KIAI
KAMPUNG: MERDEKA, YA SEPERTI KENTUT ITU
“Kemerdekaan ialah hak sebagian bangsa (orang)
Oleh karena itu penjajahan di atas dunia belum terhapuskan”
Kata unyil kepada gembul, yang sedari tadi sibuk mengunyah daun jambu.
Gembul diare, mencret, teberak, melihat kotornya perayaan kemerdekaan kali ini; seperti kentut, lega diperut tapi berbau busuk.
Daun jambu, seumum pengetahuan merupakan obat rakyat untuk mengatasi sakit-sakit seperti pantat yang tak bersahabat: mencret. Tabib rakyat sesungguhnya tak memiliki fasilitas lengkap, yang mereka tau hanyalah bekerjasama dengan alam - membangun hubungan subjek to subjek - tidak memposisikan alam sebagai objek, dapat di perkosa seenak jidat, diposisikan sebagai alat pemuas, dilacurkan untuk memenuhi nafsu manusia. Tapi hendak dikata apa lagi !. Begitulah kondisi alam hari ini, birahi manusia untuk mengeksplorasi dirinya seolah tak mengenal henti. Sebentar lagi, alam pasti akan berteriak lirih. Diperlakukan demikian tanpa jeda, ia tak lagi membutuhkan doa melainkan tindakan medis atas sakit yang dideritanya.
Tetiba Unyil panik, berak si gembul semakin parah. Keluar dari pinggiran celana. Baunya ke mana-mana.
“Mbul, pantatmu meletus. Berakmu berada di titik nadir”
“Biarkan saja baunya ke mana-mana
nyil”
Kita sudah biasa dengan bau, bahkan wangi sekalipun kita tetap di cium bau. Kita ini miskin, selalu dianggap layak dengan bau.
Miskin mulai dianggap keburukan, miskin di kasih beras raskin. Bukankah seharusnya kita diberikan beras kaya? Kenapa miskin seolah hanya layak memakan beras raskin?. Lama kelamaan miskin akan dianggap layak tidur di emperan jalan karena bahu jalanan memang layak untuk si miskin. Dan gedung? jangan ditanya lagi - tidak layak untuk kita. Paham kan mbul?, kelas kita sedang dibangun. Paradigma pembangunan sebenarnya hanya memompa kesementaraan, nanti juga akan berujung kepada kebuntuan.
BPJS gratis untuk si miskin. Konon, agar miskin diobati secara gratis. Di lain sisi, justru agar si miskin sadar diri bahwa ia hanya layak mendapat ruangan pengobatan yang memang diperuntukkan untuk orang miskin. Agar ruangan si kaya tidak dihuni oleh mereka. Pelayananannya pun berbeda. Ingin dilayani bak raja datanglah dengan kendaraan mewah. Kalau cuman becak apalagi naik kuda, bermuntahan pandangan rendah - yang berimplikasi kepada perbedaan pelayanan yang kita dapatkan. Intinya, sadar dirilah sebagai orang miskin. Miskin dibuatkan standarisasi kelayakan. Sehingga miskin memang layak dilayani apa adanya: baju bagus, anda di panggi bos. Baju kumuh, anda tak masuk rumus. Untuk ngurus KTP saja, sudah seperti diterpa topan. Susah, sulit. Dicalo lagi. Pada ruang yang lain pun berlaku hal yang sama.
Setipis apapun, tentu terletak perbedaan serius antara paham kekuasaan Istana dan gubuk rakyat biasa. Referensi mengenai fakta kekuasaan, dulu dan sekarang sangat jauh berbeda. Kini, kekuasaan terletak di singgasana penguasa. Kacamata se-modern apapun yang di gunakan, tetap hanya akan menghasilkan bahwa tak terdapat khazanah apapun dari kekuasaan rakyat - yang tak pernah berkuasa itu - bahkan di hari kemerdekaan tak ada yang bisa kita teliti, mereka tak pernah kuasa.
