang kuat dan aktor siapa dibelakanganya. Menjadikan gerakan cabang, tidak lebih dari sekedar mengharap jatah struktural. Kader mulai tak percaya diri tanpa oligarki. Fakta atau tuduhan, sahabat yang budiman silahkan menjawabnya.

Meminjam Dwi Winarno, dalam istilah gerakan aji mumpung, bukan hanya PB.PMII. Pun cabang, punyai model yang sama. Mumpung di kongres dan punya suara, mumpung bisa tawar menawar banyak hal, cabang pulang wajib banyak keuntungan.

Kampanye pemenangan lebih sering dilaksanakan. Namun upaya mendorong diskursif memajukan rumah pergerakan seolah tak menarik untuk dikerjakan.

Aksi-aksi pra kongres, tidak lebih dari sekedar aksi meminta dukungan. Bukan aksi-aksi berfikir cepat dan cerdas untuk menjawab tantangan zaman yang terus bergerak; menyusun kerangka gerak programatik untuk tantangan kini dan mendatang.

Penulis ingat ketika menyaksikan debat kandidat baru-baru ini yang dilaksanakan di UI. Sahabat moderator dengan sopan mengatakan “izin kaki saya silangkan karena tidak ada meja, karena PB.PMII memang tidak bagi-bagi meja melainkan bagi-bagi kursi”. Seolah ia kabar duka, betapa kongres hanya menjadi ruang rebut kuasa dan jabatan saja.

Jika demikian, mampukah kongres menjadi momentum perubahan ?

Metode menggairahkan pemikiran kaum pergerakan adalah dengan cara saling melayangkan kiritik dan tetap bersahabat. Kalaulah tulisan ini menjadi pemicu pertengkaran pikiran, maka biarkan saja terjadi. Pertengkaran pikiran itu produktif, hanya memang diperlukan kehati-hatian agar kita tidak terpancing emosi dan tetap pada koridor diskusi. Kuncinya, jangan dikuasai pandangan sempit yang menjurus pada tendensi pribadi, suka atau tidak suka. 

Jika itu bisa kita hilangkan, maka narasi kritik tidak akan dianggap lawan dan sumbang, sehingga kita tidak akan berlomba-lomba untuk saling tumbang

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit-Thoriq.

 

 

 

 


Komentar

  1. Yang penting bisa akur sama ekstra lain yang minim kader pun sudah Alhamdulillah banget sahabat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali sahabat 🙏 salam pergerakan. Terima kasih telah sudi membaca narasi2 di blog ini sahabat. Muga2 barokah dan tradisi berpengetahuan senantiasa terawat.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan.

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan   Pagi Minggu, 14 Desember 2025. Tepat pukul 07 pagi. Aku bersama rombongan teman asrama bertolak ke Pasar Keramat, Pacet, Mojokerto. Pasar yang sejak awal sering disebut-sebut namanya oleh teman sekamar. Pikirku, ini kesempatan untuk menyaksikan langsung, memverifikasi kebenaran cerita tentangnya. Apa benar, pasar yang terletak di lereng Pacet, Mojokerto itu, semenarik yang diceritakan. Dan, boom. Padat. Pengunjungnya dari luar pacet. Surabaya, Gresik, Malang, Tuban, sebut saja se-Jawa Timur. Hal itu tidaklah melebih-lebihkan. Karena terlihat mobil berderet panjang dengan plat berbeda-beda dan motor parkir rapi sampai ke halaman rumah-rumah warga. Kenapa bisa seramai ini pikirku ? Ada apa di dalam sana ? Ternyata, pasar keramat. Keramat bukan karena nama. Namun, keramat karena ia adalah mesin masa. Mesin waktu yang menawarkan kepulangan kita.  Sejak awal, ia berbeda dengan mall yang terletak di jantung ...

Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang

  Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang Oleh: Suriadi Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya. Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia. Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan. ...

Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering

  Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering   Oleh: Suriadi   Negeri ini ribut lagi. Jagat media sosial hampir mencapai titik paling didih membahas lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat. Seorang peserta dianggap salah karena artikulasinya dinilai tidak jelas. Sementara, menurut banyak orang yang menonton videonya berulang-ulang sambil memakai headset volume penuh, jawaban itu sebenarnya benar. Akhirnya, publik mengamuk. MPR minta maaf. Juri dan MC dinonaktifkan. Video dipotong, disebar, diulang, dijadikan meme, dijadikan bahan roasting nasional. Tabiat yang sudah lumrah ala netizen kita. Dan seperti biasa, internet Indonesia selalu bekerja sangat total ketika menemukan satu orang yang bisa dijadikan tersangka sosial. Ada yang menguliti ekspresi wajah jurinya lalu membedah intonasinya. Ada juga yang mendadak jadi pakar fonetik nasional hanya karena pernah ikut lomba pidato 17-an waktu SD. Timeline penuh dengan orang-orang yang tampaknya ...