MERESPON SEKOLAH
ASWAJA PMII TARAKAN
"IKHTIAR
MERAWAT TRADISI"
Kritik Kebiasaan
PMII
Baru-baru
ini, Leigh McKiernon, seorang Executive headhunter melontarkan semacam kritik
pedas pada budaya kerja masyarakat Indonesia.
Ia
sendiri sudah bekerja di Indonesia selama 6 tahun dan turut seksama
memperhatikan cara kerja masyarakat Indonesia. Pengamatan yang ia lakukan dalam
waktu tersebut menjadikan ia cukup berani melayangkan kritik bagi bangsa ini.
Menurutnya,
kita, orang Indonesia. Yah, kita. Sangat sering terlihat sibuk namun sebenarnya
tidak bekerja. Sangat sering seolah menampilkan kita bekerja padahal tidak.
Asumsinya ini, berdasar pada orang Indonesia yang ia anggap terlalu banyak
rapat dengan nama yang jamak seperti seminar, grup discussion, dialog, hingga
ground breaking, sebagai upaya menampilkan seolah bangsa ini telah banyak
bekerja padahal tidak.
Ekstrimnya,
itu adalah kemunafikan yang juga menubuh pada kita; kita juga sering
menampilkan bahwa kita seolah-olah banyak belajar padahal selembar pun tak kita
kunyah.
Akhirnya,
kita seringkali terjebak dalam rutinitas rapat yang berlebihan tanpa adanya
tindak lanjut yang nyata. Fenomena ini terlihat dalam berbagai sektor, baik di
pemerintahan, perusahaan, hingga organisasi masyarakat dan mahasiswa.
Menjamur
rapat yang diadakan, membahas isu-isu yang sebenarnya sudah sering dibicarakan.
Namun masalah tersebut tidak kunjung menemukan solusi yang konkret.
Fenomena
ini berakar dari kebiasaan yang terbentuk dalam budaya rapat yang dianggap
sebagai bagian penting dari pengambilan keputusan. Apa salah kebiasaan itu,
tentu tidak. Karena memang dibutuhkan pertemuan, semacam penyatuan beberapa
pikiran untuk menemu-kenali keputusan yang akan dikerjakan. Islam juga
menyebutnya sebagai musyarokah (musyawarah). Keterjebakannya, hasil rapat
selalu saja final dan finish tanpa gerak.
Kerapkali
rapat-rapat ini hanya berfokus pada diskusi tanpa adanya tindakan lanjut yang
jelas dan terukur, menyebabkan terhambatnya kemajuan dalam menyelesaikan
masalah yang ada.
Demikian
yang terjadi, kultur itu menggurita. Tanpa finish, dimulai pada ruang
pemerintahan merangsek masuk ke organisasi masyarakat, termasuk PMII.
Budaya diskusi yang berjam-jam dilaksanakan, acapkali tak menjadi motor penggerak bagi insan pergerakan. Pun sering terjadi, hanya iblis intelektual (baca: kesombongan intelektual) yang nampak dalam ruang tersebut.
Banyak
dari kita terjebak pada definition of definiton; dari satu pengertian ke
pengertian lain, membuah-hasilkan ideologi tak bergerak. Padahal yang kita
butuhkan adalah working definition; pengertian yang bergerak, sering ku sebut
sebagai ideologi yang bergerak. Tanpa hal itu, kebanyakan rapat dan diskusi
bisa saja menjadikan Intelektualitas tidak lebih dari sekedar lemak di otak
yang diagungkan.
Sebab
itu, ruang seperti Sekolah Aswaja jangan sekadar menjadi tukar paham, sebatas
penyamaan persepsi bahwa kita sepakat beragama harus versi A, B dan C. Padahal
ujung masalah ummat, sesungguhnya bisa diselesaikan dengan semacam rekomendasi;
langkah-langkah teknis dengan kajian terukur, sokongan program sosial dan
praktik baik lainnya.
Ujungnya,
penghargaan besar layak diberikan pada forum Sekolah Aswaja PMII Tarakan. Lebih
lagi jika dihari akhir kegiatan, terdapat rekomendasi yang akan dikerjakan.
Seperti praktik baik bagaimana mendorong Islam menyejarah pada isu-isu sosial.
Tentu, kritik pedas Leigh McKeirnon telah terjawabkan.