Hari silih berganti, negara kita masih kecanduan mengecap mekanis tambal sulam. Saking candunya, normal-normal saja meski kita ingat betul penderitaan batin dan dompet orang tua dan anak-anak yang mencari bangku dari sekolah rendah hingga universitas di negeri kita, berulang tiap tahunnya.
“Unyil mengernyitkan dahi, menyimak perkataan gembul”
Tetiba, kepalanya berat, pusing, teringat paksa rekaman pahit di otaknya. Seperti teori aristo; pengingatan kembali, unyil mengalaminya lagi.
Tiga hari lalu, ia berjalan hendak pergi meminum kopi di rumah gembul, kebetulan gembul baru saja menukar ikan hasil pancingan di sungai bolong di Warung Mamat. Di warung mamat, ikan sungai bolong bisa ditukar dua gelas kopi tumbuk khas desa mereka dengan bonus sepuluh linting rokok tembakau.
Waktu itu. Di tengah perjalanan menuju rumah gembul, unyil menyaksikan seorang warga yang memasang bendera setengah tiang di depan rumahnya. Unyil yang terkenal kritis sebagai filsuf kampung segera menghampiri. Namun, setelah secara empirik menyaksikan. Matanya menatap nanar kondisi si pemasang bendera. Ia urung menghampiri, memutar arah, kembali ke tujuan, menuju rumah si gembul.
“Unyil jalan dengan lemah”
"Alasan orang itu sangatlah
kuat, kenapa memasang bendera setengah tiang".
Barusan unyil kalah debat. Bukan kalah karena teori dan analisa. Melainkan kalah karena fakta.
Fakta mengetuk hatinya, membuka matanya: merdeka tak lagi berbaju manusia, melainkan berbaju perayaan. Bukan berbaju programatik sehingga terjadi langkah-langkah teknis memerdekakan orang, melainkan langkah teknis memeriahkan hanya pada 17-an. Maka tak heran apa yang kita sebut sebagai kemerdekaan hanya berhenti pada selebrasi yang tidak menghadirkan nilai. Menunjukkan kemerdekaan dalam gelaran festival, lomba dan wujud kesenangan lainnya memang sah-sah saja dan itu juga perlu. Namun, selebrasi kemerdekaan memerlukan eksplorasi mendalam mengenai makna dan nilai-nilai lebih.
Pertunjukan kemerdekaan kita juga terbilang sangat kering. Kemerdekaan kita dimaknai sekadar festival, sebatas panggung perayaan. Kemerdekaan seperti ini adalah kemerdekaan simbolitas yang tak merdeka. Apa yang ditampilkan dalam festival kemerdekaan bukanlah kemerdekaan, melainkan pagelaran biasa yang menampilkan jubah kemerdekaan. Kemerdekaan yang sebenarnya ada pada pelaku kemerdekaan sehari-hari yakni masyarakat itu sendiri. Tetapi, mereka jarang diapreasiasi. Bisa dibilang mereka justru dieksploitasi.
Maka perhatikan saja, setelah perayaan kemerdekaan selesai, semua sirna. Kaya tetap kaya, miskin tetap miskin. Tak ada lagi pemerintah yang patriotik, tak ada lagi bupati yang heroik, tak ada lagi dewan yang superoik, menjadi wakil-wakil manusia untuk menyelesaikan masalah bagi mereka yang teramputasi kemerdekaannya.
“Orang itu memasang bendera setengah
tiang, karena ... “
unyil bingung kalimat dan tulisan apa yang bisa menjelaskannya.
Tersisa kita yang harus berupaya
menyusun lembaga perwakilan yang baik itu. Yang tetap heroik, patriotik,
superoik walaupun bukan dalam bulan merdeka. Mau tidak mau kita harus mau.!
Jika tidak, kita hanya mampu merepet di tepi-tepi saja tanpa proklamasi
merdeka.
***
Tok tok tok ...
