KIAI KAMPUNG : PIPIS YANG MEMERDEKAKAN
Maghrib berhias
senja, orens jingga menyita mata.
Pada maghrib itu,
dari penyaksian keindahan terhadapnya. Dalam renungnya, unyil bersaksi
"Sungguh, keindahan ini hanya Tuhan hadiahkan bagi para pejalan kaki yang pulang
dari sawah untuk menjemput maghribnya". Tiba di depan rumah, ia lalu disambut
istri dan si kecil temon. Bahagia sekali, hayat unyil bercampur imaginasi
enstein.
“Boaaarrrr”. Gembul
menginjak papan lantai yang jabuk hingga terkoyak. Badan gemuknya memang sering
merusak. Renungan hilang, gembul merusak imaginasi itu. Padahal sedikit lagi
unyil hampir tiba pada perenungan tingkatan wali:
Akal unyil bertanya
‘’Ketika memandang pohon apa yang kau lihat?’’
Intuisi unyil menjawab
“Ketika memandang pohon, yang kulihat bukan pohon. Melainkan keindahan daun
yang hijau. Begitu juga langit, yang kulihat bukan langit. Melainkan biru yang
indah. Di balik itu semua, terdapat Yang Maha Indah”.
Sayangnya, sebagian
manusia seperti mayat hidup - memandang
pohon yang dia lihat adalah uang, tebang, ganti dengan sesuatu yang
menguntungkan.
Akal dan hati unyil
mewujud. Sastra cinta dan kidung Ilahi ia hidupkan maghrib ini. Tak berlangsung
lama, gembul selalu saja datang , ahhh ... masalah.
Tak perduli, unyil
sedang apa. Dibaliknya tubuh kecil itu menghadapnya. Tanpa basa basi, langsung
gembul bacakan naskah yang baru saja ia ambil, naskah itu sebelumnya tertempel
ditembok istana. Menurutnya, naskah ini penting diketahui unyil yang terkenal
dengan ide-ide briliannya, jika unyil sepakat akan ia gandakan dan sebarkan mulai
di meja istana tempat jual-beli jatah penguasa, sampai ke pasar rakyat tempat jual-beli
penyangga nafas masyarakat.
Mulai ia bacakan
naskah tersebut.
*********
Sewaktu berkunjung ke
rumah teman, ada tetangganya yang ditanya oleh petugas tingkat RT. Alisnya
membukit, kumisnya mengeras, matanya melotot, ingin menelan rakyatnya.
“Kenapa engkau tidak memasang
bendera di depan rumah haa?” Bentaknya!
Yang ditanya : “Ia hanya
diam, berlalu pergi dan tidak menjawab”.
Apakah dia takut
melihat ekpsresi petugas itu? Kenapa dia tidak membalas? Kenapa dia takut? Aku
harus turun tangan.
Petugas itu ku tegur
dengan tatapan tajam, lantas.
:“Hoyyy, jangan kejar
dia dengan pertanyaan demikian”
Coba lihat dari
ekspresi wajah dan tubuhnya, mungkin ada alasan mengapa dia tidak memasang
bendera!”.
Bisa saja karena ia tidak
bisa membeli bendera. Atau Karena tidak paham sejarah. Atau ia merasa belum
pernah merdeka?”
Anda yang baru saja
menjadi petugas tingkat RT, telah berani-beraninya menjadi hakim bagi rakyat
kecil. Bukankah pemangku kebijakan seharusnya menjadi pengacara bagi mereka?. Kenapa
terbalik, kita yang hari ini ternyata memang lebih sering menjadi pengacara
bagi diri sendiri dan menjadi hakim bagi yang lain. Termasuk menjadi hakim bagi
orang kecil dan pengacara bagi orang besar.
Seharusnya anda
mencari tau, Kenapa demikian: ia enggan memasang bendera ?
Bisa saja setelah
merdeka, kita justru bersikap menjajah. Sehingga kita memang harus bertanya
lebih jauh, apa itu merdeka ? Siapa yang merdeka ? Dan bagaimana itu merdeka ?.
Perayaan kemerdekaan
kali ini, sungguh masih sama seperti tahun kemarin. Hanya milik segelintir
orang yang telah merdeka .
Anak di lampu merah
bhayangkara Nunukan, ia belum merdeka, karena harus meminta-minta hanya agar
dapat makan (merdeka) hari ini.
