Langsung ke konten utama

KIAI KAMPUNG : MISKIN BUKAN TAKDIR

 


KIAI KAMPUNG : MISKIN BUKAN TAKDIR

Sudahlah miskin kena pajak pula. Pajaknya kemudian digunakan oleh orang kaya untuk semakin kaya, korupsi mencuri uang negara.

Sebenarnya hampir ideal, pajak perusahaan, pajak orang kaya lebih mahal dari orang miskin sesuai peraturan, itu bagus. Namun faktanya, semakin besar pajak dari orang kaya semakin besar pula potensi pengelolah pajak memperkaya dirinya sendiri -korupsi, mencuri- bukan hanya dari yang kaya melainkan juga dari yang miskin.

Sehingga pajak yang seharusnya dan idealnya, aturan mainnya itu sama dengan zakat -di peruntukkan bagi kemakmuran semua warga negara khususnya miskin- tidak mengarah kepada  tujuan mulia tersebut, kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.

Karena apa?

Karena koruptor (pencuri, bajingan, bangsat-bangsat) adalah sama. Sama-sama bagian dari kapitalis nasional, yang tidak bisa hidup tanpa disiram oleh uang negara.

Bedanya, mereka (koruptor, bangsat bajingan) melakukannya dengan cara mencuri. Sementara yang lainnya melalui aspirasi politik. Jadi jangan heran, Tenaga Ahli pemerintahan kerapkali bukan ahli, karena tenaga ahli direkrut dari tim pemenangan. Dan jangan heran pula, kenapa cendekia kehilangan peran, karena tidak ahli dalam hal disiram uang negara. Pun pemuda, sama, tidak lebih dari sekadar mengharap jatah struktural.

Mungkin lebih keren, dalam rangka menguatkan pendapat ini disisipkan data-data. Semisal akumulasi zakat ummat dan total pajak hingga kenaikan persennya. Lalu peruntukkannya bagaimana. Dan sebutkan beberapa figur yang mencuri uang pajak bahkan zakat tersebut. Atau bagaimana, ahhh lain kali saja. Kita lelah.

Setelah ormas-ormas islam menerima konsesi tambang. Dampaknya lagi malas resolusi, apa lagi revolusi, sepertinya nampak kurang ngeri.

Lebih baik tidak usah mencari data, takutnya akan lebih sakit lagi melihat fakta. Mungkin lebih baik tanam pohon saja, kembali ke desa mengajak pemuda jihad tani, bagi yang hobi merusak alam kita ajak menjalani pertobatan ekologis karena ke depan reboisasi akan lebih penting daripada revolusi. Fokus pada diri kita masing-masing, kalau perlu kita targetkan perusahaan yang punya “dosa” ekologis yang akbar itu.

Fenomena alam sebenarnya merupakan cermin situasi jiwa manusia. Jika cuaca sedang tak menentu, gunung berteriak, pohon mati, air keruh, gelombang menyapu, itu adalah refleksi jiwa manusia yang terbelengggu. Jika alam semakin rusak, itu adalah tampakan nyata dari jiwa manusia yang sakit.

Kita sesungguhnya sedang sakit. Sakit yang kerapkali tidak disadari. Sakit – bukan seperti demam – dirasakan panas deritanya. Sakit yang tak disadari adalah sakit dalam kesenangan. Bayangkan, korupsi dianggap bukan sebuah penyakit melainkan kesenangan – semacam hobi – nikmat dilakukan.

Dikesempatan lain, kita berburu kesenangan yang berbeda dengan cara melupakan Tuhan. Padahal kesenangan itu sendiri datangnya dari Dia.

Sekali lagi. Semacam hobi, kesenangan yang sakit itu semakin nikmat kita lakukan - membangun jarak dari Tuhan -  itulah obsesi populer kita sehari-hari. Jalan ramai, pasar riuh yang merendahkan kita semua.

Gembul menangkap pesan itu “Sakitnya manusia kerapkali tidak disadari. Sakit bukan seperti demam yang kita rasakan penderitaanya. Sakit yang tidak disadari adalah sakit dalam kesenangan. Bayangkan, korupsi dianggap bukan sebuah penyakit, melainkan kesenangan. Semacan hobi, nikmat dilakukan’’

“Unyil tak henti menceracau! Alisnya berdiri, matanya merah penuh nanar benci. Panas hati unyil dibuatnya”.

Kabar di koran kompas tentang dua orang pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan yang tertangkap melakukan tindakan menerima suap dan gratifikasi miliaran rupiah dari sejumlah wajib pajak perusahaan, mereka merekayasa pajak itu. Bayangkan, perusahaan raksasa dengan keuntungan segunung, lebih memillih bermain curang dan enggan berbagi melalui pajak. Si miskin yang keuntungannya seumbut malah diceramahi rutin mengenai betapa pentingnya pajak. Konon akan kembali untuk kesejahateraan mereka pula. Itukan konon. Konon-konon, semacam bahasa politis, di mana menipu dianggap sebagai strategi halal. Lama-lama bahasa mereka semakin membuat kita sulit percaya, seperti mencari logo halal di botol bir, sulit, bahkan mustahil.