“Assalamu'alaikum ..”
“Wa'alaikumsalam”, balas gembul.
“Nyil, mari nyil, kopi dan rokok
sudah siap”
Hening, unyil tidak menjawab, unyil kehilangan semangat.
Padahal mereka telah berjanji akan merayakan kemerdekaan dengan cara apapun. Walaupun mereka tidak masuk sebagai pengguna anggaran 85 milyar seperti tahun lalu. Meskipun demikian, Gembul tetap menginisiasi walau hanya dengan memancing saja, dengan harapan hasilnya akan ditukarkan kopi dan rokok ke Pak Wowo pemilik Warung Mamat. Bagi Pak Wowo, membeli atau barter hasil pancingan, ubi, daun singkong milik rakyat adalah rupa kehadiran kelompok mapan untuk menjangkau kelompok tidak mapan. Pak Wowo, benar-benar representasi wakil rakyat. Simbol pemerintah yang peduli. Tentu kita berharap, di pelosok desa yang lain banyak bermunculan Pak Wowo - yang sangat suka makan dari hasil rakyat dan hasil alam negeri ini – bukan makan dalam maksud yang lain.
“Unyil tetap diam”. Membuat gembul sedikit kecewa. Merasa usahanya sia-sia.
Unyil tau raut wajah gembul, kecewa itu nampak. Berceritalah unyil, tentang apa yang baru saja ia alami: mengenai si pemasang bendera setengah tiang.
Setelah mendengarnya, gembul berteriak keras. "Aduuuuuh, aduhhhhh”
Perut gembul terasa amat sakit. Kedua tangannya memegang keras perut buncitnya sembari berguling ke kiri dan ke kanan. Efek cerita si unyil, sampai membuat si gembul menderita sakit perut, mencret sampai hari ini sudah seminggu lamanya.
***
Namun, Unyil itu filsuf kampung, cerdas. Ia tahu mencret gembul itu mencret musiman. Gembul hanya mencret pada saat agustusan. September nanti, pasti sembuh dengan sendirinya.
Jadi, biar saja bau tai si gembul menghiasi perayaan lagi. Agar yang lain juga tau bahwa alasan gembul mencret akibat melihat kotornya perayaan kemerdekaan kali ini; seperti kentut, lega diperut tapi berbau busuk.
***
Tiba-tiba. Kiai Kampung Suriadi Bobong datang, ia menjenguk gembul yang sakit perutnya.
Tanpa basa basi. “Unyil, mana daun jambu itu. Ambil lesung batu. Tumbuk halus lalu rebus dan saring ampasnya. Berikan kepada gembul”
“Gembul, minum air rebusan daun jambu ini sehari 2 kali”
Saat ini, kita rakyat, hanya bisa diobati dengan cara rakyat itu sendiri. Seperti mencret dan daun jambu: praktik kerakyatan untuk rakyat. Pemerintah perlu belajar itu.
Kiai Kampung melanjutkan: Setiap perayaan merdeka, jika pikiran kita tidak merdeka mencari arah-arah baru, alternatif-alternatif lain, yang dengan gagah berani kita pikirkan, diskusikan secara terbuka dan penuh kejujuran. Pada akhirnya, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus hanya menjadi “historical irrelevance” : perayaan kemerdekaan yang tercabut dari nilai kemerdekaan. Yang penuh kebohongan dan jauh dari substansial sejarah bangsa ini.
Pada akhirnya, tiap Agustus kita hanya akan mendengar kentut-kentut merdeka dari podium-podium, mimbar-mimbar, yang sesaat lalu hilang. Dan hanya busuknya yang membekas, lalu merdekanya tak tertangkap.
Pak Kiai, Pak Kiai...... “Marine datang. Umar ditahan karena bendera bajak laut”. Teriak seorang warga yang berlari menuju rumah gembul dengan ngos-ngosan!
[bersambung...]

Komentar
Posting Komentar