Sementara anak di
cafe, ia merdeka, karena tidak perlu berjuang meminta. Cukup duduk tenang,
makanan datang.
Usia mereka sama,
nasibnya berbeda. Yang satu merdeka, satunya lagi terjajah. Penjajahan di atas
dunia belum terhapuskan. Bukan begitukah negara hari ini?
Setiap kemerdekaan,
kita selalu merayakannya dengan pendekatan dialogis. Berujung pada kita yang
paham sejarah merdeka, tapi kehilangan rasa merdeka dan bagaimana rasa itu
menjadi nilai yang mengkompasi cara kita hidup.
Belum lagi keberadaan
si miskin akan dimanfaatkan pemerintah konoha memeras si kaya, begitu dalilnya.
Kondisi ini tentu sangat menguntungkan bagi para pencari suara pesta.
Benar juga sih, orang
miskin harus selalu ada, agar aktor politik selalu punya cara mengenalkan
dirinya sebagai orang baik. Beri-beri sumbangan misalkan?
Saya ragu, andaikan
orang miskin tersisa tiga orang saja. Apakah aktor politik itu punya cara lain
mengenalkan dirinya?, Misalkan lompat dari tower mungkin ?
Pantas saja
kemiskinan selalu ada, mungkin memang sengaja dipertahankan. Pertama, agar ada program, kena potong
20%. (Kapitalis nasional yang tidak bisa hidup tanpa di siram uang negara). Kedua, agar terkenal sebagai orang baik
(meningkatkan elektabilitas dan popularitas dengan cara jahil). Seperti itu
bahasa para analis bukan penulis.
Lihat,
pemimpin-pemimpin negeri ini sibuk mengurus pos-pos jabatan yang hendak diisi.
Mereka lupa, bahwa semakin hari, semakin banyak penduduknya yang terpapar asam
lambung.
Premis di atas
mungkin masih akan digugat. Apakah premis sekunder atau primer. Realitasnya,
instrumen pengukur kadang tidak mengena. Konklusinya, premisnya jadi primer.
Saya ingat pesan
seorang bijak, berkata ia : "Jadilah aktivis yang suka berdiri di atas
tanah bukan menari di langit sana" .
Sanggupkah?
Sepertinya tidak! Karena hari ini, gerakan kita tidak lebih dari sekedar
mengharap jatah struktural. Membersamai perjuangan para petani dan nelayan di
desa-desa tak lagi nampak hebat. Padahal
.... aahhhh sebelum di jelaskan, bolehkah kutarik lebih jauh lagi ke belakang.
Kalau perlu hingga di masa ke-Nabian.
Ibrahim dengan
revolusi tauhidnya. Isa dengan revolusi semangatnya. Dan Muhammad dengan
revolusi orang miskin, budak dan orang-orang malang.
Sayangnya, saya mulai
heran. Sekarang, berjuang melawan sistem kelas tidak lagi dibangun-rancangkan,
dibangun-artikan sebagai sunnah para Nabi dan tugas mulia kenabian. Justru dianggap
kerja-kerja kritik tak jelas. Kita tidak mampu menemu-kenali kebutuhan
masyarakat dewasa ini, gagal menurunkannya pada level
taktis-strategis-administratif-pergerakan sehingga dapat dikontekstualkan pada
kehidupan saat ini. Kesalahan membaca masalah bangsa, akan membuat kita juga
salah dalam memberi solusi. Apa lagi jika pemimpin malas baca, jadi penguasa
hanya karena kaya untuk kaya.
Miskin, malang,
marginal, kelompok rentan, apalah sebutannya, terserah. Jutaan sampel itu bisa
jadi akan berubah, jika di setiap kampung, di sudut desa, di bawah pohon, di
pinggir sungai, di pos kamling, di mana saja, ada dua tiga orang seperti unyil
dan gembul yang selalu memulai bercerita tentang bagaimana arus bawah harus
berubah.
Saya yakin momentum
revolusi akan tiba secepatnya, jika budaya diskusi terawat rapi di ruang
akademik versi plato bukan versi perguruan tinggi.
Tapi, dimulai dengan
cerita, apakah bisa ?
Pasti bisa, karena
saya juga izin kencing terlebih dahulu (cerita) sebelum pergi kencing
(merealisasikannya).
Demikianlah. Kita
harus banyak izin kencing. Maka mulailah merdeka dengan berani berkata “Aku mau
kencing”.
****************
"Pipis Yang
Memerdekakan" dalam karyanya Kiai Suriadi Bobong, sambut unyil.