Epistemologi Gerak Pmii
العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر
"Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah"
Merujuk
pada adagium di atas, betapa kering jika ilmu tidak terjewantahkan sebagai
kerja-kerja teknis keummatan.
Nyanyian
ilmiah menguap dan mengawan, tulisan kritik mengendap di rak-rak perpustakaan,
orasi tidak lebih dari sekedar agenda jatah struktural.
Ilmu hari ini dibahas hanya sebagai ilmu, bukan sebagai metodologis. Filsafat kita hanya dikaji sebagi ilmu bukan sebagai metodologis. Agama pun kurang menyejarah pada kondisi sosial-masyarakat hari ini.
الإسلام علمي وعملي
"Islam itu
Ilmiah dan amaliah"
Islam
sendiri dengan terang mengatakan ia adalah ilmiah dan amaliah. Ia adalah ilmu
dan praktik. Ia adalah aqli (pemikiran) dan fi'liyah (perbuatan). Ia adalah
pengetahuan yang praktis, berdaya-guna, fungsional, berkontribusi, menubuh dan
menyejarah.
Ia
(Islam) adalah universitas dengan fakultas terlengkap, menjadikan setiap insan
saleh secara pribadi juga saleh secara sosial. Tajam pikirannya dan terukur
tindakannya. Menghindarkan kita dari pengetahuan yang kering tanpa pengamalan.
PMII
perlu merujuk kembali bagaimana sebenarnya epistemologi geraknya; apakah punya
atau telah tidak ada. Sehingga sedemikian rupa, kita mulai larut bermimpi
berlayar tapi tak pernah bergerak membuat kapal. Berdiskusi dengan ciamik dan
apik bahwa pengajian di masjid telah hilang, sementara kita menolak undangan
tabligh akbar. Justru kita memutar stir ke warkop, menormalisasi kalimat kasar
"tak elok" sambil ngopi, bercanda ria seolah semua baik-baik saja
sembari sewaktu-sewaktu menampilkan betapa pusingnya kita mengurusi ummat dan
jamaah PMII.
Asumsi
semacam ini tentu layak dikritik pun silahkan digelitik. Ia hanya guratan kecil
untuk menemu-kenali bahwa kader harus bergerak hingga menumbuh-kembangkan
bagaimana epistemologi gerak PMII perlu dikembalikan. Bagaimana PMII dengan kosmologi
dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah perlu diseimbangkan.
Sekolah
Aswaja adalah harapan kosmologi itu mewujud. Pribadi-pribadi kita akan dibentuk
di dalamnya. Kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual
adalah fakultas keruhanian yang diberikan Tuhan pada segenap kita untuk
membangun kembali universitas kemanusiaan di tubuh kader PMII. Dan Sekolah
Aswaja punya PR itu.
Forum
seperti ini juga, sehemat saya melengkapi epistemologi pendidikan kita;
,bagaimana kita mengetahui dengan otoritas (guru), mengetahui dengan wahyu
(agama), mengetahui dengan empirik (pengalaman), mengetahui dengan nalar
(logika, rasio, burhani), mengetahui dengan intuisi (irfani, qalbu, rasa hati).
Akhirnya, kita menjadi makhluk hidup, yang bergerak. Mendaki tangga Ke-Tuhanan
dengan menjadi manusia yang abdi pada kemanusiaan.
Belajar Dan Tradisi
Ulama
Belajar
adalah tradisi ulama. Dalam sejarah Islam belajar merupakan tradisi yang sangat
kuat di kalangan para ulama.
Tradisi
ini bukan hanya sekadar mencari ilmu, tetapi juga merupakan bagian integral
dari kehidupan seorang ulama. Bukan hanya ulama tapi manusia pada umumnya,
apakan lagi bagi kader PMII yang kerapkali secara berani memandatkan dirinya
sebagai ahli, cendekia, alim ilmu, agen perubahan, sosial control, khalifah,
mahasiswa dan semacamnya yang saya anggap diperlukan tanggungjawab berton-ton
terhadap kalimat itu.
Meski pada perjalanannya, mahasiswa bisa berubah menjadi mahasessa, mahasiksa, atau mahasewa. Bukan itu poinnya. Hanya ku tulis saja. Coba kita kembali, belajar adalah tradisi ulama.