Puisi dari nyanyian rakyat memang lebih sering menukik tajam. Biasanya begitu, seharusnya bisa kenyang dengan sepiring nasi tapi mulut dan kelaminnya selalu berhasil mengancamnya dengan dua piring nasi. Kalau Kata Quran, mereka yang budak perut dan kelamin tidak lebih dari sekedar hewan ternak bahkan lebih rendah lagi (Al Araf 179) . Mereka itu ke sana sih arahnya.

Kejamnya lagi, mereka berhasil merealisasikan dialektika jahatnya dengan cara membangun langkah-langkah teknis dan programatik - sebut saja melalui pajak sebagai agenda memperkaya diri - untuk mengkapitalisasi kelompok tertentu. Di akhir cerita tangkapnya mereka, mereka justru seolah-olah terdzolimi, menarik simpati rakyat dengan sangat mudah. Anehnya, mungkin karena pendidikan kita semua rendah, kadang perasaan kita lebih dominan daripada logika. Akibatnya, kita juga tanpa sadar kasihan kepada mereka, bahkan membela tak gentar meski mereka salah fatal.

Sungguh, meski zakat adalah metode mengambil harta orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin. Namun beda dengan pajak, pajak seolah adalah sistem mengambil harta orang miskin untuk dibagikan kepada orang kaya. Semakin ke sini, aku semakin tidak suka melihat realitas : payah, sedih, miris, kejam, kata unyil seperti ingin memaki.

Padahal baru saja kemarin gembul dan unyil menulis pesan Kiai Kampung bernama Suriadi Bobong itu. Kiai yang memang rutin berjalan ke pinggiran, masuk ke desa-desa, menyapa anak muda, mengajak pemuda kampung untuk selalu percaya bahwa kita memang sama anak kampung tapi ingat langit kita tidak sama mendung.  Ikut berjalan bersama petani, untuk selalu percaya bahwa petani bukan hanya menanam padi namun sedang menyemai kehidupan, mempelajari kerja-kerja ekologis yang rumit nan indah, menjadikan alam sebagai subjek sebagaimana makhluk sesungguhnya, memaknai bumi sebagai cipta dari Yang Kuasa yang juga melakukan kerja-kerja kemakhlukan, ketika keseimbangan itu kita ganggu, alam bisa saja mengalami metabolisme yang seringkali kita persepsikan sebagai bencana. Maka kejadian itu harus berani kita sebut sebagai bukan bencana alam melainkan bencana kemanusiaan.

Ikut ke laut bersama para nelayan, untuk sekedar mendiskusikan bahwa semakin jauh kita mencari ikan itu artinya terdapat ekosistem laut yang rusak. Senuansa dengan itu pula, semakin jauh rakyat di pinggirkan niscaya ada pula sistem yang nyata rusaknya, dengan sengaja menjauhkan rakyat dari daulatnya.

Pesan yang unyil dan gembul tulis itu berbunyikan :

“Dunia cukup untuk kebutuhan semua manusia, namun tidak akan pernah cukup karena keserakahan seorang saja. Berkelahi berebut benar, berkompetisi mengejar kekayaan, menganiaya dan menyiksa karena tidak sepaham, memperbudak karena merasa dominan, saling memusnahkan karena perbedaan, kita perkosa alam dan lingkungan dengan dalih ilmu pengetahuan dan keberlangsungan. Sungguh wajah serakah sekarang di mana-mana”.

Unyil berharap Kiai bernama Suriadi bobong itu rutin datang ke desa nya. Untuk mengajarkan kita betapa pentingnya bijaksana yang bukan diam, bijaksana yang bukan pasrah, bijaksana yang bukan tanpa melawan. Melainkan sebaliknya, bagaimana kita bijaksana dalam keributan, bijaksana dalam perlawanan, bijaksana menggulingkan kebathilan. Sudah seharusnya demikian, melawan mereka adalah takdir keharusan.

Kembali, jika demikian kata gembul sungguh kasihan yang miskin. Sudahlah miskin kena pajak pula. Pajaknya dikorupsi lagi. Pantas saja kemiskinan tak bisa hilang. Mereka memiskinkan kita lalu mengatakan itu semua bagian daripada takdir. Namun kiai itu selalu mengatakan berbeda, miskin bukan perihal takdir.

“Bukan! Tidak! Seharusnya kemiskinan memang bukanlah takdir. Bukan, bukan takdir!”, kata unyil merespon gembul.

Tapi kenapa pula kebijakan kemiskinan seringkali dianggap sebagai nasib yang tidak bisa dihindari?