“Looooohhhhh, Kok
Unyil tau tulisan ini? Gembul heran, dari mana unyil tau nama penulisnya?
Apakah unyil telah lebih dahulu membacanya. Apakah saat ini unyil sedang
merenung sampai menembus batas-batas dimensi?
Apakah unyil sedang berdialog
dengan semesta ?
Gembul, dengar ini.
“Semesta selalu punya
caranya sendiri menggulung keserakahan dan ketamakan, aku hanya takut semesta
melakukannya dengan menggelapkan langit dan membolak-balikkan gunung”. Sebelum
itu semua terjadi, maka biarkan ku nikmati maghrib ini - berharap semesta sudi
sekali lagi bekerja secara rumit - menelurkan para "Pahlawan" -melawan
itu semua, untuk kemerdekaan. [...]
“TANGGAPAN BANG ROS, SANG DOSEN UNU KALIMANTAN"
Wah, tulisan Suriadi
ini, kalau boleh saya katakan, penuh dengan hikmah yang dibalut dengan humor
yang segar. Seperti sedang menikmati hidangan gurih tapi pedas, yang membuat
kita merenung sambil tertawa kecil. Mari kita tanggapi dengan gaya yang tidak
kalah filosofis.
Jadi begini, ketika
tetangga itu ditanya soal bendera, mungkin dia sedang merenung dalam diam,
menghayati makna kemerdekaan dalam versi kontemplatif ala filsuf Yunani. Dalam
benaknya, dia mungkin sedang berdialog dengan Socrates, mempertanyakan hakikat
dari sebuah bendera: "Apakah memasang bendera di depan rumah adalah simbol
nyata dari kemerdekaan, atau sekadar ritual yang tak bermakna?"
Kita pun tak perlu
jadi Sherlock Holmes untuk menebak alasan dia tidak memasang bendera. Mungkin
dia sedang berhemat demi masa depan yang lebih cerah. Atau mungkin dia tidak
paham sejarah, seperti yang dikatakan, sehingga baginya, memasang bendera sama
absurdnya dengan menonton sinetron tanpa mengikuti alur ceritanya. Atau, yang
paling tragis, mungkin dia merasa belum merdeka, masih terjajah oleh beban
hidup yang tidak kunjung usai.
Ah, merdeka. Sebuah
kata yang terdengar begitu merdu, tapi kadang terasa hampa bagi mereka yang
masih berjuang di jalanan. Anak di lampu merah Bhayangkara, Nunukan, mungkin
sedang berpikir, "Apa arti kemerdekaan kalau perutku masih kosong?"
Sementara anak di kafe hanya perlu menunggu makanan datang, seperti menunggu
update status dari gebetan di sosial media.
Dan mari kita lihat
para politikus yang dengan gemilang memanfaatkan kemiskinan sebagai panggung
sandiwara. Mereka beraksi bak pahlawan, tapi di balik layar, ada skenario licik
yang membuat kita bertanya-tanya, "Apakah mereka benar-benar peduli, atau
sekadar mencari popularitas?" Mungkin kita perlu mempertimbangkan cara
baru untuk mengenalkan diri, seperti lompat dari tower, siapa tahu bisa viral.
Namun, di tengah
ironi ini, ada pesan mendalam dari para bijak. Seperti kata seorang bijak yang
pernah saya dengar, "Jadilah aktivis yang suka berdiri di atas tanah,
bukan menari di langit sana." Ah, betapa sulitnya menari di tanah yang keras
dan berdebu, sementara menari di langit terdengar lebih menyenangkan, meski
hanya dalam mimpi.
Lalu, apakah kita
masih mampu menggerakkan perubahan seperti para nabi terdahulu? Mungkin kita
butuh lebih banyak diskusi di bawah pohon, di pos kamling, seperti Unyil dan
Gembul yang selalu memulai cerita. Karena, seperti kata Suriadi, revolusi bisa
dimulai dari cerita kecil, seperti izin kencing sebelum pergi kencing. Simpel,
tapi penuh makna.
Jadi, mari kita mulai
dari cerita-cerita kecil, siapa tahu suatu hari nanti, cerita itu akan mengubah
dunia. Dan jangan lupa, izin kencing dulu sebelum merealisasikan ide-ide besar.
Terima kasih, Suriadi, atas pencerahannya yang menggelitik jiwa dan pikiran.

Komentar
Posting Komentar