لولا العلم لكان الناس كالبهائم
''Seandainya bukan karena ilmu, niscaya manusia seperti binatang''
Sedemikian pentingnya Ilmu, ia menjadi pembeda manusia dan binatang.
Tentu
tak seorang pun dari kita ingin menjadi binatang atau disebut binatang,
meskipun sering saya temui mulut kita mengucapkan umpatan binatang seolah biasa
saja, bahkan hal itu yang keren; ternormalisasi, ucapan nama binatang adalah
hal kekinian.
Bukan hanya mulut, lebih jauh lagi, keseringan mengucap nama-nama binatang menjadikan sikap kita seperti binatang, sikap kita sering kali membinatangi sesama kader PMII. Ilmu kita tak menjadi pembeda mana manusia dan binatang. Kita justru menjelma dari ruh jihad menjadi ruh jahad.
Dulu
demi ilmu, ulama terdahulu dikenal dengan semangat mereka yang tinggi dalam
mencarinya. Kerelaan melakukan perjalan jauh hingga berjam-jam waktu dihabiskan
dalam majelis ilmu untuk selembar demi selembar mencatat, mengumpul sumber
pengetahuan sebisa mereka.
Itu semua menandakan mujahadah, kesungguhan belajar. Kategori demikian benar dalam Thalibul Ilmi. Bertolak belakang dengan kondisi kita, dengan kesusahannya kita mencari peserta dalam pelatihan yang kita laksanakan. Tentu kita telah semakin jauh dari tradisi belajar bahkan mulai tak menganggap betapa pentingnya ilmu pengetahuan.
العلم يؤتى ولا يأتي
"Ilmu itu
didatangi bukan mendatangi"
Mendatangi
sumber ilmu itu kaidah wajib. Ku sebut sebagai etika berpengetahuan. Di manapun
sumbernya, PMII dengan jargon kader mujahid, mader mujtahid, kader mujaddid,
dan sederet penamaan lainnya tentu mengemban moral yang tinggi terhadap
kesungguhan mengunyah pengetahuan. Sehingga tak gentar, suplei peserta secara
berkelanjutan terjadi lintas cabang se-Indonesia. Idealnya demikian, nyatanya lintas
sekret saja susah.
Apakah
karena perubahan zaman atau kita yang berubah?
Atau
kita yang merubah? Atau kita atau kita atau kita ? Silahkan sahabat-sahabat
isi.
Bagi
saya walaupun zaman telah berubah, tradisi belajar ulama tetap relevan di zaman
sekarang. Semangat mencari ilmu, pentingnya guru dan sanad, serta akhlak dan
adab tetap menjadi nilai-nilai yang penting dalam belajar. PMII dengan kultur
ulamanya harus mencontoh tarikh tersebut.
Membentuk
Sekolah Aswaja sebagai laboratorium pengetahuan, bagi saya adalah upaya
melestarikan tradisi belajar ulama tersebut. Tradisi yang mengingatkan kita
bahwa ilmu adalah sesuatu yang berharga dan harus dicari dengan
sungguh-sungguh. Tradisi belajar ulama merupakan warisan yang sangat berharga
bagi PMII. Tradisi ini mengajarkan kita tentang pentingnya ilmu, guru, akhlak,
dan tanggung jawab dalam menyebarkan ilmu.
Jangan
sampai kita menjadi kader yang selalu mencari-cari alasan rasional untuk
menyembunyikan ketakutannya mengikuti forum belajar di PMII, selalu lihai
memberikan alasan, semacam pelarian dari rasa tak bersalah dan pelarian dari
tanggung jawab dirinya sebagai kader PMII.
Akhirnya, merespon Sekolah Aswaja. Bagi saya, ia adalah upaya-upaya darurat PMII yang dilaksanakan di tengah beradanya kader PMII dititik nadir perjuangannya. Di tengah beradanya kita antara menyerah dan terus berjuang. Penyelematan PMII layak disematkan padanya.
Seingat saya, sejarah pasti mencatat perjuangan sekecil, sebesar, selemah,
sekuat, seheroik apapun itu. Dan saya ingin menjadi orang pertama, menghibahkan
dirinya mencatat sejarah yang heroik ini.
Salamku,
Suriadi, M.Pd
(Ketua
1 Kaderisasi PKC PMII Kalimantan Utara

Komentar
Posting Komentar