Kita semua Religius sampai ada Peluang
Oleh: Suriadi
Tahun 2015, ketika status saya masih mahasiswa Strata 1 di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Gazali Bulukumba, hidup rasanya belum lengkap kalau belum begadang sembari mendialogkan Islam bergenre liberal dan kiri. Mencakapkan teori-teori yang kadang lebih rumit daripada isi dompet anak sekret.
Bersama sahabat-sahabat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Al-Gazali Bulukumba, diskusi biasa digelar di sudut sekretariat, sesekali di warkop murah, atau di teras kampus yang lampunya sering redup—seolah ikut menyesuaikan nasib mahasiswa akhir bulan.
Itulah kenangan manis, awal saya berta'aruf dengan wacana kiri Islam dan ide-ide Islam liberal.
Dulu itu, saya kira orang-orang yang rajin mengutip ayat otomatis punya hubungan akrab dengan keadilan. Ternyata tidak juga. Ada yang begitu banyak hafal dalil tentang amanah, kenyataannya tetap saja merasa nyaman hidup dari sistem yang amburadul.
Teman-teman di Lakpesdam PCNU Bulukumba kadang merespon hal seperti itu melalui "candaan" : Yaaah, mungkin karena selama ini dia terlalu sering membaca agama seperti membaca petunjuk penggunaan rice cooker. Yang penting bunyi tombolnya, tanpa perlu memahami cara kerjanya.
Dari candaan itu pula, ada sesuatu yang saya anggap penting untuk dipercakapkan lintas zaman, yaitu akal dan agama.
Akal, bagi saya, bukan cuma alat untuk membedakan mana sendok dan mana garpu. Akal adalah kemampuan batin untuk curiga pada keadaan. Akal adalah kesadaran batin yang berdaya tembus melebihi penglihatan mata. Akal membuat manusia tidak berhenti pada “apa”, tapi nekat bertanya “mengapa”.
Contohnya, mata melihat antrean, sementara akal melihat ketimpangan. Sebagai misal dan perbandingan kasuistik yang lain: mata memang melihat proyek bantuan makan, tapi pada saat yang bersamaan, akalnya juga bertanya, apakah itu benar soal gizi rakyat, atau soal gizi elektoral?
Makanya saya selalu merasa membaca al-Qur’an tidak boleh berhenti di tenggorokan. Pertama, kita membaca teksnya. Ini tahap paling dasar, memahami ayat dan pesan moralnya.
Kedua, membaca apa yang ada di balik teks. Tujuannya untuk kesepakatan bahwa ayat tidak turun di ruang seminar hotel berbintang. Dalam jamak literatur, oleh Tuhan kepada para utusan, wahyu jatuh di tengah pasar yang curang, politik yang licik, orang miskin yang diperas, dan elite yang rakus. Jadi aneh juga, kalau hari ini ada orang membaca al-Qur’an sambil pura-pura netral melihat ketidakadilan.
Dan ketiga, mungkin yang paling sulit, yaitu membaca apa yang ada di depan teks. Membawa pesan moral al-Qur’an masuk ke situasi hari ini. Ini penting, karena kitab suci yang tidak sanggup berdialog dengan kenyataan akan berubah jadi barang antik. Ia dipajang dan dihormati, tapi sayangnya tidak dipakai.
Barangkali itu sebabnya, Muhammad Iqbal, filsuf dan penyair dari Pakistan pernah menyindir umat Islam. Bahwa ada penyakit lama umat Islam yang oleh Muhammad Iqbal disebut sebagai kecenderungan "membaca al-Qur'an dengan penglihatan orang mati".
Dan semakin ke sini, saya makin paham maksud sindiran itu. Kita hidup di zaman ketika orang gampang tersentuh oleh ceramah, tapi kurang terganggu oleh ketidakadilan. Kalau ada peluang ikut menikmati, nuraninya bisa mendadak fleksibel. Kritik bisa berubah jadi syukur hanya karena kebagian jatah.
Sebagai misal, lihat saja bagaimana sebagian orang menyikapi program-program populis negara hari ini. Meski di perhadapkan dengan nafas anggaran pendidikan yang kian sesak, layanan kesehatan compang-camping, kasus keracunan muncul, makanan terbuang, sampah menumpuk. Semua itu mendadak terasa tidak penting kalau ada peluang mengelola proyeknya.
Lucunya, di sana itu, terdapat orang-orang yang tadinya cerewet soal moral, sejurus saja mendadak menjadi ahli fiqih keuntungan, atau ahli ekonomi syariah. Membungkus proyek dengan kalimat manis. "Ini rezeki”, “ini peluang dan jalan dari Tuhan”. Seakan tidak terpikir olehnya, barangkali yang datang itu bukan hadiah, tapi ujian.
Jangan mengira ujian Tuhan cuma berupa kehilangan. Bisa saja, ujian paling berat adalah ketika manusia diberi kesempatan menikmati sesuatu yang sebenarnya bermasalah, lalu ia diminta untuk memilih, apakah tetap waras atau ikut antre.
Saya masih ingat seorang kawan bernama Askar. Sekarang ia jadi Komisioner Bawaslu Kabupaten Kepulauan Selayar. Badannya tinggi, besar, suaranya berat. Tipikal orang yang kalau duduk di forum, kursi plastik biasanya mulai gelisah. Tapi untungnya, yang besar bukan cuma badannya—isi kepalanya juga. Maka kalimat ini jelas pujian, bukan body shaming berkedok satire.
Dulu, di sela obrolan kopi dan asap rokok yang lebih pekat daripada masa depan mahasiswa, ia pernah berkata kira-kira begini: kritis itu penting, belajar itu penting, sebab kebodohan itu kotoran yang mesti dibersihkan pelan-pelan dari kepala manusia. Mungkin itu juga alasan mengapa Al-Qur'an berkali-kali melempar pertanyaan yang nadanya seperti sindiran lembut: “apakah kalian tidak berpikir?”
Dan memang lucu, kitab suci sibuk menyuruh manusia berpikir, sementara sebagian manusia justru marah setiap kali ada yang mulai berpikir terlalu jauh.
Dari sana sebetulnya, problem manusia sepertinya bukan kekurangan ayat. Tapi bagaimana mendialogkan ayat itu dalam ruang percakapan, guna diajak bekerja dalam pengertian yang lebih konteks dan operasional. Alatnya adalah akal yang berpikir.
Ini urgen. Karena semakin ke sini, kita semakin lihai, terlalu lincah tapi salah-salah. Kita terlalu pandai mencari cara agar tetap bisa merasa saleh tanpa perlu repot-repot berlaku adil. Bisa dibilang, kita lebih suka pengertian iman yang terang ketimbang mengalami iman.
Sebab itu, kalau agama tidak direspon dengan keberanian intelektual guna mendialogkannya dengan konteks kekinian. Maka dimungkinkan agama ini akan kehilangan fungsinya sebagai daya etik yang memberikan orientasi kepada kebijakan publik, termasuk menjadi kekuatan kritik kepada kebijakan-kebijakan yang merugikan publik.
Contohnya saja dalam program populis negara hari ini. Ada banyak yang sulit membedakan, apakah “itu kehendak Tuhan”, "kebutuhan rakyat" atau "kehendak anggaran"?
Lalu pertanyaannya, di manakah suara orang-orang yang otoritatif dalam agama ini?. Di ruang mana mereka sedang berbicara ?. Dan apa yang sedang mereka bincangkan?

Komentar
Posting Komentar