Kenapa kita mengamini serta meyakini pendapat tersebut dengan cara kebablasan: seolah tak ada ruang lain yang bisa diperhatikan, tak ada daya upaya yang bisa dilakukan, tak berkesanggupan menelurkan tafsir liar yang menyingkap kenapa kemiskinan bisa terlahir ?

Kenapa tidak berani kita menolak bahwa kemiskinan bukanlah takdir?

Kenapa tidak berani kita kampanyekan bahwa sebenarnya kemiskinan merupakan hasil dari kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil?

Kenapa takut kita beritakan bahwa sebenarnya kemiskinan muncul akibat dari kebijakan yang lebih menguntungkan segelintir elit, menyebabkan ketidakadilan sosial yang mendalam?

Kenapa kita ragu mendorong, demo berjilid-jilid untuk mengatasi kemiskinan dan menulis berjilid-jilid disertasi cendekia yang tidak hanya menjadi penghias perpustakaan desa, kenapa kita tidak berhubungan intim secara bergilir untuk membuahkan perubahan kebijakan yang benar-benar mendukung mereka yang lebih membutuhkan?

Dalam tengkar pikirnya, unyil berkesimpulan, “Kemiskinan bukan takdir, tapi hasil kebijakan yang mengabaikan rakyat kecil”. Aku sangat yakin akan hal itu. Bahkan jika hal ini ku konfirmasi ke Kiai Kampung itu, ia pasti membenarkannya. [...]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan.

Pasar Keramat Pacet: Pengalamanku menyaksikan Rindu dan Transaksi ingatan   Pagi Minggu, 14 Desember 2025. Tepat pukul 07 pagi. Aku bersama rombongan teman asrama bertolak ke Pasar Keramat, Pacet, Mojokerto. Pasar yang sejak awal sering disebut-sebut namanya oleh teman sekamar. Pikirku, ini kesempatan untuk menyaksikan langsung, memverifikasi kebenaran cerita tentangnya. Apa benar, pasar yang terletak di lereng Pacet, Mojokerto itu, semenarik yang diceritakan. Dan, boom. Padat. Pengunjungnya dari luar pacet. Surabaya, Gresik, Malang, Tuban, sebut saja se-Jawa Timur. Hal itu tidaklah melebih-lebihkan. Karena terlihat mobil berderet panjang dengan plat berbeda-beda dan motor parkir rapi sampai ke halaman rumah-rumah warga. Kenapa bisa seramai ini pikirku ? Ada apa di dalam sana ? Ternyata, pasar keramat. Keramat bukan karena nama. Namun, keramat karena ia adalah mesin masa. Mesin waktu yang menawarkan kepulangan kita.  Sejak awal, ia berbeda dengan mall yang terletak di jantung ...

Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang

  Tentang Khatib dan Jamaah di Saf Belakang Oleh: Suriadi Azan kedua baru saja selesai. Arman kembali meraba isi tasnya. Ia ingin memastikan beberapa lembar surat lamaran kerja, masihkah ada di sana. Kertas-kertas itu kelihatan mulai lusuh. Tiap sudutnya kusut akibat sering dilipat dan dibawa berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain. Di kertas itu juga termuat harapan Arman, yang telah dirawatnya berbulan-bulan lamanya. Di atas mimbar, khatib mulai berbicara tentang zuhud. Ia menafsirinya sebagai manusia musafir, yang sekadar bersinggah meladang di dunia agar bisa memanen hasilnya di akhirat. Dalam pengertian ini, zuhud menjadi lawan bagi manusia yang terlalu mengejar dunia. Suaranya tenang seperti tak dikejar apa pun. Jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Sebagian mengangguk. Separuh menunduk. Selebihnya lagi barangkali sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Karena yang datang di masjid, janganlah dikira hanya membawa dosa, ada juga yang datang membawa tagihan. ...

Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering

  Negeri +62: Salah Sedikit, Digoreng Sampai Kering   Oleh: Suriadi   Negeri ini ribut lagi. Jagat media sosial hampir mencapai titik paling didih membahas lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat. Seorang peserta dianggap salah karena artikulasinya dinilai tidak jelas. Sementara, menurut banyak orang yang menonton videonya berulang-ulang sambil memakai headset volume penuh, jawaban itu sebenarnya benar. Akhirnya, publik mengamuk. MPR minta maaf. Juri dan MC dinonaktifkan. Video dipotong, disebar, diulang, dijadikan meme, dijadikan bahan roasting nasional. Tabiat yang sudah lumrah ala netizen kita. Dan seperti biasa, internet Indonesia selalu bekerja sangat total ketika menemukan satu orang yang bisa dijadikan tersangka sosial. Ada yang menguliti ekspresi wajah jurinya lalu membedah intonasinya. Ada juga yang mendadak jadi pakar fonetik nasional hanya karena pernah ikut lomba pidato 17-an waktu SD. Timeline penuh dengan orang-orang yang tampaknya ...